Financial Market Update

IDR10 : 7,26% - 7,28% (cl: 7,27%)
IDR5 : 7,20% - 7,22% (cl: 7,22%)
UST10 : 4,62% - 4,65% (last: 4,63%)

IDR : 17.878 - 17.947 (cl: 17.880)
DXY : 101,03 - 101,20 (last: 101,17)
JCI : 6.284,88 - 6.394,69 (cl: 6.334,48)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +2bps to 7,22%
FR0108 (10yr) : +1bps to 7,27%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,30%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,28%

Point of Interest:

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada RDG hari ini 22 Juli 2026 sehingga menghentikan siklus pengetatan agresif setelah kenaikan kumulatif 100 bps selama Mei-Juni 2026. Keputusan tsb di luar ekspektasi slim majority konsensus berdasarkan survey Bloomberg yg memperkirakan kenaikan sebesar 25 bps ke level 6,00%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan menahan suku bunga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas Rupiah dan bahwa perluasan insentif lebih efektif daripada kenaikan suku bunga untuk menstabilkan kurs tanpa mengorbankan daya beli domestik.

BI mengumumkan sejumlah kebijakan insentif baru, meliputi perluasan insentif hedging swap, penyempurnaan kebijakan likuiditas makroprudensial, peningkatan insentif investasi portofolio asing, serta penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 6% (efektif 1 September 2026) bagi bank yang mengurangi kepemilikan obligasi dan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor prioritas. BI juga menegaskan akan melanjutkan intervensi di pasar valas onshore dan offshore guna menjaga stabilitas rupiah.

BI mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9%-5,7% sama seperti proyeksi pada RDG bulan lalu. Gubernur BI menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi masih tetap ditopang oleh konsumsi, belanja pemerintah, dan stimulus.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa keputusan menahan suku bunga berpotensi menekan Rupiah lebih lanjut ditengah risiko dari eskalasi Timur Tengah. Namun, analis HSBC Andre de Silva berpendapat bahwa daya tarik carry Rupiah masih berpotensi berlanjut. Siklus pengetatan agresif oleh BI sejak Mei mulai tercermin dalam kinerja pasar dan arus modal, tercermin dari kinerja Rupiah yang dinilai telah mengungguli mata uang regional termasuk INR dan PHP sejak awal Juli.

AS memperluas serangan udara ke Iran, untuk pertama kalinya menyerang kota Tabriz di barat laut sejak eskalasi kembali meningkat dua minggu lalu. Presiden Trump dan pejabat Iran mengisyaratkan bahwa pembicaraan damai tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Pasukan Houthi di Yaman mengumumkan embargo ekspor Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb yang memperburuk risiko pasokan minyak global. Analis menyebut kondisi tsb sebagai “two chokepoint problem” bagi pasar minyak. Akibatnya harga minyak Brent naik dan sempat menembus $95/barel meskipun kembali ke area $93/barel.

Pemerintah resmi memulai bookbuilding penerbitan Panda Bond berdenominasi CNY dengan tenor 3 dan 5 tahun. Kisaran imbal hasil sebesar 1,79%-2,39% untuk tenor 3 tahun dan kisaran 1,96%-2,56% untuk tenor 5 tahun dengan tanggal setelmen penerbitan ditargetkan pada 30 Juli 2026.

Presiden Prabowo melakukan reshuffle di Kejaksaan Agung, dengan mengangkat Kuntadi sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Asep Nana Mulyana sebagai Wakil Jaksa Agung, serta Leonard Eben Ezer Simanjuntak sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum. Perombakan ini menjadi perhatian investor mengingat implikasinya thd persepsi tata kelola pemerintahan dan kepastian hukum.

Presiden Prabowo resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Investor akan mencermati realisasi serapan anggaran dan eksekusi perbaikan tata kelola program MBG sebagai program prioritas pemerintah di bawah Kepala BGN baru tsb.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,27% (ytd: +123bps) sejalan dengan sentimen risk-off dan kenaikan harga minyak yg meningkatkan kekhawatiran terhadap beban fiskal Indonesia.

IHSG melemah 0,09% ke level 6.334,48, memberikan jeda pada tren penguatan selama sembilan hari terakhir yg disebabkan oleh aksi profit taking investor asing, dengan net jual mencapai Rp1,11 triliun. Volume perdagangan mencapai 46,42 miliar lembar saham senilai Rp18,56 triliun. Pelemahan IHSG terutama disebabkan oleh sektor transportasi -1,73% dan kesehatan -1,09%.

Rupiah menguat tipis 0,02% ke level 17.880 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.883. Rupiah tetap menguat meskipun BI mempertahankan suku bunga hari ini, seiring sentimen pasar yg sedikit terbantu dari pengumuman paket kebijakan baru serta komitmen BI untuk melanjutkan intervensi menstabilkan Rupiah.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP