Financial Market Update
IDR10 : 6,86% - 6,90% (cl: 6,88%)
IDR5 : 6,82% - 6,87% (cl: 6,87%)
UST10 : 4,42% - 4,50% (last: 4,49%)
IDR : 17.733 - 17.758 (cl: 17.738)
DXY : 99,49 - 100,57 (last: 100,09)
JCI : 6.179,67 - 6.377,19 (cl: 6.220,74)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -3bps to 6,87%
FR0108 (10yr) : -11bps to 6,88%
FR0106 (15yr) : -10bps to 7,02%
FR0107 (20yr) : -4bps to 7,07%
Point of Interest:
• Harga minyak dunia melanjutkan tren penurunan, dengan Brent turun di bawah $79/barel pada 17 Juni, level terendah dalam lebih dari tiga bulan dan terkoreksi sekitar 15% dalam empat sesi perdagangan. IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global 2026, sementara Rystad Energy memperkirakan harga minyak bertahan di sekitar $80 per barel hingga akhir 2026. Penurunan harga minyak dinilai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga global dan memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tercermin pada penurunan yield SBN di seluruh tenor pada perdagangan 17 Juni.
• Pemerintah menerbitkan sukuk Rp9,5 triliun pada lelang 17 Juni, di bawah target indikatif Rp12,0 triliun. Total penawaran masuk turun menjadi Rp19,1 triliun dari Rp24,1 triliun pada lelang sebelumnya. Permintaan terkonsentrasi pada SPNS01032027 (9 bulan) dan PBS030 (2 tahun), mengindikasikan preferensi investor terhadap tenor pendek. Meski demikian, pemerintah tidak menyerap penawaran pada SPNS01032027, mencerminkan selektivitas terhadap level yield yang diajukan investor. Penyerapan terbesar terjadi pada PBS030 sebesar Rp3,35 triliun (BTC 1,41x; WAY 7,08%). Secara umum, hasil lelang mengindikasikan minat investor yang lebih moderat dengan preferensi pada tenor pendek serta tuntutan imbal hasil yang masih relatif tinggi.
• Hasil lelang SRBI pada 17 Juni 2026 menunjukkan minat investor yang tetap kuat pada tenor pendek. SRBI tenor 6 bulan mencatat BTC ratio tertinggi sebesar 30,18x dengan WAY 7,12% (prev: 7,27%), sementara tenor 9 bulan juga memperoleh permintaan yang solid dengan BTC ratio 11,43x dan WAY 7,33% (prev: 7,41%). Sebaliknya, SRBI tenor 12 bulan dengan jumlah penawaran masuk sebesar Rp47,8 triliun hanya mencatat BTC ratio 1,12x dan WAY 7,59% (prev: 7,65%), mengindikasikan minat investor yang lebih terbatas pada tenor mendekati satu tahun di tengah kehati-hatian menjelang keputusan suku bunga acuan global dan BI.
• Mayoritas ekonom memperkirakan BI akan menaikkan BI-Rate sebesar 25bps menjadi 5,75% pada RDG 18 Juni. Ekspektasi tersebut dinilai positif bagi Rupiah dan SBN tenor pendek karena memperkuat daya tarik carry trade dan menegaskan komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan valuasi saham dan meningkatkan biaya pendanaan korporasi, dengan sektor multifinance dinilai lebih rentan dibandingkan perbankan.
• Citi menilai Rupiah berpotensi telah melewati fase pelemahan terburuknya seiring meredanya tekanan eksternal akibat tercapainya kesepakatan awal AS-Iran. Citi juga menilai daya tarik carry trade Rupiah masih tetap kuat, khususnya melalui instrumen SRBI. Selain itu, membaiknya kondisi eksternal dinilai dapat mengurangi kebutuhan BI untuk mempertahankan sikap kebijakan yang sangat hawkish seperti yang tercermin pada kenaikan suku bunga di luar jadwal (off-cycle) sebelumnya.
• Pemerintah tengah memfinalisasi alokasi biodiesel berbasis minyak sawit menjelang implementasi mandat B50 pada 1 Juli 2026. Peraturan menteri yang menjadi dasar pelaksanaan program tsb saat ini masih menunggu persetujuan Menteri ESDM. Dalam penetapan alokasi biodiesel, pemerintah juga mempertimbangkan proyeksi peningkatan konsumsi bahan bakar menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru. Implementasi program ini menjadi perhatian pelaku industri dan emiten perkebunan karena berpotensi meningkatkan permintaan domestik terhadap minyak sawit.
• Pada zona waktu Asia kemarin (17/6), FOMC menjadi salah satu agenda global yang paling dinantikan karena merupakan keputusan kebijakan moneter pertama di bawah kepemimpinan Fed Chairman Kevin Warsh setelah berakhirnya masa jabatan Jerome Powell. Meskipun pasar secara luas memperkirakan suku bunga akan dipertahankan, perhatian investor tertuju pada konferensi pers perdana Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed ke depan, khususnya potensi kenaikan suku bunga pada 2026. Menjelang pertemuan tersebut, sebagian besar mata uang negara berkembang melemah, termasuk Rupiah yang turun 0,20% ke Rp17.738 per USD, sementara volatilitas indeks dolar AS meningkat ke level tertinggi sejak 7 April.
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 3-11 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 11 bps ke level 6,88% (ytd: +83bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp21,4 triliun, turun dibandingkan Rp25,1 triliun pada hari Senin lalu. Penguatan SBN didukung oleh pelemahan harga minyak dunia hingga ke bawah $80/barel melanjutkan sentimen positif dari kesepakatan perdamaian interim AS-Iran.
• IHSG melemah 0,55% ke level 6.220,74 di tengah wait and see pelaku pasar pada Rabu (17/6) menjelang keputusan FOMC meeting pertama di bawah kepemimpinan Fed Chair Kevin Warsh, serta pengumuman dari MSCI terkait status Indonesia. Mayoritas sektor IHSG bergerak melemah, dengan pelemahan dipimpin oleh sektor industri (-2,52%), transportasi (-2,37%), dan energi (-1,99%).
• Rupiah melemah 0,20% ke level 17.738 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.703. Hal ini sejalan dengan pelemahan mata uang regional Asia terhadap USD seiring wait and see pelaku pasar terhadap FOMC meeting.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP