Financial Market Update
IDR10 : 7,21% - 7,23% (cl: 7,22%)
IDR5 : 7,15% - 7,20% (cl: 7,20%)
UST10 : 4,52% - 4,63% (last: 4,56%)
IDR : 18.082 - 18.119 (cl: 18.092)
DXY : 100,99 - 101,32 (last: 100,99)
JCI : 6.002,90 - 6.095,02 (cl: 6.039,52)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +6bps to 7,20%
FR0108 (10yr) : +2bps to 7,22%
FR0106 (15yr) : -2bps to 7,26%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,25%
Point of Interest:
• Konflik AS-Iran kembali meningkat signifikan setelah militer AS mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran yang efektif mulai 14 Juli 2026, sementara Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata Islamabad telah berakhir serta mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz.
• Presiden Trump juga menyatakan AS akan menjadi ‘penjaga Selat Hormuz’ dan akan mengenakan biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur pelayaran strategis itu sebagai kompensasi atas biaya pengamanan. Pada tingkat harga saat ini, biaya semacam itu akan mencapai sekitar $32 juta untuk sebuah kapal supertanker, angka yang jauh melampaui biaya transit yang sebelumnya ditetapkan Iran yaitu maksimal sebesar $2 juta.
• ANZ menilai sentimen positif dari keputusan S&P berpotensi hanya bersifat sementara mengingat risiko penurunan peringkat Indonesia oleh Moody's dan Fitch yang masih membayangi. Menurut ANZ, keberlanjutan perbaikan sentimen pasar di Indonesia akan cenderung terbatas dipengaruhi oleh araha kebijakan fiskal ke depan yang hingga saat ini masih membuka prospek penurunan peringkat dari kedua lembaga pemeringkat tersebut.
• Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menyatakan bahwa hasil penilaian S&P menjadi sentimen positif yang mendukung stabilitas pasar obligasi pemerintah, terutama setelah tekanan jual yang signifikan di pasar obligasi pada Juni lalu.
• Bloomberg menyoroti data inflow asing ke SBN yang cukup positif akhir-akhir ini dan mengindikasikan bahwa investor asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar obligasi Indonesia. Menurut Bloomberg, kondisi ini turut didukung oleh level yield SBN 10 tahun yang sempat mencapai 7,27% dan kombinasi sentimen positif dari afirmasi rating S&P.
• Hasil lelang sukuk hari ini mencatat permintaan yang kuat dengan total penawaran masuk sebesar Rp32,47 triliun, naik dibandingkan lelang sukuk sebelumnya Rp15,91 triliun. Bid-to-cover ratio mencapai 8,67x untuk tenor 2030 dan 7,2x untuk tenor 2039 dengan weighted average yield (WAY) sebesar 7,25% dan 7,31%. Hasil tersebut mencerminkan masih kuatnya minat investor domestik maupun asing terhadap instrumen sukuk, sehingga turut memberikan dukungan tidak langsung bagi Rupiah melalui arus masuk modal.
• Bursa Efek Indonesia menambahkan 37 emiten ke dalam watch list konsentrasi kepemilikan saham berdasarkan kerangka pemantauan baru. Langkah ini merupakan respons atas laporan MSCI Juni yang masih menyoroti terkait keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi perdagangan yang terkoordinasi, sehingga mendorong penundaan peninjauan status pasar Indonesia hingga November 2026.
• Harga SBN seri benchmark bergerak mixed. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 2 bps ke level 7,22% (ytd: +118bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp20,3 triliun, naik dibandingkan Rp9,3 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG menguat tipis 0,03% ke level 6.039,52, sejalan dengan penguatan Rupiah yang turut menopang pergerakan bursa saham hari ini, dengan volume perdagangan mencapai 8,76 miliar atau senilai Rp4,62 triliun. Penguatan kinerja saham terjadi di 10 dari 11 sektor, terutama dipimpin oleh sektor energi (+1,43%) seiring harga minyak yang kembali meningkat ke kisaran $84-86/barel akibat tensi geopolitik di Selat Hormuz.
• Rupiah menguat tipis 0,07% ke level 18.092 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.105, di tengah wait and see pelaku pasar terhadap rilis data inflasi AS dan pelaku pasar yang masih terus mencermati dampak afirmasi peringkat kredit Indonesia oleh S&P.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP