Financial Market Update
IDR10 : 6,77% - 6,80% (cl: 6,80%)
IDR5 : 6,69% - 6,78% (cl: 6,78%)
UST10 : 4,40% - 4,44% (last: 4,41%)
IDR : 17.395 - 17.443 (cl: 17.425)
DXY : 98,31 - 98,58 (last: 98,44)
JCI : 6.921,61 - 7.069,21 (cl: 7.057,11)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +8bps to 6,78%
FR0108 (10yr) : +3bps to 6,80%
FR0106 (15yr) : +3bps to 6,89%
FR0107 (20yr) : +1bps to 6,79%
Point of Interest:
• AS dan Iran saling baku tembak di Selat Hormuz. Militer AS menyatakan Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan rudal ke kapal perang dan kapal komersial AS, sementara pasukan AS mencoba untuk melindungi semua kapal komersial dari drone yang dikerahkan oleh Iran. Sebuah kapal tanker juga dilaporkan dihantam drone di dekat Selat Hormuz yg diduga sbg serangan balasan Iran dengan target ke berbagai lokasi di Uni Emirat Arab (UEA).
• Harga minyak Brent bertahan di atas level $110/barel seiring peningkatan tensi di Timur Tengah secara signifikan. UEA melaporkan menahan serangan rudal Iran yang datang dan mengkonfirmasi kebakaran di fasilitas minyak Fujairah, menjadi salah satu serangan infrastruktur besar pertama dalam beberapa pekan terakhir. Harga rata-rata bensin di AS saat ini telah mencapai $4,48 per gallon, naik 31 sen dalam sepekan, atau telah naik sekitar 50% sejak konflik AS-Iran dimulai lebih dari 2 bulan lalu.
• Kepala Komite Pertahanan UEA mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap Iran, dgn sistem pertahanan Iron Dome buatan Israel telah beroperasi di seluruh wilayah UEA. Potensi aksi militer UEA secara independen atau terkoordinasi tsb akan menjadi ancaman serius yg akan meningkatkan ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
• RBA kembali menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut menjadi 4,35% dari sebelumnya 4,10%. Gubernur Michele Bullock mengindikasikan bahwa RBA akan memasuki fase “pause” untuk mengevaluasi langkah kebijakan selanjutnya. Komite kebijakan yang beranggotakan sembilan orang memutuskan menaikkan suku bunga melalui voting 8-1.
• Data GDP Indonesia Q1-2026 tumbuh sebesar 5,61% YoY (surv: 5,40%), ditopang oleh konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan dan Lebaran (+5,52%) serta akselerasi belanja pemerintah pada awal tahun 2026. Capaian ini mencerminkan akselerasi dibandingkan Q4-2025 +5,39% YoY serta peningkatan yang solid dari 4,87% YoY pada Q1-2025. Namun, secara kuartalan, perekonomian mengalami kontraksi sebesar 0,77% QoQ.
• Menkeu Purbaya menyampaikan perkembangan defisit fiskal dalam konferensi pers APBN Kita. APBN membukukan defisit sebesar Rp240,1 triliun per akhir Mar-2026 (+130,4% YoY) atau setara dengan 0,93% dari PDB. Pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun per Mar-2026 atau setara 18,2% dari target pendapatan negara tahun 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp815 triliun per Maret 2026 yang setara 21,2% dari target belanja negara tahun 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Keseimbangan primer tercatat defisit Rp95,8 triliun atau diatas target desain defisit sebesar Rp89,7 triliun.
• Realisasi belanja subsidi dan kompensasi dilaporkan sebesar Rp118,7 triliun hingga Mar-2026, terdiri dari subsidi Rp52,2 triliun dan kompensasi Rp66,5 triliun. Belanja subsidi mencakup energi (BBM, LPG, listrik), pupuk, serta kredit usaha rakyat (KUR), sementara belanja kompensasi merupakan pembayaran penggantian bulanan kepada BUMN energi seperti PLN dan Pertamina.
• BI kembali memperketat ketentuan pembelian valas tunai sebagai bagian dari upaya stabilisasi Rupiah. Gubernur BI menyatakan bahwa batas pembelian valas tanpa dokumen pendukung kini diturunkan menjadi $25.000 per pembeli per bulan, dari sebelumnya $50.000. Sebagai catatan, sejak April lalu BI telah membatasi pembelian valas tunai tanpa underlying pada level $50.000 per pembeli per bulan, sebelum pengetatan lanjutan ini diberlakukan.
• BPS: Tingkat pengangguran Indonesia turun menjadi 4,68% per Feb-2026, dibandingkan 4,76% pada Feb-2025. Total angkatan kerja meningkat menjadi 154,9 juta orang, sementara jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,24 juta orang, sedikit menurun dari 7,28 juta pada tahun sebelumnya.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-8bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 6,80%. Volume transaksi outright mencapai Rp27,8 triliun, naik dari Rp18,8 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.
• IHSG ditutup menguat 1,22% ke level 7.057,11 yang didukung oleh rilis data makroekonomi domestik yang positif. Kinerja IHSG terutama ditopang oleh kenaikan pada sektor barang baku (+2,86%), infrastruktur (+2,58%), dan keuangan (+2,30%).
• Rupiah ditutup melemah 0,26% ke level 17.425 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.380, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yg kembali terjadi sehingga mendorong pelaku pasar kembali ke USD sbg safe haven currency.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP