Financial Market Update
IDR10 : 6,79% - 6,85% (cl: 6,85%)
IDR5 : 6,78% - 6,91% (cl: 6,91%)
UST10 : 4,46% - 4,54% (last: 4,54%)
IDR : 18.009 - 18.074 (cl: 18.020)
DXY : 99,16 - 99,91 (last: 99,88)
JCI : 5.594,11 - 5.860,67 (cl: 5.594,77)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +13bps to 6,91%
FR0108 (10yr) : +7bps to 6,85%
FR0106 (15yr) : +6bps to 6,98%
FR0107 (20yr) : +7bps to 6,98%
Point of Interest:
• Pemerintah mencatat defisit APBN sebesar Rp180,4 triliun (0,70% PDB) hingga akhir Mei 2026, meningkat dari Rp164,4 triliun (0,64% PDB) pada akhir April 2026 dan lebih tinggi dibandingkan Rp20,9 triliun (0,09% PDB) pada periode yang sama tahun lalu. Keseimbangan Primer menunjukkan kondisi positif dengan surplus Rp58,6 triliun, mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap sehat dan disiplin di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah. Menkeu Purbaya menyatakan bahwa kinerja fiskal Indonesia hingga akhir Mei 2026 tetap solid, terjaga aman, dan menunjukkan tren pertumbuhan positif.
• Realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.185,0 triliun (37,6% dari target APBN) atau tumbuh tinggi 19,1% YoY. Pertumbuhan tsb ditopang oleh penerimaan perpajakan yang meningkat 22,1% YoY didukung oleh stabilnya implementasi sistem Coretax, serta peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tumbuh 19,9% YoY.
• Realisasi belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun (35,5% dari target APBN) atau tumbuh 34,4% YoY. Belanja tsb diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas layanan publik, serta mempercepat aktivitas ekonomi nasional. Menurut Menkeu, strategi percepatan belanja negara dilakukan agar dampak APBN terhadap perekonomian dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
• Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas Rupiah melalui penguatan intervensi valas dan offshore NDF, optimalisasi SRBI, pembelian SBN di pasar sekunder, dukungan likuiditas, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap permintaan valas. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meredam tekanan eksternal dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
• BI menyerap Rp30,0 triliun melalui lelang SRBI 5 Juni dari total penawaran yg masuk sebesar Rp49,44 triliun, lebih rendah dibandingkan penyerapan pd lelang sebelumnya (29 Mei) sebesar Rp40 triliun. Weighted average yield meningkat di seluruh tenor dengan SRBI tenor 6 bulan naik ke 6,90% (prev 6,72%), 9 bulan ke 7,05% (prev 6,76%), dan 12 bulan ke 7,25% (prev 6,92%).
• Sentimen risiko di kawasan tetap cenderung defensif menjelang rilis data ketenagakerjaan NFP AS periode Mei yang diperkirakan mendukung narasi higher for longer. Sentimen pasar juga tertekan setelah komponen Prices Paid pada ISM Services PMI AS Mei naik ke level tertinggi sejak Agustus 2022, memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi sektor jasa yang masih persisten dan mengurangi ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Sementara itu, berlanjutnya gencatan senjata antara Iran–AS dan Israel–Lebanon hanya memberikan dukungan terbatas melalui penurunan premi risiko geopolitik.
• Initial jobless claims AS bulan Mei 2026 naik menjadi 225.000 (prev: 212.000), di atas ekspektasi 215.000, sementara continuing jobless claims turun tipis menjadi 1,78 juta (prev: 1,79 juta). Presiden FedRes San Fransisco, Mary Daly, menilai AI belum memengaruhi inflasi dalam jangka pendek, sementara tekanan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari tarif serta kenaikan harga energi dan pangan. IMF juga meminta The Fed berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga karena risiko inflasi masih meningkat, dengan proyeksi inflasi AS baru kembali ke target 2.00% pada akhir 2027.
• Perusahaan di AS mengumumkan PHK sebesar 97.006 pada Mei 2026 (prev: 83.387) yang merupakan level tertingginya sejak 2020. Artificial Intelligence (AI) menjadi alasan utama untuk PHK, dengan sektor teknologi mengumumkan PHK sebesar 38.242 pada Mei 2026, dan merupakan angka PHK bulanan tertinggi untuk sektor tersebut sejak Agustus 2024. Secara YTD, perusahaan telah mengumumkan PHK sebesar 397.755, turun sebesar 43% YoY.
• Ekonom memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada tahun ini guna merespons dampak perang Iran, dan akan mempertahankannya untuk periode yang lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya. Survei Bloomberg pada 29 Mei–3 Juni menunjukkan hampir seluruh responden memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25bps pada pertemuan pekan depan (11 Juni), dengan mayoritas juga mengantisipasi satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun. Jika terealisasi, suku bunga fasilitas deposito ECB akan meningkat menjadi 2,50% hingga akhir tahun 2026.
• Jepang diperkirakan menjual sebagian aset luar negerinya, termasuk UST, untuk membiayai intervensi valas guna menopang JPY. Kepemilikan surat berharga luar negeri Jepang turun $75,6 miliar pada Mei, sejalan dengan besarnya intervensi yang dilakukan dan berpotensi menjadi perhatian otoritas AS, mengingat keterkaitannya dengan kepemilikan obligasi pemerintah AS dan dinamika pasar keuangan global.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dgn kisaran kenaikan yield sebesar 6-13bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 7 bps ke level 6,85% (ytd: +80bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp13,8 triliun, turun dibandingkan Rp20,3 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG ditutup melemah 4,20% ke level 5.594,77 sejalan dengan berlanjutnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah dan independensi BI ke depan, di tengah sentimen negatif yg telah ada sebelumnya terkait tata kelola fiskal, berlanjutnya pelemahan Rupiah di atas level psikologis 18.000 per USD, hingga antisipasi menjelang hasil review klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada 18 Juni mendatang. Seluruh sektor bergerak melemah, dengan pelemahan terbesar terutama dikontribusikan oleh sektor transportasi dan logistik (-5,97%), energi (-5,73%), dan perindustrian (-5,72%).
• Rupiah ditutup sedikit menguat 0,07% ke level 18.020, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya 17.950, namun masih di atas level psikologis 18.000. Pasar sempat diwarnai oleh spekulasi liar bahwa BI berpotensi harus menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat sebelum jadwal resmi pertengahan Juni demi menyelamatkan kurs Rupiah yg pada pembukaan hari ini sempat menyentuh level 18.074.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP