Financial Market Update
IDR10 : 6,68% - 6,83% (cl: 6,75%)
IDR5 : 6,56% - 6,74% (cl: 6,69%)
UST10 : 4,56% - 4,63% (last: 4,60%)
IDR : 17.570 - 17.669 (cl: 17.656)
DXY : 98,98 - 99,41 (last: 99,15)
JCI : 6.398,79 - 6.631,28 (cl: 6.599,24)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +11bps to 6,69%
FR0108 (10yr) : +7bps to 6,75%
FR0106 (15yr) : +3bps to 6,86%
FR0107 (20yr) : +5bps to 6,87%
Point of Interest:
• Presiden Trump memperingatkan bahwa waktu bagi Iran “semakin menipis” dan menyatakan bahwa “tidak akan ada yang tersisa” jika Teheran tidak segera mencapai kesepakatan. Trump juga menegaskan bahwa “waktu sangat krusial,” dan mengancam akan mengambil langkah militer yang lebih agresif apabila Teheran gagal menerima proposal dari AS. Pernyataan tsb disampaikan di tengah upaya negosiasi nuklir AS-Iran yang menghadapi jalan buntu.
• Hasil pertemuan AS-China menunjukkan bahwa gencatan perang tarif antara kedua negara secara umum masih berlanjut. Pemimpin kedua negara menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama perdagangan. Presiden Trump menyoroti rencana China untuk memesan 200 pesawat Boeing, meningkatkan impor produk pertanian AS, serta mempertimbangkan kenaikan pembelian minyak mentah AS guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah di tengah ketidakpastian status Selat Hormuz.
• China belum memberikan komitmen tegas untuk membatasi pembelian minyak Iran meski mendapat tekanan dari AS, sehingga risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi berlanjut. Pembahasan geopolitik tetap dibayangi tensi, terutama terkait Taiwan, di mana Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa isu tersebut merupakan kepentingan inti China dan kesalahan penanganan dapat memicu bentrokan serius di kawasan.
• International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasar minyak global akan mengalami defisit pasokan sebesar 1,78 juta barel per hari (bpd) pada 2026 akibat eskalasi konflik Iran yang mengganggu produksi minyak Timur Tengah dan membatasi distribusi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini berbalik tajam dari proyeksi surplus sebelumnya oleh IEA dan dinilai sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi, dengan lebih dari 14 juta bpd produksi minyak kawasan Teluk yg terdampak. IEA memperkirakan pasar masih akan berada dalam kondisi undersupply hingga Q3-2026, meskipun konflik diasumsikan mulai mereda. Sementara itu, tingginya harga energi diperkirakan juga akan menekan permintaan global melalui perlambatan aktivitas ekonomi dan pelemahan konsumsi energi, khususnya pada sektor petrokimia dan aviasi.
• Hasil survey Reuters dengan slim majority memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan 25bps pada RDG pekan ini, didorong oleh pelemahan Rupiah yg terus berlangsung meskipun upaya intervensi rutin telah dilakukan secara intensif. Sebanyak 16 dari 29 ekonom dalam survei Reuters periode 11–18 Mei memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan BI-Rate menjadi 5,00% pada 20 Mei 2026. Suku bunga fasilitas deposit dan lending juga diperkirakan naik masing-masing 25bps menjadi 4,00% dan 5,75%.
• Senior Economist OCBC Bank memperkirakan bahwa kenaikan BI-Rate (jika terjadi) di tengah inflasi yang masih terkendali dapat dipandang sebagai langkah pre-emptive, meskipun peluang kenaikan lanjutan tetap terbuka. Sementara itu, Jason Tuvey dari Capital Economics menilai BI kemungkinan masih akan mengandalkan intervensi pasar valas dibandingkan menaikkan suku bunga untuk saat ini.
• Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai BI perlu mengambil sikap yang lebih agresif (hawkish) dengan menaikkan suku bunga acuan secara pre-emptive. Menurutnya, kenaikan BI-Rate diperlukan hingga 50bps menyusul kondisi nilai tukar Rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS. Fakhrul menekankan bahwa pelemahan Rupiah tsb sudah mulai mengguncang kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia. Masalahnya bukan lagi sekadar harga minyak dunia atau arah suku bunga The Fed, melainkan upaya mempertahankan kepercayaan pasar (policy anchor) agar Indonesia tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat hilangnya jangkar ekspektasi tersebut.
• Aberdeen Group Plc.: Underperformance pada aset domestik Indonesia mencerminkan fundamental domestik yg lebih lemah dibandingkan peers dan sikap investor yg masih berhati-hati. Aberdeen menilai bahwa porsi kepemilikan asing di obligasi pemerintah Indonesia sudah tergolong minim ( light positioning ), namun belum terdapat tanda-tanda investor asing akan kembali masuk dalam jumlah besar pada tahap ini. Menurut Aberdeen, pasar masih memantau ketat arah kebijakan moneter serta prospek fiskal, yang menjadi jangkar utama bagi kepercayaan pasar terhadap aset Indonesia.
• Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia melambat pada Q1-2026, dengan total ULN tercatat sebesar $433,4 miliar atau tumbuh 0,8% YoY, lebih rendah dibandingkan 1,9% YoY pada Q4-2025. Pertumbuhan tsb disebabkan oleh ULN pemerintah yang tumbuh lebih lambat sebesar 3,8% YoY (vs. 5,5% YoY sebelumnya) menjadi $214,7 miliar, dipengaruhi oleh aliran modal asing ke SBN internasional (foreign currency). Sementara itu, ULN swasta terkontraksi 1,8% YoY menjadi $191,4 miliar disebabkan oleh penurunan pada korporasi keuangan dan non-keuangan. Rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5% (Q4-2025: 30%) dengan dominasi utang jangka panjang sebanyak 85,4%.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah (curve bearish flattening) dgn kisaran kenaikan yield sebesar 3-11bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 7 bps ke level 6,75% (ytd: +70bps). Volume transaksi outright mencapai Rp24,8 triliun, naik dari Rp15,6 triliun pada perdagangan hari Rabu pekan lalu.
• IHSG ditutup melemah 1,85% ke level 6.599,24 sejalan dengan pelemahan bursa regional Asia seiring meningkatnya tekanan geopolitik AS-Iran yg berdampak kepada peningkatan harga minyak dan renewed concern thd potensi peningkatan inflasi ke depan. Net jual investor asing hari ini mencapai Rp463,7 miliar yg menjadikan net jual asing secara YtD 2026 mencapai Rp41,3 triliun.
• Rupiah ditutup melemah 1,09% ke level 17.656 (level terlemah secara historis) dibandingkan penutupan sebelumnya 17.465.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP