Financial Market Update

IDR10 : 7,23% - 7,26% (cl: 7,26%)
IDR5 : 7,17% - 7,21% (cl: 7,20%)
UST10 : 4,54% - 4,58% (last: 4,58%)

IDR : 17.942 - 17.995 (cl: 17.942)
DXY : 100,65 - 100,99 (last: 100,99)
JCI : 6.191,04 - 6.249,90 (cl: 6.231,78)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +2bps to 7,20%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,26%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,26%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,26%

Point of Interest:

Serangan militer AS dan Iran yang berlanjut sepanjang akhir pekan mendorong harga minyak Brent menembus $90/barel, dan sempat menyentuh $91,42 (+3,8% intraday), level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Kondisi tsb kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, serta dampaknya terhadap potensi kenaikan inflasi.

Harga rata-rata bensin di AS meningkat menjadi $3,99/galon dari $3,87/galon pada pekan sebelumnya.

Kekhawatiran terkait tensi perdagangan AS-China kembali menjadi sorotan setelah Presiden Trump mengklaim bahwa China campur tangan dalam pilpres AS tahun 2020. Klaim tsb mengancam gencatan perdagangan yang sempat membaik setelah meredanya aksi saling balas tarif tahun lalu, sekaligus memperparah hambatan pengiriman barang yang sedang terjadi di tengah konflik Timur Tengah.

Data indeks sentimen konsumen AS bulan Juli 2026 (University of Michigan Index) naik ke 54,4 (survey: 51,0), merupakan kenaikan selama dua bulan berturut-turut dan level tertinggi sejak Februari 2026. Perbaikan ini didorong oleh penurunan harga bensin, dengan ekspektasi inflasi satu tahun turun menjadi 4,2% dari 4,6%. Sementara itu, ekspektasi inflasi untuk lima tahun tetap di 3,3%, yang merupakan level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Hasil polling Reuters (update 13–20 Juli 2026): Sebanyak 20 ekonom (dari total 33 ekonom atau lebih dari 60%) memproyeksikan kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps ke level 6,00% pada RDG BI 22 Juli 2026. Selain itu, tingkat suku bunga fasilitas deposit dan lending juga diperkirakan naik 25 bps masing-masing ke level 5,00% dan 6,75%.

Hasil survey Bloomberg justru mencatatkan ekspektasi konsensus yang terbelah (split view) antara hold dan kenaikan 25 bps. Namun demikian, kecenderungan utamanya tetap mengarah kepada sikap hawkish untuk mempertahankan daya tarik aset domestik Indonesia.

Ekonom OCBC menilai BI masih memiliki ruang untuk melakukan kebijakan hawkish seiring kondisi eksternal masih sangat volatil dan kekhawatiran terhadap arus modal ke Indonesia yang belum sepenuhnya mereda. Menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah masih merupakan prioritas utama BI, meskipun BI akan semakin waspada di tengah meningkatnya inflasi. Hal ini berpotensi menjadikan kenaikan suku bunga pada Juni belum tentu menjadi akhir dari siklus pengetatan moneter.

Pemerintah–Komisi XI DPR menyepakati RUU tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia yang akan disahkan dalam rapat paripurna besok. Kemenkeu mengonfirmasi bahwa perusahaan yang memenuhi persyaratan akan memperoleh insentif berupa pengurangan PPh badan hingga 50 tahun. Kebijakan ini dipandang positif dalam jangka menengah karena berpotensi memperkuat pengembangan pasar modal dan meningkatkan daya tarik FDI. RUU juga mengatur adanya badan pengawas PFII yang bertanggung jawab kepada Presiden dan parlemen.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 7,26% (ytd: +121bps) seiring dengan meningkatnya sentimen risk-off global akibat eskalasi konflik AS-Iran. Kondisi tsb menyebabkan harga minyak kembali melonjak dan memperbesar risk premium Indonesia sebagai net importir minyak.

IHSG menguat 0,91% ke level 6.231,78, yang mencatatkan tren penguatan selama delapan hari perdagangan berturut-turut dengan volume perdagangan mencapai 35,57 miliar lembar saham senilai Rp17,16 triliun. Mayoritas kinerja sektoral saham menguat, terutama didorong oleh sektor industri +3,44%, energi +2,61%, dan barang baku +2,01%. Pelaku pasar terpantau melakukan rotasi modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, di tengah aksi jual masif pada saham teknologi akibat memudarnya euforia kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

Rupiah melemah 0,26% ke level 17.942 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.895. Pelemahan Rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dari kembali meningkatnya harga minyak dunia yang menaikkan beban impor energi nasional, memicu kekhawatiran inflasi global, serta meningkatkan permintaan terhadap mata uang safe-haven USD.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP