Financial Market Update

IDR10 : 7,13% - 7,14% (cl: 7,13%)
IDR5 : 7,09% - 7,10% (cl: 7,10%)
UST10 : 4,45% - 4,50% (last: 4,48%)

IDR : 17.973 - 17.995 (cl: 17.994)
DXY : 100,56 - 101,43 (last: 100,86)
JCI : 5.704,50 - 5.806,72 (cl: 5.744,56)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +1bps to 7,10%
FR0108 (10yr) : -1bps to 7,13%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,18%

Point of Interest:

Premi risiko geopolitik kembali meningkat setelah proses perundingan pasca-MoU di Doha, Qatar, menemui jalan buntu. Pihak Iran secara tegas menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS dan bersikeras agar negosiasi hanya dimediasi di tingkat teknis. Iran juga berencana mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Hormuz mulai pertengahan Agustus mendatang, sehingga memicu sentimen negatif khususnya pada kawasan EM.

ECB Sintra Forum: Fed Chairman Kevin Warsh menyampaikan bahwa risiko inflasi mulai mereda, sehingga mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Meskipun tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2%, pernyataan Warsh yang lebih moderat (less hawkish) dibandingkan sebelumnya (FOMC meeting Juni) mendorong pelemahan USD dan penurunan yield UST.

Arus masuk dana asing ke pasar obligasi negara berkembang Asia mencapai $8,2 miliar per Juni, merupakan level tertinggi dalam lebih dari dua tahun seiring tingkat imbal hasil yang dinilai masih menarik. Di Indonesia, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih SBN sebesar $346 juta pada 26 Juni, sehingga turut menopang pasar obligasi domestik secara terbatas.

Defisit APBN 2025 (audited) tercatat sebesar 2,81% PDB (Rp670,34 triliun), lebih rendah dibandingkan realisasi sebelumnya sebesar 2,92% PDB. Perbaikan tersebut menjadi sentimen positif yg membatasi pelemahan SBN hari ini karena sedikit mengurangi kekhawatiran terhadap risiko fiskal dan mendukung sentimen terkait kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.

DPR menyetujui asumsi makro APBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi 5,8%–6,5% dan defisit fiskal 1,8%–2,4% PDB, yang mencerminkan komitmen konsolidasi fiskal. Selain itu, asumsi nilai tukar Rupiah di kisaran Rp16.800–17.500 per USD mengindikasikan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Perkembangan ini memberikan sentimen positif bagi pasar domestik sejalan dengan realisasi defisit APBN 2025 (audited) yang lebih baik dari perkiraan.

Harga SBN seri benchmark bergerak mixed dengan kisaran pergerakan yield sebesar 0-2 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,13% (ytd: +108bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp16,3 triliun, naik dibandingkan Rp14,9 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG menguat 0,87% ke level 5.744,56, didukung oleh rebound sektoral yang meluas seiring aksi beli pelaku pasar yang cukup merata pasca koreksi dalam di akhir Juni. Mayoritas sektor bergerak menguat dengan penguatan terbesar pada sektor perindustrian (+2,97%), transportasi-logistik (+2,22%), dan barang baku (+2,16%).

Rupiah melemah 0,26% ke level 17.994 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.948, seiring berlanjutnya kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia pasca rilis defisit neraca perdagangan pertama sejak 2020, yang mengurangi buffer bagi Rupiah dalam menghadapi shock eksternal.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP