Financial Market Update

IDR10 : 7,13% - 7,16% (cl: 7,14%)
IDR5 : 7,05% - 7,09% (cl: 7,09%)
UST10 : 4,45% - 4,50% (last: 4,46%)

IDR : 17.945 - 17.978 (cl: 17.948)
DXY : 101,19 - 101,60 (last: 101,28)
JCI : 5.607,45 - 5.737,74 (cl: 5.695,12)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +4bps to 7,09%
FR0108 (10yr) : +1bps to 7,14%
FR0106 (15yr) : -1bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : -2bps to 7,16%

Point of Interest:

Fitch Ratings memperingatkan bahwa peringkat utang Indonesia berisiko turun apabila cadangan devisa terus menurun secara signifikan dan berkelanjutan. Fitch mencatat cadev Indonesia saat ini setara 4,9 bulan pembayaran eksternal, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB sebesar 5 bulan. Peringatan tersebut muncul di tengah kenaikan BI-Rate sebesar 100bps dalam sekitar satu bulan untuk mempertahankan stabilitas Rupiah serta rilis data defisit perdagangan bulanan pertama Indonesia dalam enam tahun yang mengurangi salah satu penyangga eksternal utama bagi stabilitas nilai tukar.

Sejumlah rilis data domestik makroekonomi yg relatif memburuk mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia hari ini. Inflasi Jun-2026 tercatat naik menjadi 3,34% YoY (exp./prev. 3,22%/3,08%), dengan inflasi inti mencapai 2,76% YoY (exp./prev. 2,60%/2,59%). Dari sisi data perdagangan, Indonesia membukukan defisit neraca perdagangan sebesar $1,61 miliar pada Mei 2026 vs ekspektasi surplus $1,01 miliar (defisit pertama kali sejak enam tahun terakhir), dengan nilai ekspor turun 5,7% MoM menjadi $23,2 miliar, sementara impor meningkat 22,2% MoM menjadi $24,8 miliar. Di sisi lain, investor juga mencermati PMI Manufaktur Indonesia yang turun ke level 46,9 pada Juni 2026, merupakan level terendah sejak Juni 2025. Perkembangan terkini defisit neraca perdagangan otomatis menghilangkan salah satu penyangga eksternal utama yang selama ini menopang stabilitas Rupiah sehingga menempatkan Indonesia dalam kondisi yg semakin rentan.

Data inflasi terbaru menambah dilema kebijakan BI, seiring pengetatan lebih lanjut berisiko memperdalam perlambatan ekonomi, sedangkan mempertahankan suku bunga berpotensi memperbesar tekanan terhadap Rupiah.

Indonesia resmi memulai implementasi mandatori biodiesel B50 pada 1 Juli, dengan PT Pertamina Patra Niaga mulai mendistribusikan campuran biodiesel berbasis sawit 50% tersebut ke berbagai wilayah di Indonesia. Distribusi awal difokuskan di Pulau Jawa dan telah mencapai sedikitnya 38 juta liter. Pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan bagi penyalur BBM untuk menghabiskan stok B40, dengan kewajiban implementasi penuh B50 mulai 1 Oktober.

Pelaku pasar semakin meningkatkan ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed menjelang pidato Fed Chairman Kevin Warsh pada symposium ECB di Sintra, Portugal. Pasar uang memperkirakan peluang sekitar 36% untuk kenaikan suku bunga FFR pada Juli, meningkat tajam dibandingkan sebelum Warsh menjabat. Sejalan dengan itu, pelaku pasar fed funds futures juga meningkatkan posisi jual sebagai antisipasi terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan yang lebih cepat.

Analisis Bloomberg menilai pasar obligasi global masih berpotensi menghadapi tekanan seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Hal ini didukung oleh sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi negara-negara G10, termasuk hasil survei Tankan Jepang yang kuat, solidnya data belanja konsumen dan lowongan kerja (JOLTS) AS, serta pertumbuhan ekonomi Inggris yang tetap positif. Kondisi tersebut memperkuat narasi higher-for-longer dan meningkatkan potensi berlanjutnya yield curve steepening.

Goldman Sachs dan Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global berpotensi kembali mengalami kelebihan pasokan (oversupply) seiring normalisasi arus pengiriman melalui Selat Hormuz pasca meredanya konflik Iran. Meskipun pengisian kembali cadangan strategis diperkirakan dapat menyerap sebagian pasokan, kedua lembaga menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengimbangi potensi surplus pasokan, sehingga meningkatkan risiko pelemahan harga minyak ke depan.

Harga SBN seri benchmark bergerak mixed. Yield SBN tenor pendek-menengah bergerak naik sedangkan tenor panjang cenderung turun terbatas, dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,14% (ytd: +109bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp14,9 triliun, turun dibandingkan Rp26,6 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG menguat 0,92% ke level 5.695,12, didorong oleh faktor koreksi teknikal pasca pelemahan cukup dalam kemarin. Investor asing sebagai net seller pada 389 saham vs net buyers pada 310 saham, dengan total net sell harian tercatat sebesar Rp238,5 miliar. Tekanan jual asing terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi pasar besar, terutama sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI yg secara kolektif mengalami net jual asing sebesar Rp218 miliar.

Rupiah melemah 0,37% ke level 17.948 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.882, sejalan dengan penguatan indeks USD secara global seiring antisipasi pelaku pasar terhadap pidato publik perdana Fed Chairman Kevin Warsh pada agenda tahunan ECB’s Sintra symposium di Portugal.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP