Financial Market Update
IDR10 : 6,75% - 6,80% (cl: 6,80%)
IDR5 : 6,67% - 6,74% (cl: 6,73%)
UST10 : 4,62% - 4,68% (last: 4,62%)
IDR : 17.605 - 17.760 (cl: 17.605)
DXY : 99,15 - 99,47 (last: 99,22)
JCI : 6.215,56 - 6.459,56 (cl: 6.318,50)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +5bps to 6,73%
FR0108 (10yr) : +5bps to 6,80%
FR0106 (15yr) : +2bps to 6,86%
FR0107 (20yr) : +1bps to 6,86%
Point of Interest:
• Presiden Prabowo Subianto memaparkan asumsi makroekonomi Indonesia untuk tahun 2027 pada Sidang Paripurna ke-19 DPR RI. Pemerintah menargetkan pertumbuhan PDB sebesar 5,8%–6,5%, inflasi di kisaran 1,5%–3,5%, yield SBN tenor 10 tahun dijaga pada kisaran 6,5%–7,3%, nilai tukar Rupiah berada di level Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, serta defisit APBN diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran 1,80%–2,40% terhadap PDB.
• Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% (hawkish surprise) diikuti penyesuaian Deposit Facility menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6,00%. Keputusan tsb diluar ekspektasi konsensus (slim majority) yang memperkirakan kenaikan 25bps ke level 5,00%. Langkah pre-emptive dan forward-looking melalui pengetatan kebijakan moneter secara agresif tsb dilakukan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5% ± 1%.
• Para pelaku pasar dan analis ekonomi memandang kebijakan BI sebagai keputusan yang bold namun rasional (calculated surprise). Ekonom sepakat bahwa BI mengutamakan stabilitas (stability over growth) untuk mengantisipasi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan efek kenaikan yield UST. Kenaikan ini dinilai sebagai langkah pre-emptive yang tepat guna menjaga level cadangan devisa yang terus menyusut dan meredam volatilitas Rupiah. Namun, para pelaku pasar modal menggarisbawahi adanya risiko transmisi berupa kenaikan cost of fund yang berpotensi memicu kontraksi likuiditas perbankan serta menghambat akselerasi pertumbuhan kredit sektoral.
• Mandiri Sekuritas menilai kenaikan agresif BI-Rate sebesar 50 bps menegaskan fokus utama BI pada stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus memperkuat kredibilitas dan independensinya di mata pasar. Meskipun peluang kenaikan suku bunga lanjutan tetap terbuka tergantung pergerakan Rupiah, langkah ini diproyeksikan bukan merupakan awal dari tren pengetatan moneter jangka panjang karena realisasi investasi domestik masih lemah dan pertumbuhan PDB nasional belum mencapai potensi optimal.
• Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas utama dimulai dengan minyak sawit, batu bara, dan ferologam, melalui SWF Danantara setelah masa transisi tiga bulan untuk memperketat kendali harga dan meningkatkan pendapatan negara. Kebijakan tsb memicu kekhawatiran investor, yang diproyeksikan oleh Macquarie Capital dapat memperpanjang outflows dari pasar modal akibat ketidakpastian regulasi dan dominasi BUMN yang semakin masif.
• Rencana sentralisasi mekanisme ekspor kelapa sawit oleh pemerintah dinilai para pelaku industri dan pengamat dapat merombak total struktur perdagangan serta merusak ekosistem pasar bebas akibat pemusatan kendali harga pada entitas negara. Kebijakan ini dikhawatirkan menurunkan transparansi, meningkatkan ketidakpastian pasar, mengganggu hubungan dengan pembeli luar negeri, serta melemahkan posisi tawar jutaan petani swadaya menjadi sekadar penerima harga (price taker). Langkah pengetatan ini diproyeksikan akan membuat pasokan minyak sawit dunia semakin ketat dan berpotensi menguntungkan Malaysia sebagai alternatif diversifikasi pasokan bagi pembeli global.
• Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat waktu terbatas sekitar 2-3 hari untuk kesepakatan nuklir sekaligus mengancam Iran dengan serangan besar yang akan berlanjut jika pembicaraan gagal. Sebelumnya, Trump telah mengadakan pengarahan keamanan nasional terbaru terkait opsi militer AS untuk menyerang Iran dalam waktu dekat.
• Iran menanggapi ultimatum Trump dengan mengajukan proposal perdamaian terbaru yang berisikan delapan syarat kepada AS, termasuk tuntutan terkait hak pengayaan uranium, pencabutan blokade, pelepasan aset yang dibekukan, dan penarikan militer AS dari Teluk Persia. IRGC menyatakan sangat waspada terhadap ancaman serangan militer Trump dan mengeluarkan peringatan keras bahwa jika AS-Israel melakukan kesalahan fatal dengan meluncurkan serangan baru, Iran siap membalas menggunakan seluruh kapasitas militernya hingga ke luar kawasan Timur Tengah.
• Senat AS meloloskan pemungutan suara prosedural (50 banding 47 suara) untuk memajukan War Powers Resolution. Langkah ini diambil oleh sejumlah politisi untuk membatasi wewenang militer sepihak Presiden Trump terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres, di tengah kekhawatiran biaya perang yang sudah membengkak melewati $30 miliar.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah (bearish flattening curve) dgn kisaran kenaikan yield sebesar 1-5bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 5bps ke level 6,80% (ytd: +75bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp15,9 triliun, turun dari Rp23,8 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.
• IHSG ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 pasca keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50bps menjadi 5,25% yang meningkatkan kekhawatiran atas kenaikan cost of fund perusahaan dan wait and see menjelang pidato Presiden pada sidang paripurna DPR. Pelemahan terbesar IHSG dikontribusikan oleh sektor barang baku (-4,67%), transportasi (-4,22%), dan energi (-2,65%).
• Rupiah ditutup menguat 0,56% ke level 17.605 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.705 setelah pengumuman kenaikan suku bunga acuan oleh BI dengan magnitude yang lebih besar dari ekspektasi slim majority pelaku pasar.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP