Financial Market Update

IDR10 : 7,20% - 7,24% (cl: 7,21%)
IDR5 : 7,14% - 7,21% (cl: 7,14%)
UST10 : 4,61% - 4,63% (last: 4,62%)

IDR : 18.090 - 18.141 (cl: 18.105)
DXY : 100,79 - 101,26 (last: 101,23)
JCI : 5.898,15 – 6.037,84 (cl: 6.037,84)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 7,14%
FR0108 (10yr) : 0bps to 7,21%
FR0106 (15yr) : +4bps to 7,28%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,26%

Point of Interest:

Pernyataan Pejabat Fed, Presiden Fed New York John Williams menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang tepat untuk menyeimbangkan mandat ganda Fed yaitu stabilitas inflasi dan upaya untuk memaksimalkan lapangan kerja, secara paralel mengakui bahwa risiko inflasi masih tetap tinggi. Williams juga menegaskan ketidakpastian global seperti konflik di Timur Tengah menimbulkan risiko terhadap rantai pasokan dan perekonomian.

Ketidakpastian yang kembali terjadi di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent terkoreksi 3,57% menjadi US$78pb. Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (Core), harga minyak mentah bakal diperkirakan menyentuh level normal baru atau new normal di sekitar US$70 hingga US$80pb, seiring kembali meningkatnya ketegangan Amerika Serikat–Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menegaskan serangan AS ke sejumlah wilayah di Iran dan kembali berlakunya sanksi terhadap minyak mentah Iran membuat premi risiko kembali masuk ke harga minyak mentah.

Kalender ekonomi pekan ini, Investor akan mencermati eskalasi konflik terbaru antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia. Dari sisi makroekonomi, fokus investor akan tertuju pada beberapa rilis data ekonomi AS seperti data inflasi untuk Juni 2026, penjualan ritel, indeks sentimen konsumen Michigan, dan data sektor perumahan. Sementara itu, Ketua the Fed Warsh akan memberikan panduan lebih lanjut terkait potensi reformasi Federal Reserve di hadapan Kongres.

Bank Sentral China, People's Bank of China (PBoC) menambah cadangan emas selama 20-bulan berturut-turut pada Juni 2026, dengan pembelian sebesar 480.000 troy ounces sehingga total kepemilikan emas mencapai 75,44 juta troy ounces. Penambahan tersebut menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2023, mencerminkan keberlanjutan strategi PBoC untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa, menegaskan peran emas sebagai aset cadangan strategis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan pasar keuangan global.

S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pandek. Outlook untuk peringkat jangka panjang tetap stabil. Menurut S&P Global Ratings, pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia yang disebabkan oleh tingginya biaya energi, suku bunga yang lebih tinggi dan pelemahan nilai tukar bersifat sementara. Di sisi lain, S&P memberikan warning bahwa lembagannya dapat menurunkan peringkat Indonesia apabila utang bersih pemerintah meningkat dengan laju tahunan lebih dari 3% terhadap PDB secara berkelanjutan.

Lembaga pemeringkat kredit internasional Standard and Poor's atau S&P Global Ratings memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026. Hal ini dipicu kinerja ekonomi yang dapat melambat pada kuartal-kuartal berikutnya karena ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dan suku bunga domestik yang lebih tinggi. Dalam laporan S&P disebutkan, pendapatan rata-rata di Indonesia tetap lebih rendah dibanding sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, tetapi meningkat lebih cepat. PDB per kapita dapat mencapai US$5.200 pada tahun 2026, hanya naik sedikit dari US$5.100 pada tahun 2025 dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nominal yang diperkirakan sebesar 8,3%.

IHSG hari ini ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84. Kenaikan hanya didorong sektor barang baku +2,96%, sektor energi +2,65%, dan sektor industri +2,44%. Total volume perdagangan saham bursa hari ini mencapai 26,34 miliar saham, dengan total nilai Rp12,15 triliun. IHSG menjadi paling kuat di bursa Asia. Penguatan IHSG didorong hasil laporan S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

Rupiah hari ini ditutup melemah 0,28% ke level 18.105, dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.055. Pelemahan didorong faktor global antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dengan Iran, dan kekhawatiran inflasi kembali muncul. Kondisi yang terjadi pada rupiah masih terbebani oleh twin deficit yang terdiri dari desifit fiskal dan transaksi berjalan.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP