Financial Market Update

IDR10 : 6,66% - 6,72% (cl: 6,66%)
IDR5 : 6,67% - 6,72% (cl: 6,67%)
UST10 : 4,42% - 4,46% (last: 4,45%)

IDR : 17.828 - 17.894 (cl: 17.838)
DXY : 99,05 - 99,23 (last: 99,13)
JCI : 6.143,63 - 6.264,26 (cl: 6.195,43)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -4bps to 6,67%
FR0108 (10yr) : -4bps to 6,66%
FR0106 (15yr) : -1bps to 6,83%
FR0107 (20yr) : 0bps to 6,85%

Point of Interest:

Sentimen risiko di kawasan bergerak beragam seiring meredanya optimisme terhadap gencatan senjata AS–Iran setelah Presiden Trump mengindikasikan tidak terburu-buru untuk merampungkan kesepakatan. Hal ini kembali meningkatkan premi risiko geopolitik dan membalikkan sebagian penguatan aset berisiko pada pekan sebelumnya. Di sisi lain, PMI manufaktur Caixin China melambat ke 51,8 pada Mei-2026 dari 52,2 pada April, namun masih berada di zona ekspansi, memperkuat pandangan bahwa perlambatan ekonomi China tetap terkendali (soft landing) dan mendukung prospek pertumbuhan kawasan.

BPS merilis data inflasi Mei 2026 yang melonjak 3,08% YoY (surv: 2,97%, Apr: 2,42%). Kenaikan tsb terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras secara tahunan (8,10%) akibat akumulasi kenaikan biaya pupuk, bahan bakar, dan rantai distribusi selama setahun. Selain itu, imported inflation akibat depresiasi Rupiah serta tren kenaikan harga emas perhiasan juga turut berkontribusi pada kenaikan inflasi tahunan.

Secara bulanan, inflasi tercatat naik 0,28% MoM (Apr: 0,13%) yang terutama disebabkan oleh komponen volatile foods seiring kelangkaan pasokan di pasar utk komoditas cabai merah, bawang merah, dan tomat akibat faktor cuaca selama bulan Mei. Selain itu, terdapat juga kontribusi dari kenaikan harga beras bulanan sebesar 0,58% MoM dan kenaikan tarif transportasi udara serta dampak lanjutan kenaikan harga BBM nonsubsidi yg menyebabkan komponen biaya transportasi naik 0,61% MoM.

PMI Manufaktur Indonesia bulan Mei 2026 naik menjadi 50,0 (Apr: 49,1), sehingga kembali masuk ke zona ekspansi setelah satu bulan berada di wilayah kontraksi. Perbaikan terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan pesanan baru, meskipun permintaan ekspor masih terkontraksi selama tiga bulan terakhir. Di sisi lain, sektor manufaktur masih menghadapi tekanan biaya input dan gangguan pasokan bahan baku yang mendorong kenaikan harga jual pada laju tercepat sejak Oktober 2013. Pelaku industri meningkatkan persediaan bahan baku untuk kebutuhan enam bulan produksi sebagai langkah mitigasi terhadap ketidakpastian global.

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus $0,09 miliar pada Apr-2026, turun signifikan dari surplus $3,32 miliar pada Mar-2026 seiring lonjakan impor yang mengimbangi pertumbuhan ekspor. Ekspor tumbuh 21,98% YoY menjadi $25,30 miliar, didorong oleh ekspor nonmigas, sementara impor meningkat 22,49% YoY menjadi $25,21 miliar akibat tingginya impor migas, bahan baku, dan barang modal. Surplus yang menyempit mengindikasikan tekanan pada sektor eksternal masih berlanjut meskipun kinerja ekspor menunjukkan perbaikan yang kuat.

Pemerintah menerapkan PP No. 21 Tahun 2026 tentang DHE SDA mulai 1 Juni 2026 yang mewajibkan eksportir SDA merepatriasi 100% devisa hasil ekspor ke dalam negeri. Kebijakan ini ditujukan utk memperkuat pasokan valas domestik, menjaga stabilitas Rupiah, dan mendukung pembiayaan pembangunan. Pemerintah memberikan insentif berupa tarif PPh penempatan DHE SDA yang lebih rendah hingga 0% sesuai tenor penempatan, atau lebih kompetitif dibandingkan instrumen investasi umum yg dikenakan PPh hingga 20%.

The Jakarta Post menyoroti wacana terkait penambahan mandat BI untuk mendukung pasar tenaga kerja dan penciptaan lapangan kerja, yang mirip dengan dual mandate The Fed. Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menyatakan keputusan final masih dibahas dan akan ditentukan dalam tahap finalisasi revisi UU P2SK.

Lelang SBSN (Sukuk) 2 Juni 2026 mencatat permintaan yang tetap solid dengan total penawaran masuk mencapai Rp26,05 triliun atau 2,9x dari nominal dimenangkan sebesar Rp8,85 triliun. Minat investor terutama terkonsentrasi pada tenor menengah-panjang, tercermin dari bid-to-cover ratio PBS005 (24,77x), PBS030 (17,18x), dan PBS038 (17,04x). Di sisi lain, pemerintah tetap selektif dalam memenangkan penawaran guna menjaga biaya pembiayaan, yang tercermin dari rendahnya jumlah lelang yang dimenangkan dibandingkan penawaran yg masuk pada seri PBS005, PBS034, dan PBS038.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat dgn kisaran penurunan yield sebesar 0-4bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 4bps ke level 6,66% (ytd: +61bps), seiring sentimen positif dari penguatan terbatas Rupiah.

IHSG ditutup menguat 1,11% ke level 6.195,43, terutama disebabkan oleh penguatan saham-saham sektor energi dan beberapa saham berkapitalisasi besar, di tengah penilaian investor atas rilis data PMI manufaktur Indonesia yang kembali ke zona ekspansi dan mengindikasikan aktivitas ekonomi domestik tetap resilien.

Rupiah ditutup menguat 0,20% ke level 17.838 dibandingkan penutupan Jumat lalu 17.874 (29/5).


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP