Financial Market Update

IDR10 : 6,82% - 6,90% (cl: 6,83%)
IDR5 : 6,70% - 6,82% (cl: 6,70%)
UST10 : 4,38% - 4,43% (last: 4,38%)

IDR : 17.353 - 17.383 (cl: 17.353)
DXY : 98,20 - 99,09 (last: 98,50)
JCI : 6.876,58 - 7.109,00 (cl: 6.956,80)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -7bps to 6,70%
FR0108 (10yr) : -5bps to 6,83%
FR0106 (15yr) : +1bps to 6,87%
FR0107 (20yr) : -2bps to 6,79%

Point of Interest:

Harga minyak Brent melanjutkan tren kenaikannya hingga menembus $126/barel, sebelum terkoreksi dan kembali ke kisaran $115/barel. Lonjakan ini dipicu laporan bahwa Presiden AS, Donald Trump, akan menerima pengarahan terkait opsi militer baru terhadap Iran, dengan US Central Command dijadwalkan memaparkan rencana serangan terbaru yang mengindikasikan bahwa opsi eskalasi militer kembali terbuka. Di saat yang sama, AS juga dilaporkan tengah mempersiapkan penggunaan rudal hipersonik “Dark Eagle” untuk pertama kalinya, yang berpotensi memperluas jangkauan serangan ke wilayah Iran sekaligus menjadi sinyal strategis kepada China dan Rusia atas peningkatan kapabilitas militer AS. Perkembangan ini memperkuat indikasi bahwa fase lanjutan konflik berpotensi berlangsung lebih cepat, lebih dalam, dan dengan tingkat risiko yang semakin tinggi.

China meningkatkan upaya mitigasi menjaga ketahanan energi domestik melalui komitmen China National Petroleum Corp. untuk memaksimalkan upaya mengamankan pasokan energi domestik. Pemerintah China saat ini mengandalkan cadangan minyak strategis, batu bara dan percepatan elektrifikasi guna meredam dampak guncangan harga minyak. Kondisi ini menegaskan bahwa guncangan energi yang terjadi bersifat global dan berdampak luas, tanpa ada negara yang benar-benar kebal.

AS mendorong negara-negara lain untuk membentuk koalisi internasional guna menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, seiring harga minyak Brent yang kembali melonjak dan bertahan di sekitar $115/barel, didorong oleh kekhawatiran atas potensi gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global.

JPY kembali berada dalam radar intervensi seiring keterbatasan amunisi otoritas untuk menahan pelemahannya. Gap suku bunga yang semakin melebar antara Jepang-AS serta guncangan harga minyak terbaru mendorong JPY mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi pada tahun lalu. Pelaku pasar menilai intervensi langsung di pasar valas menjadi satu-satunya opsi jangka pendek, khususnya di tengah likuiditas tipis periode libur Golden Week pekan depan. Namun demikian, langkah tersebut diperkirakan hanya memberikan penguatan sementara, mengingat faktor fundamental masih mengarah pada tren pelemahan JPY.

Perbedaan pandangan di FOMC meeting April dan risiko inflasi menyebabkan pergeseran ekspektasi pelaku pasar ke arah pengetatan kebijakan moneter. Pelaku pasar menilai bahwa perbedaan tsb bernuansa hawkish terutama ketika statement FOMC mengubah istilah terkait inflasi menjadi “elevated” dibandingkan sebelumnya “somewhat elevated”, mengindikasikan bahwa mayoritas anggota kini melihat inflasi sebagai risiko yang lebih mendesak.

Pelaku pasar menilai tantangan bagi Kevin Warsh semakin besar untuk merealisasikan harapan pemerintah AS memangkas suku bunga acuan. Hal ini dipicu oleh keputusan Powell untuk tetap menjadi anggota komite hingga masa jabatannya berakhir di Januari 2028. Tanpa pelemahan signifikan pada pasar tenaga kerja, peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat dinilai terbatas di tengah komite yang terfragmentasi.

S&P Global Ratings menilai prospek fiskal Indonesia tetap terjaga, didukung pemulihan penerimaan terutama dari sektor komoditas yang membantu meredam tekanan belanja akibat tingginya harga minyak. Defisit fiskal diperkirakan tetap di bawah 3% PDB, dengan pertumbuhan 2026 sekitar 5%, inflasi 3,2% YoY, dan Rupiah di kisaran Rp16.850/USD di tengah potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia sebesar 50 bps. Secara keseluruhan, faktor mitigasi dinilai cukup menjaga stabilitas peringkat tanpa risiko penurunan struktural dalam waktu dekat.

ANZ memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga 50 bps menjadi 5,25% pada akhir tahun, seiring tekanan nilai tukar dan meningkatnya risiko inflasi, dengan proyeksi inflasi 2026 direvisi naik ke 3,5%. Dampak konflik Timur Tengah dinilai menekan ruang kebijakan melalui faktor eksternal, subsidi, dan premi risiko, sementara pertumbuhan ekonomi Q1-2026 diperkirakan menguat didukung realisasi belanja pemerintah.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan menyuarakan 11 tuntutan saat unjuk rasa May Day besok, termasuk usulan bebas pajak bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp7,5 juta/bulan.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark mayoritas bergerak menguat dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-7bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 5 bps ke level 6,83%. Volume transaksi outright mencapai sebesar Rp25,2 triliun, turun dari Rp32,8 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

IHSG ditutup melemah 2,03% ke level 6.956,80 seiring dengan melemahnya rupiah akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan harga minyak dunia. Berdasarkan sektor, pelemahan IHSG disebabkan oleh kinerja sektor perindustrian (-2,95%), infrastruktur (-2,92%), dan barang baku (-2,91%).

Rupiah ditutup melemah 0,36% ke level 17.353 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.290.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP