Financial Market Update
IDR10 : 6,56% - 6,57% (cl: 6,56%)
IDR5 : 6,24% - 6,25% (cl: 6,24%)UST10 : 4,26% - 4,32% (last: 4,31%)
IDR : 17.127 - 17.146 (cl: 17.136)
DXY : 97,83 - 98,29 (last: 98,21)JCI : 7.575,53 - 7.705,03 (cl: 7.621,38)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 6,24%FR0108 (10yr) : -1bps to 6,56%
FR0106 (15yr) : -1bps to 6,69%FR0107 (20yr) : -1bps to 6,65%
Point of Interest:
• Bloomberg memberitakan bahwa AS-Iran mempertimbangkan perpanjangan periode gencatan senjata selama dua minggu untuk memberikan lebih banyak waktu bagi negosiasi kesepakatan perdamaian. Gencatan senjata pertama dimulai pd 8 April dan akan berakhir pd 22 April mendatang. Namun, juru bicara Gedung Putih membantah bahwa AS telah mengajukan permintaan resmi terkait perpanjangan tsb, meskipun menyatakan bahwa proses negosiasi terus berjalan secara produktif.
• Pemberitaan di berbagai media menyoroti dua isu utama diskusi perdamaian, yaitu terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran. Baru-baru ini Presiden Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah sangat dekat dan Iran telah setuju untuk menyerahkan simpanan uranium yg diperkaya.
• US Central Command (CENTCOM) melaporkan setidaknya 13 kapal telah mematuhi perintah untuk berputar balik dan kembali ke pelabuhan atau wilayah pesisir Iran. Hal in terjadi menyusul pemberlakuan blokade laut oleh AS pada seluruh pelabuhan dan garis pantai Iran mulai 13 April lalu.
• Pejabat The Fed memprediksi bahwa suku bunga akan ditahan untuk waktu yg cukup lama. Pernyataan tsb disampaikan oleh Presiden Bank Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden Bank Fed St. Louis Alberto Musalem, yang menyoroti risiko inflasi akibat guncangan energi terutama ke inflasi inti yg mungkin akan mencapai 3% atau di atas target The Fed sebesar 2%.
• Harga minyak jenis Brent stabil di kisaran $95-$97/barel sekitar seiring ekspektasi AS-Iran akan melakukan negosiasi lanjutan. Delegasi Pakistan diberitakan tiba di Iran untuk memediasi lebih lanjut diskusi kesepakatan perdamaian AS-Iran.
• Data GDP China Q1-2026 tumbuh sebesar 5% YoY, di atas ekspektasi pasar sebesar 4,8% dan data periode sebelumnya sebesar 4,5%. Kinerja perekonomian China tsb terutama ditopang oleh sektor ekspor dengan industri manufaktur tumbuh sebesar 6,1% sedangkan penjualan ritel tumbuh lebih lambat sebesar 1,7%. Hal ini menunjukkan kondisi sektor manufaktur cenderung berdaya tahan dan masih menjadi sektor utama penggerak pertumbuhan China dalam waktu dekat.
• Barclays: Investor global masih mencermati besarnya tambahan subsidi energi yg harus dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk menahan kenaikan harga minyak selama konflik di Timur Tengah. Meskipun risiko terjadinya pelanggaran threshold defisit meningkat, Barclays memperkirakan bahwa pemerintah pusat akan berupaya maksimal menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas 3%.
• S&P Global Ratings: Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran pemerintah, sementara impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan. Inflasi yang meningkat lebih cepat juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga pasar, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan kisaran pergerakan yield sebesar 0-1bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 6,56% sejalan dengan sentimen positif dari potensi perpanjangan gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu ke depan.
• IHSG ditutup melemah tipis 0,03% ke level 7.621,38 akibat aksi profit taking pada sejumlah sektor utama. Pelemahan IHSG terutama dikontribusikan oleh sektor infrastruktur (-0,60%), barang baku (-0,39%), dan property & real estate (-0,35%).
• Rupiah ditutup menguat tipis 0,02% ke level 17.136, dari penutupan sebelumnya 17.140.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP