Financial Market Update
IDR10 : 6,57% - 6,58% (cl: 6,57%)
IDR5 : 6,23% - 6,26% (cl: 6,24%)
UST10 : 4,24% - 4,29% (last: 4,28%)
IDR : 17.118 - 17.144 (cl: 17.140)
DXY : 98,01 - 98,29 (last: 98,08)
JCI : 7.623,59 - 7.773,58 (cl: 7.623,59)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -1bps to 6,24%FR0108 (10yr) : -2bps to 6,57%
FR0106 (15yr) : -1bps to 6,70%FR0107 (20yr) : -1bps to 6,66%
Point of Interest:
• IMF merevisi turun outlook pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%, akibat lonjakan harga energi yang disebabkan oleh konflik AS-Iran yg berdampak kepada lalu lintas pengiriman energi di Selat Hormuz. Namun, dalam scenario terburuk, potensi pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi 2,0% yang secara historis terjadi pada periode kontraksi ekonomi global. Adapun outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dipertahankan sebesar 5,1% tahun 2026.
• Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perundingan antara AS-Iran dapat dilanjutkan dalam 2 hari ke depan dengan dua prasyarat utama dari AS, yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan pengayaan uranium. Selanjutnya, Trump menyarankan perundingan dapat berlangsung di lokasi selain Pakistan, seperti Eropa atau Turki.
• Presiden Donald Trump menyatakan bahwa penghentian senjata nuklir Iran adalah isu utama. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, sementara Iran mengajukan penghentian pengayaan uranium hanya hingga lima tahun. AS juga bersikeras bahwa Iran harus memindahkan semua pengayaan uraniumnya saat ini ke luar negeri.
• Prancis dan Inggris akan bersama-sama menjadi penyelenggara konferensi di Paris pada 17 April 2026, yang mengumpulkan lebih dari 40 negara yang bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Konferensi ini akan menghasilkan pernyataan atau kerangka kerja multilateral yang menantang legalitas blokade AS dan kemungkinan sanksi keuangan terhadap Iran jika Iran tetap memblokir jalur perairan tersebut.
• Inflasi produsen headline AS tercatat sebesar 4,0% YoY pada Mar-2026, merupakan level tertingginya sejak Feb-2023 tetapi masih di bawah ekspektasi konsensus sebesar 4,6% YoY. Sementara itu, inflasi produsen inti AS tercatat sebesar 3,6% YoY pada Mar-2026. Secara bulanan, inflasi produsen AS tercatat sebesar 0,5% MoM pada Mar-2026, di bawah ekspektasi konsensus sebesar 1,1% MoM.
• Posisi ULN Indonesia Feb-2026 naik 2,5% YoY menjadi $437,9 miliar atau Rp7.488 triliun. Kenaikan ULN tsb lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yg tumbuh 1,7% YoY. Kenaikan ULN terutama disebabkan peningkatan ULN sektor publik sementara ULN swasta mengalami penurunan. ULN pemerintah tercatat sebesar $215,9 miliar atau tumbuh 5,5% YoY (Jan: 5,6%), sedangkan ULN swasta sebesar $193,7 miliar atau turun 0,7% YoY.
• S&P Global Ratings: Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan thd tekanan sovereign ratings di kawasan Asia Tenggara, apabila konflik di Timur Tengah berlangsung berkepanjangan. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah Indonesia dan menekan posisi fiskal, sementara lonjakan biaya impor minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, negara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam dinilai memiliki sejumlah faktor penopang untuk menghadapi guncangan harga energi global, antara lain kedalaman pasar keuangan domestik, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta ketersediaan buffer yang memadai.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 6,57% sejalan dengan sentimen positif dari rencana negosiasi tahap dua AS-Iran.
• IHSG ditutup melemah 0,68% ke level 7.623,59 akibat aksi profit taking setelah penguatan yg terjadi selama beberapa hari terakhir. Pelemahan IHSG terutama dikontribusikan oleh sektor kesehatan (-2,81%), infrastruktur (-1,33%), barang konsumen non-primer (-1,00%), dan keuangan (-0,64%).
• Rupiah ditutup melemah 0,11% ke level 17.140, dari penutupan sebelumnya 17.122.
DAPENBI IP