Financial Market Update

IDR10 : 6,76% - 6,81% (cl: 6,76%)
IDR5 : 6,66% - 6,73% (cl: 6,66%)
UST10 : 4,55% - 4,63% (last: 4,56%)

IDR : 17.640 - 17.685 (cl: 17.654)
DXY : 99,06 - 99,52 (last: 99,17)
JCI : 6.080,95 - 6.378,81 (cl: 6.094,94)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -7bps to 6,66%
FR0108 (10yr) : -4bps to 6,76%
FR0106 (15yr) : -1bps to 6,85%
FR0107 (20yr) : -1bps to 6,85%

Point of Interest:

Rilis risalah FOMC meeting April cenderung hawkish. Dokumen risalah tsb menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed masih khawatir terhadap inflasi AS yang masih persisten. Selain itu, dokumen risalah juga menegaskan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan AS tetap menjadi opsi terbuka jika tekanan harga global tidak kunjung mereda.

Presiden AS Donald Trump merilis pernyataan bahwa negosiasi damai dengan Iran telah memasuki "tahap akhir" dan konflik diproyeksikan selesai dalam waktu dekat. Sementara itu, Rusia menawarkan untuk memfasilitasi perundingan perdamaian di tengah rencana Menteri Luar Negeri Iran untuk melakukan perjalanan ke New York untuk membahas masalah terkait Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto: Kebijakan baru pengelolaan ekspor komoditas strategis dan devisa hasil ekspor (DHE) ditujukan untuk mengoptimalkan harga ekspor serta memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global. Pemerintah akan menerapkan kewajiban ekspor produk olahan sekunder tertentu (CPO, RBD Olein, dan ferronickel) melalui perusahaan negara, disertai pengaturan retensi dan konversi DHE guna memperkuat ketahanan eksternal dan likuiditas valas domestik. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan relaksasi bagi sektor tertentu yang terikat perjanjian perdagangan bilateral guna menjaga fleksibilitas dan daya saing eksportir.

Moody's Ratings dan S&P Global Ratings memperingatkan bahwa kebijakan sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara berisiko menjadi kredit negatif bagi emiten dan menurunkan kepercayaan investor global akibat ketidakpastian kebijakan. Meskipun berpotensi memperkuat Rupiah dalam jangka panjang, intervensi ini dinilai dapat mendistorsi pasar dan menekan neraca pembayaran Indonesia.

Pelaku pasar masih merespon negatif kebijakan pembentukan badan ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia oleh Presiden Prabowo. Rencana sentralisasi kendali ekspor komoditas ini menimbulkan kekhawatiran berat di kalangan investor mengenai risiko perubahan aturan perdagangan dan potensi dominasi negara terhadap sektor swasta, sehingga memicu aksi jual di pasar saham (risk-off).

CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa pemerintah akan tetap menghormati kontrak ekspor kelapa sawit, batu bara, dan feroloy yang sudah ada. Namun, ia menegaskan opsi peninjauan tetap terbuka jika harga kontrak jangka panjang berada di bawah harga pasar internasional.

Analis SEB AB: BI akan berupaya memperlambat laju depresiasi Rupiah, namun diperkirakan belum mampu menghentikan tren pelemahan secara total hingga indeks USD mencapai titik puncaknya. Sementara itu, JB Drax Honore menyatakan bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih terbuka lebar. Hal ini mengingat spread imbal hasil SBN Indonesia terhadap UST saat ini masih berada di level yang relatif sempit secara historis.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat (bullish steepening curve) dgn kisaran penurunan yield sebesar 1-7bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 4bps ke level 6,76% (ytd: +71bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp19,5 triliun, naik dari Rp15,9 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

IHSG ditutup melemah 3,54% ke level 6.094,94 seiring berlanjutnya penyesuaian pelaku pasar terhadap kenaikan BI Rate sebesar 50bps menjadi 5,25% yang diumumkan BI kemarin serta rebalancing index MSCI menuju tanggal 29 Mei 2026. Pelaku pasar menantikan rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI/BoP) Q1-2026 hari Jumat (22/5) sebagai indikator penting untuk mengukur ketahanan sektor eksternal Indonesia. Pelemahan terbesar IHSG dikontribusikan oleh sektor energi (-6,91%), barang baku (-6,53%), dan konsumen non-primer (-6,05%).

Rupiah ditutup melemah 0,28% ke level 17.654 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.605 seiring kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih cenderung negatif untuk Rupiah.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP