Financial Market Update

IDR10 : 6,83% - 6,85% (cl: 6,83%)

IDR5 : 6,56% - 6,57% (cl: 6,57%)

UST10 : 4,32% - 4,42% (last: 4,32%)

IDR : 16.980 - 16.995 (cl: 16.992)

DXY : 100,05 - 100,61 (last: 100,50)

JCI : 6.948,43 – 7.102,44 (cl: 7.091,67)

Yield SUN

FR0109 (5yr) : +1bps to 6,57%

FR0108 (10yr) : -1bps to 6,83%

FR0106 (15yr) : 0bps to 6,96%

FR0107 (20yr) : +1bps to 6,88%


Point of Interest:

Menurut Societe Generale SA (SocGen), harga Brent berisiko mengalami kenaikan signifikan menuju $150 akibat perang Timur Tengah. Harga minyak global Brent saat ini diperkirakan rata-rata sekitar ~$125/bbl pada bulan April mengingat Selat Hormuz kemungkinan akan tetap tertutup hingga bulan depan. Harga dapat meningkat tajam jika titik rawan Bab El-Mandeb di ujung selatan Laut Merah ditutup secara efektif, kawasan tersebut “sebagian besar lumpuh, selain pengalihan rute terbatas dari Arab Saudi dan UEA serta pengiriman sporadis dari Iran”. Gangguan pasokan dari Timur Tengah kini berdampak pada ”kekurangan nyata” minyak mentah dan produk olahan di seluruh Asia. Selama 3 minggu pertama bulan Maret, persediaan global diperkirakan telah turun sekitar 150jt/barel.

Indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat ke atas level 100, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap aset safe-haven serta memberikan tekanan tambahan terhadap Rupiah. Kondisi kombinasi ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan lebih tinggi dalam periode lebih lama, membatasi ruang penurunan yield obligasi domestik.

Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan inflasi AS mencapai 4,2% YoY tahun 2026, didorong kenaikan harga energi global dampak perang di Timur Tengah dan lanjutan kebijakan tarif AS. Proyeksi tersebut naik signifikan dibandingkan periode sebelumnya 2,8%YoY dan lebih tinggi dari proyeksi Fed 2,7%YoY.

Bank Indonesia mengumumkan instrumen OM berupa penggunaan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai agunan atau underlying dalam transaksi valas mulai hari ini. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA). Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan proyeksi target aset dana pensiun tumbuh dua digit sekitar 10%-12% pada tahun 2026. Menurut Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Mulyadi, kondisi perekonomian saat ini, ADPI memproyeksikan pertumbuhan dana pensiun (dapen) sukarela, baik Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Kerja (DPLK) tumbuh 7%. Untuk DPPK Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 3%–4%. Sementara DPPK Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) diproyeksikan tumbuh sekitar 5%–6%.

IHSG ditutup melemah 0,08% ke level 7.091,67, terutama penurunan harga saham pada sektor keuangan (-1,17%), barang baku (-0,80%), properti & real estate (-0,46%), dan infastruktur (-0,34%). Investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp686,13 miliar di seluruh pasar.

Total outflow asing secara YtD mencapai Rp23,91 triliun per 26 Mar 2026. Menurut Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, sejumlah sentimen global seperti eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, serta ketidakpastian arah suku bunga global menjadi faktor utama yang mendorong keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari domestik, kekhawatiran terhadap potensi defisit APBN 2026 yang melebar serta pelemahan nilai tukar rupiah menambah tekanan bagi investor asing. Tekanan jual asing saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek dibandingkan mencerminkan penurunan fundamental emiten.

Rupiah ditutup melemah 0,16% ke level 16.992, dari penutupan sebelumnya 16.965. Pelemahan dipengaruhi faktor global berupa sentimen perang Timur Tengah, dan faktor domestik berupa sentimen efisiensi anggaran. Rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran dinilai perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain agar efektif menjaga defisit APBN.


Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP