Financial Market Update
IDR10 : 6,73% - 6,76% (cl: 6,75%)
IDR5 : 6,65% - 6,69% (cl: 6,68%)
UST10 : 4,59% - 4,69% (last: 4,65%)
IDR : 17.670 - 17.733 (cl: 17.705)
DXY : 98,97 - 99,43 (last: 99,27)
JCI : 6.323,26 - 6.635,13 (cl: 6.370,68)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -1bps to 6,68%
FR0108 (10yr) : 0bps to 6,75%
FR0106 (15yr) : -2bps to 6,84%
FR0107 (20yr) : -2bps to 6,85%
Point of Interest:
• Presiden Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah mendapat permintaan dari para pemimpin negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang meminta waktu tambahan untuk mendorong solusi diplomatik. Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan positif sehingga serangan yang semula direncanakan dilakukan dalam waktu dekat diputuskan untuk ditunda sementara. Meski begitu, US disebut tetap siap mengambil tindakan militer jika kesepakatan yang dianggap memadai tidak tercapai. Sementara itu, belum terdapat konfirmasi langsung dari Teheran terkait dimulainya kembali negosiasi utk saat ini.
• Presiden Trump dijadwalkan melantik Kevin Warsh sebagai Fed Chairman pada Jumat (22/5). Pelantikan ini dilakukan setelah Senat AS resmi mengonfirmasi Kevin Warsh melalui pemungutan suara ketat dengan hasil 54 setuju berbanding 45 menolak. Hasil voting ini menjadi salah satu margin kemenangan paling tipis dalam sejarah The Fed. Di masa transisi ini, Powell bertindak sebagai ketua sementara (pro-tempore) sebelum menyerahkan estafet kepemimpinan sepenuhnya hari Jumat nanti.
• Komentar Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menjadi sorotan karena menilai inflasi jasa di AS masih tinggi dan tidak semata dipicu harga energi maupun tarif impor, sehingga The Fed membutuhkan arahan yang jelas dari kepemimpinan baru. Goolsbee juga mengisyaratkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat mempersulit keinginan Trump untuk mendorong penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
• Kemenkeu memaparkan realisasi dan kinerja APBN hingga periode akhir April 2026, dengan defisit anggaran tercatat sebesar Rp164,4 triliun (0,64% PDB) atau membaik cukup signifikan dibandingkan posisi defisit Maret 2026 yang sempat menyentuh Rp240,1 triliun (0,93% PDB). Realisasi pendapatan negara mencapai Rp918,4 triliun (+13,3% YoY), terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp746,9 triliun (+13,7% YoY), di mana sektor pajak murni menyumbang Rp646,3 triliun. Realisasi belanja negara melonjak ekspansif mencapai Rp1.082,8 triliun (+34,3% YoY). Total belanja tersebut terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp826 triliun dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp256 triliun. Keseimbangan primer berbalik mengalami surplus Rp28,0 triliun pada April 2026, setelah pada bulan sebelumnya sempat mencatatkan defisit sebesar Rp95,8 triliun.
• Rumor terkait pembentukan Badan Khusus Ekspor Komoditas dan wacana penerapan windfall tax pada sektor komoditas memicu aksi jual IHSG. Pelaku pasar khawatir skema ekspor satu pintu untuk batu bara dan CPO, yang mewajibkan eksportir menjual komoditas melalui badan khusus negara, berpotensi menekan margin emiten melalui pengambilan spread harga serta meningkatkan intervensi pemerintah terhadap mekanisme pasar. Sentimen negatif semakin diperburuk oleh rencana kenaikan royalti minerba dan kajian windfall tax untuk nikel serta batu bara guna menopang kebutuhan fiskal dan subsidi energi di tengah memanasnya konflik geopolitik Timur Tengah.
• Pelaku pasar menantikan hasil RDG Bank Indonesia besok. Konsensus Bloomberg menunjukkan median proyeksi BI Rate naik 25 bps menjadi 5,00%. Dari 40 ekonom yang disurvei, sebanyak 25 ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga ke 5,00%, sementara sisanya memproyeksikan BI Rate tetap di level 4,75%.
• BI optimistis rupiah akan kembali menguat ke rata-rata sekitar Rp16.500 per dolar AS tahun ini,sesuai dalam kisaran asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.200–Rp16.800 per dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah sebesar 5.8% sejak awal tahun masih tergolong terkendali, dengan fokus utama BI saat ini menjaga volatilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan pengelolaan yield obligasi pemerintah.
• Hasil lelang SBSN: Pemerintah menerbitkan SBSN sebesar Rp12,0 triliun pada lelang hari ini, dengan total incoming bids sebesar Rp18,8 triliun turun dari Rp21,2 triliun pada lelang sebelumnya. Bid-to-cover (btc) ratio secara total turun ke 1,57x dibandingkan lelang sebelumnya 1,77x dan rata-rata YtD sebesar 2,55x. Hal ini mencerminkan sentimen pasar obligasi domestik masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari yield global, harga minyak, dan stabilitas Rupiah. Permintaan terbesar pada seri PBS038 tenor panjang (24 tahun) sebesar Rp4,7 triliun (btc 1,06x) yang mengindikasikan strategi pemerintah untuk lock-in pendanaan tenor panjang dan sinyal bahwa investor melihat level yield PBS038 di area 6,80-6,90 sebagai level atraktif.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak sideways cenderung menguat dgn kisaran pergerakan yield sebesar 0-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup stabil di level 6,75% (ytd: +70bps). Volume transaksi outright mencapai Rp23,8 triliun, turun dari Rp24,8 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.
• IHSG ditutup melemah 3,46% ke level 6.370,68 di tengah penguatan terbatas bursa saham regional Asia. Tertekannya IHSG terutama disebabkan oleh sentimen negatif dari isu domestik terkait pembentukan badan ekspor komoditas, di tengah berlanjutnya dampak rebalancing indeks MSCI, terpuruknya nilai tukar Rupiah, dan kekhawatiran kenaikan suku bunga BI. Pelemahan terbesar IHSG dikontribusikan oleh sektor barang baku (-7,30%) dan energi (-6,94%).
• Rupiah ditutup melemah 0,28% ke level 17.705 (level terlemah secara historis) dibandingkan penutupan sebelumnya 17.656.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP