Financial Market Update

IDR10 : 7,12% - 7,16% (cl: 7,12%)
IDR5 : 7,09% - 7,10% (cl: 7,09%)
UST10 : 4,36% - 4,41% (last: 4,37%)

IDR : 17.918 - 17.985 (cl: 17.918)
DXY : 101,05 - 101,57 (last: 101,35)
JCI : 5.830,14 - 6.045,26 (cl: 5.896,13)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -8bps to 7,09%
FR0108 (10yr) : -3bps to 7,12%
FR0106 (15yr) : -2bps to 7,23%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,22%

Point of Interest:

Rilis inflasi PCE AS bulan Mei-2026 yang secara umum sesuai ekspektasi dan belum cukup kuat untuk mengubah narasi hawkish kebijakan The Fed. Headline PCE tercatat naik 0,4% MoM dan 4,1% YoY, sedangkan core PCE meningkat 0,3% MoM dan 3,4% YoY. Meskipun data PCE tsb menegaskan bahwa inflasi inti masih cukup sticky dan sejalan dgn nada hawkish The Fed akhir-akhir ini, tidak terdapatnya upside surprise membantu menahan kenaikan yield UST, terutama di tengah pelemahan harga minyak yg masih berlanjut.

Pertumbuhan PDB AS Q1-2026 direvisi naik menjadi 2,1% (prev:1,6%), terutama didorong oleh penurunan impor yang lebih kecil sehingga menurunkan kontribusi defisit perdagangan. Di sisi lain, gross private domestic investment lebih tinggi dari estimasi sebelumnya disertai data belanja pemerintah yg cukup solid setelah berakhirnya shutdown pemerintah. Data tsb memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih lama.

Harga minyak jenis Brent mengalami penurunan signifikan hingga mendekati level $70/barel. Penurunan harga komoditas energi ini meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi impor Indonesia dan beban subsidi energi pemerintah.

Sentimen negatif regional yang dipicu oleh penurunan indeks saham KorSel hingga 9% turut menekan kinerja IHSG dan Rupiah pada hari ini. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing anjlok lebih dari 10% dan memicu penghentian perdagangan untuk kedua kalinya dalam sepekan pada pasar saham KorSel. Kondisi tsb dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran thd valuasi sektor AI serta potensi penundaan IPO OpenAI.

Menkeu Purbaya mengumumkan penempatan dana pemerintah sekitar Rp400 triliun di bank-bank BUMN utk meredakan pengetatan likuiditas akibat penarikan dana pemerintah sebelumnya. Skema berupa Rp200 triliun penempatan jangka panjang yg telah berjalan, Rp100 triliun utk tenor 3-4 bulan, serta Rp100 triliun dgn skema fleksibel. Pada saat yg sama, Menkeu kembali menegaskan defisit APBN 2026 akan tetap dijaga di bawah batasan 3% PDB dengan pertumbuhan pinjaman pemerintah sebesar 14%-15% pada tahun ini.

Pemerintah mengumumkan rencana pemotongan dan efisiensi anggaran sebesar Rp50 triliun pada program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini diambil demi menjaga stabilitas fiskal dan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi melebarnya defisit APBN.

Ketidakpastian tinjauan MSCI. Laporan Inside Indonesia Bloomberg menyebut ketidakpastian hasil evaluasi MSCI sebagai salah satu faktor yang menekan sentimen investor selain penguatan USD. Asia Times juga menyoroti adanya masalah kredibilitas pasar modal Indonesia terkait proses evaluasi MSCI yg dijadwalkan kembali pada November mendatang.

Hasil lelang SRBI 26-Jun menunjukkan minat investor masih cukup solid meskipun total penyerapan BI (Rp15 triliun) lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya (Rp18 triliun). Penurunan tsb mengindikasikan BI mulai mengurangi intensitas absorpsi likuiditas dan tetap mempertahankan sikap selektif terhadap tingkat imbal hasil yang diminta investor, khususnya setelah pengetatan kebijakan yang agresif dalam beberapa waktu terakhir. SRBI tenor 12 bulan mencatat BTC ratio tertinggi sebesar 2,37x dengan WAY 7,70% (prev: 7,70%), dilanjutkan oleh SRBI tenor 9 bulan dengan BTC ratio 1,86x dan WAY 7,54% (prev: 7,54%), serta tenor 6 bulan mencatat BTC ratio 1,41x dan WAY 7,36% (prev: 7,36%).

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 2-8 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 3 bps ke level 7,12% (ytd: +107bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp17,3 triliun, turun dibandingkan Rp23,5 triliun pada hari sebelumnya. Penurunan yield SBN disebabkan antara lain oleh injeksi likuiditas pemerintah kepada bank-bank BUMN senilai Rp400 triliun, permintaan yang solid pada lelang SRBI hari ini, serta penguatan obligasi Asia seiring penurunan harga minyak dan meredanya kekhawatiran kenaikan suku bunga global.

IHSG melemah 1,72% ke level 5.896,13 sejalan dengan sentimen negatif pelemahan bursa regional Asia yang turut menekan kinerja IHSG hari ini. Hampir seluruh indeks sektoral bergerak melemah yang dipimpin oleh sektor barang baku (-5,00%), perindustrian (-4,23%), dan barang konsumsi non-primer (-2,96%).

Rupiah menguat tipis 0,04% ke level 17.918 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.925, seiring dengan kombinasi faktor harga minyak dunia yg masih melanjutkan penurunan dan sentimen domestik yang cenderung positif (a.l. dukungan pemerintah melalui injeksi likuiditas kepada perbankan BUMN serta masih solidnya permintaan investor pada lelang SRBI hari ini).


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP