Financial Market Update
IDR10 : 7,17% - 7,22% (cl: 7,19%)
IDR5 : 7,14% - 7,28% (cl: 7,21%)
UST10 : 4,40% - 4,50% (last: 4,40%)
IDR : 17.915 - 17.955 (cl: 17.943)
DXY : 101,36 - 101,80 (last: 101,59)
JCI : 5.876,93 - 6.171,38 (cl: 5.883,88)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +1bps to 7,21%
FR0108 (10yr) : +4bps to 7,19%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,27%
FR0107 (20yr) : +3bps to 7,26%
Point of Interest:
• Berlanjutnya penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS di bawah kepemimpinan Fed Chairman Kevin Warsh menjadi faktor global yang paling dominan mempengaruhi pasar keuangan global dan domestik hari ini. Bloomberg Dollar Spot Index menguat untuk hari ketiga berturut-turut dan mencapai level 101,59, tertinggi sejak November 2025 seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga pada semester II-2026.
• Treasury Secretary AS Scott Bessent memberikan validasi terhadap sentimen hawkish pelaku pasar, dengan menyatakan bahwa Warsh telah bernada tegas terkait risiko inflasi.
• Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan defisit transaksi berjalan AS pada Q1-2026 melebar menjadi $226,83 miliar (exp: $208,9 miliar; Q4-2025 revisi: $221,1 miliar). Defisit terutama disebabkan dampak struktural perang Iran terhadap arus perdagangan AS, termasuk kenaikan biaya impor energi dan gangguan rantai pasok. Secara historis, pelebaran defisit transaksi berjalan merupakan faktor negatif bagi USD dalam jangka menengah.
• AS memberikan izin selama 60 hari hingga 21 Agustus 2026 bagi Iran memproduksi dan menjual minyak mentah, produk petrokimia, dan produk minyak bumi dalam USD. Kebijakan ini menjadi pelonggaran sanksi minyak AS terhadap Iran yang paling signifikan sejak 1979 dan berpotensi membuka akses terhadap 67 juta barel minyak mentah Iran yang sebelumnya tertahan (senilai tambahan pendapatan $8–9 miliar bagi Iran).
• MSCI mengumumkan penundaan kembali proses evaluasi klasifikasi pasar Indonesia ke bulan November 2026. MSCI menyatakan membutuhkan waktu tambahan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai reformasi transparansi yang telah diumumkan regulator Indonesia, termasuk peningkatan kualitas keterbukaan informasi, klasifikasi investor yang lebih rinci, serta peta jalan peningkatan persyaratan free float minimum menjadi 15%. Pada awal perdagangan, pasar menyambut positif keputusan tersebut karena mengurangi risiko penurunan status Indonesia ke kategori frontier market dalam waktu dekat. Namun sentimen positif tidak bertahan lama seiring pasar mencerna bahwa ketidakpastian struktural masih akan berlanjut setidaknya hingga November.
• Citigroup menilai diskon valuasi pasar saham Indonesia berpotensi bertahan hingga terdapat perbaikan nyata pada isu free float dan mekanisme price discovery. Sementara itu, HSBC menilai keputusan MSCI memang menghindarkan pasar dari risiko penurunan status secara langsung, namun sekaligus menegaskan bahwa persoalan struktural belum terselesaikan.
• Hasil lelang SRBI pada 24 Juni 2026 menunjukkan minat investor masih cukup solid. SRBI tenor 6 bulan mencatat BTC ratio tertinggi sebesar 8,38x dengan WAY 7,36% (prev: 7,42%), dilanjutkan oleh SRBI tenor 12 bulan dengan BTC ratio 2,29x dan WAY 7,70% (prev: 7,74%), sementara tenor 9 bulan mencatat BTC ratio terendah 1,56x dan WAY 7,545% (prev: 7,55%). Tingginya permintaan pada SRBI tenor pendek (6 bulan) mencerminkan preferensi pelaku pasar kepada instrumen berdurasi pendek ditengah ketidakpastian kebijakan suku bunga global.
• Harga emas turun menembus $4.000/Toz untuk pertama kalinya sejak November, seiring penguatan USD dan meningkatnya ekspektasi suku bunga riil. Penguatan DXY hampir 1% sepanjang pekan membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor non-USD, sehingga mempercepat tekanan jual.
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 4 bps ke level 7,19% (ytd: +114bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp16,3 triliun, turun dibandingkan Rp39,1 triliun pada hari sebelumnya. Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah mendorong naiknya tingkat yield global dan mengurangi daya tarik strategi carry trade pada aset denominasi Rupiah. Di saat yg sama, selisih antara suku bunga Indonesia-AS mulai menyempit secara relatif akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS, meskipun BI telah menaikkan suku bunga secara agresif (100bps dalam sebulan terakhir).
• IHSG melemah 3,56% ke level 5.883,88 meskipun MSCI tetap mempertahankan status Emerging Market Indonesia. Namun demikian, MSCI masih akan memantau perkembangan pasar modal Indonesia hingga periode review selanjutnya di bulan November 2026. Tekanan jual pada IHSG terutama dari emiten CTTH, ARKO, dan BABY yg menjadi top loser hari ini. Seluruh sektor bergerak melemah dan dipimpin oleh barang baku (-6,64%), energi (5,99%), dan transportasi (-4,84%).
• Rupiah melemah 0,55% ke level 17.943 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.845.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP