Financial Market Update
IDR10 : 7,06% - 7,08% (cl: 7,08%)
IDR5 : 7,07% - 7,21% (cl: 7,14%)
UST10 : 4,47% - 4,51% (last: 4,51%)
IDR : 17.782 - 17.833 (cl: 17.832)
DXY : 100,76 - 101,06 (last: 101,02)
JCI : 6.052,94 - 6.226,72 (cl: 6.116,69)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +5bps to 7,14%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,08%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,18%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,15%
Point of Interest:
• Kekhawatiran sempat meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Lebanon pada akhir pekan, jika Hezbollah berlanjut melancarkan serangan ke Israel, sementara penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Namun kekhawatiran mereda pada Senin siang waktu Indonesia, seiring pemberitaan telah tercapainya kesepakatan mengenai mekanisme penghentian operasi militer di Lebanon.
• Harga minyak bergerak volatile mengikuti perkembangan headline terkait AS-Iran. Minyak jenis Brent sempat meningkat di atas $80/barel merespon pernyataan Trump yg sempat meningkatkan kekhawatiran. Namun, harga minyak Brent kembali turun di bawah $80/barel setelah perkembangan terakhir menunjukkan progress yg positif pada negosiasi lanjutan AS-Iran.
• Data pelacakan kapal tanker oleh Bloomberg menunjukkan kapal tanker yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak mentah tetap melintasi Selat Hormuz pada Jumat hingga Minggu. Data tsb mencatat laju pengiriman tercepat sejak pecahnya perang Iran pada
• Perdebatan pasar mengenai arah kebijakan The Fed meningkat sejak kepemimpinan Fed Chairman Kevin Warsh. Standard Chartered menilai pasar terlalu hawkish dan memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026 sebelum mulai menurunkan pada Q2-2027, didukung oleh meredanya tekanan inflasi pasca kesepakatan sementara AS-Iran. Sebaliknya, Bloomberg Economics menilai masih tingginya risiko inflasi berpotensi memperkuat sikap hawkish The Fed.
• Gubernur The Fed Christopher Waller menilai peran USD sebagai mata uang utama global tetap terjaga meskipun perkembangan teknologi berlangsung pesat. Namun, Waller juga mencermati bahwa inovasi teknologi terus mengubah pola penggunaan USD oleh rumah tangga dan pelaku usaha.
• Bank of America merevisi proyeksi kebijakan The Fed menjadi lebih hawkish dengan memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25bps pada September, Oktober, dan Desember 2026 (total kenaikan 75bps). Proyeksi tsb didasarkan pada inflasi yg masih persisten serta perubahan fungsi reaksi kebijakan The Fed yang dinilai lebih hawkish di bawah kepemimpinan Fed Chairman Warsh.
• Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026 yang terdiri dari bantuan pangan Rp18,04 triliun, program pelatihan vokasi Rp6,26 triliun, dan diskon transportasi Rp2,04 triliun guna menjaga daya beli dan mendukung permintaan domestik.
• Menkeu Purbaya memperkirakan defisit APBN 2026 tetap di bawah 2,9% PDB dengan asumsi harga minyak kembali normal pasca kemajuan perundingan damai AS-Iran. Namun, respons pasar cenderung terbatas karena stimulus tersebut belum mengatasi kekhawatiran investor terkait kredibilitas kebijakan, status MSCI, dan volatilitas nilai tukar.
• John Hancock Income Fund tercatat melepas kepemilikan SUN seri FR0071 (kupon 9%, jatuh tempo 15 Maret 2029) pada Mei 2026. Langkah tsb mencerminkan masih berlanjutnya tren pengurangan eksposur investor institusi asing terhadap pasar obligasi pemerintah Indonesia yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah terbatas dengan kisaran kenaikan yield sebesar 0-5 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 7,08% (ytd: +103bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp11,6 triliun, naik dibandingkan Rp9,3 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG melemah 0,98% ke level 6.116,69 dipicu oleh kekhawatiran terkait pengumuman hasil review tahunan MSCI pada 23 Juni yang masih berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari kategori EM menjadi Frontier Market. Goldman Sachs memperkirakan potensi outflow hingga $13 miliar dari passive funds yang mengikuti indeks MSCI Emerging Markets, jika status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Tekanan jual pada IHSG terutama dari emiten BBRI, BBCA, TLKM yg menjadi kontributor utama penurunan IHSG hari ini. Pelemahan sektoral dipimpin oleh barang baku (-2,49%), industri (2,36%), dan kesehatan (2,23%).
• Rupiah melemah 0,24% ke level 17.832 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.790. Pelemahan Rupiah sejalan dengan peers di kawasan Asia yg terutama disebabkan oleh berlanjutnya penguatan USD seiring sikap hawkish The Fed yg semakin mendukung narasi higher-for-longer.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP