Financial Market Update
IDR10 : 6,68% - 6,71% (cl: 6,70%)
IDR5 : 6,66% - 6,75% (cl: 6,71%)
UST10 : 4,43% - 4,46% (last: 4,43%)
IDR : 17.793 - 17.887 (cl: 17.874)
DXY : 98,78 - 99,19 (last: 98,81)
JCI : 6.111,97 - 6.230,50 (cl: 6.127,38)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +3bps to 6,71%
FR0108 (10yr) : +1bps to 6,70%
FR0106 (15yr) : 0bps to 6,84%
FR0107 (20yr) : +1bps to 6,85%
Point of Interest:
• AS-Iran dikabarkan mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan melanjutkan pembicaraan program nuklir Iran. Dalam proposal tersebut, Iran diminta membersihkan seluruh ranjau di Selat Hormuz dalam 30 hari dan menjamin pelayaran tetap lancar tanpa pungutan dari Oman. Namun, Presiden Trump belum menyetujui proposal tersebut dan AS tetap menuntut Iran menghentikan program nuklirnya sebagai syarat utama kesepakatan.
• AS-Iran diberitakan sempat terlibat dalam serangan baru yang sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar. Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi setelah militer AS menembak jatuh lima drone serang Iran dan menghancurkan fasilitas kendali drone di Bandar Abbas, sementara Kuwait mencegat rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya. Di sisi lain, AS membantah laporan media pemerintah Iran mengenai jatuhnya pesawat militer AS di dekat Bushehr, mencerminkan masih berlanjutnya perang informasi di tengah eskalasi konflik kawasan.
• Rilis data inflasi PCE AS periode Apr-2026 terakselerasi ke 3,8% YoY (Mar: 3,5%), level tertinggi sejak Mei 2023, sementara core PCE naik ke 3,3%. Kenaikan tersebut sebagian besar dipicu oleh naiknya harga energi akibat krisis Selat Hormuz yang mendorong pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga (FFR) hingga akhir 2026, dengan peluang langkah berikutnya berupa kenaikan suku bunga. Bank Mandiri menilai bahwa repricing stance hawkish dan ekspektasi langkah Fed selanjutnya akan memperkuat USD dan menambah tekanan pada aset emerging market, termasuk Rupiah dan SBN.
• Persediaan minyak mentah AS turun sebesar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 22 Mei 2026, menandai penurunan mingguan kelima berturut-turut. Total stok minyak komersial AS berada di angka 441,7 juta barel, sekitar 2% di bawah rata-rata musiman lima tahun. Penurunan persediaan tsb memperlihatkan pasokan minyak AS yang masih relatif ketat di tengah tingginya permintaan energi global, sekaligus mengindikasikan berkurangnya cadangan minyak siap distribusi yang berpotensi mendorong harga minyak dunia di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
• Presiden FedRes Bank of St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan The Fed tidak bisa mengandalkan potensi lonjakan produktivitas dari AI untuk meredakan inflasi yang masih tinggi. Ia menilai pasar tenaga kerja tetap stabil, inflasi masih jauh di atas target 2%, dan ekspektasi inflasi jangka panjang mulai meningkat. Musalem juga memperingatkan bahwa jika disinflasi tidak terlihat dalam 1-2 kuartal ke depan, terdapat kemungkinan bahwa ekonomi memerlukan kenaikan suku bunga.
• Presiden FedRes Minneapolis, Neel Kashkari, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, meskipun risiko inflasi tetap tinggi di tengah dampak perang Iran terhadap harga energi. Kashkari menegaskan bahwa The Fed perlu mempertahankan fleksibilitas kebijakan dan terus mencermati perkembangan data ekonomi serta dinamika geopolitik, mengingat inflasi berpotensi bertahan pada level tinggi lebih lama dan meningkatkan risiko ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali.
• Inflasi konsumen di Tokyo melambat ke 1,4% YoY pada Mei-2026 (surv: 1,6%; Apr: 1,5%), terutama dipengaruhi oleh subsidi pemerintah untuk menekan biaya utilitas (listrik dan air) serta biaya pendidikan. Di sisi lain, harga pangan non-segar naik 4,1%, namun harga beras mencatatkan penurunan sebesar 1%. Inflasi Tokyo merupakan leading indicator bagi tren inflasi nasional Jepang. Realisasi inflasi Tokyo di bawah target 2% memperumit langkah BOJ menjelang pertemuan kebijakan moneter pada Jun-2026, meskipun hingga kini pasar masih mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan BOJ bulan Juni.
• BI menyerap Rp40,0 triliun melalui lelang SRBI 29 Mei dari total penawaran yg masuk sebesar Rp43,15 triliun, lebih tinggi dibandingkan penyerapan pd lelang sebelumnya (22/5) sebesar Rp18 triliun. Weighted average yield meningkat di seluruh tenor dengan SRBI tenor 6 bulan naik ke 6,72% (prev 6,53%), 9 bulan ke 6,76% (prev 6,67%), dan 12 bulan ke 6,92% (prev 6,76%).
• Ekonom Barclays menilai BI masih berpotensi menaikkan BI Rate lebih lanjut apabila tekanan terhadap Rupiah berlanjut. Meskipun skenario dasar Barclays mengarah pada kenaikan 25bps pada RDG Juni, pelemahan rupiah yang berkelanjutan dapat mendorong BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 50bps menjadi 5,75% untuk memperkuat kredibilitas kebijakan dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun demikian, Barclays tetap memperkirakan BI akan beralih ke siklus pelonggaran moneter pada 2027.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dgn kisaran kenaikanyield sebesar 0-3bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1bps ke level 6,70% (ytd: +65bps) mengindikasikan bahwa investor masih berhati-hati di tengah berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tekanan terhadap Rupiah. Volume transaksi SBN outright mencapai Rp25,7 triliun, turun dari Rp36,3 triliun pada perdagangan hari Selasa (26/5).
• IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6.127,38 sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian terkait tensi geopolitik AS-Iran. Pelemahan IHSG terutama pada sektor barang konsumen non-primer (-2,20%), finansial (-1,52%), barang konsumen primer (-1,69%), dan energi (-1,04%).
• Rupiah ditutup melemah 0,48% ke level 17.874 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.789, akibat menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan arah kebijakan pemerintah, di tengah tekanan eksternal a.l. penguatan USD dan kenaikan harga minyak. Ekonom menilai pelemahan juga dipicu arus modal keluar dan kekhawatiran terhadap fiskal domestik, meski pemerintah menyebut fundamental ekonomi masih kuat. Kondisi ini mulai menekan sektor industri yang disebut memasuki “survival mode” akibat tekanan kurs dan impor.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP