Financial Market Update
Point of Interest:
·
Presiden
Prabowo Subianto menyatakan pemerintah hanya akan mempertimbangkan menaikkan
batas defisit anggaran di atas 3.00% PDB dalam kondisi darurat, seperti saat pandemi, terutama jika lonjakan harga
minyak memberi tekanan besar pada perekonomian.
·
Presiden
Prabowo juga menegaskan pemerintah berupaya menghindari kenaikan harga bahan
bakar bersubsidi menjelang Idul Fitri, meski
mengakui hal itu akan sangat sulit jika harga minyak bertahan di atas $120/barel
dalam waktu lama.
·
Bloomberg:
Lonjakan harga minyak global meningkatkan risiko pelonggaran aturan batas
defisit fiskal Indonesia.
Bloomberg menilai bahwa Pemerintah Indonesia lebih berpeluang menyesuaikan
aturan defisit secara temporer seperti pada masa pandemi, khususnya jika
tekanan harga energi berlanjut. Hal ini sejalan dengan sinyal dari Presiden
Prabowo bahwa pemerintah akan memperbesar subsidi energi guna melindungi daya
beli masyarakat, namun juga bersikeras bahwa MBG tidak akan disentuh. Dengan
dinamika tsb, Bloomberg meyakini bahwa Rupiah masih akan tertekan lebih lanjut.
·
BI
mencatat posisi Utang Luar Negeri Indonesia per akhir Jan-2026 meningkat
menjadi $434,7 miliar atau Rp7.389 triliun. Angka tersebut naik 1,7% YoY dibandingkan Des-2025
sebesar $431,7 miliar yang disebabkan oleh kenaikan pada utang pemerintah
maupun swasta seiring kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional. Utang
pemerintah naik 5,6% YoY menjadi $216,3 miliar (22,8% dari PDB) dan utang
swasta tercatat $218,4 miliar (23% dari PDB). Adapun rasio utang terhadap PDB
mencapai sebesar 45,8% atau masih jauh di bawah batas aman 60%.
·
Konflik
di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan AS terhadap fasilitas
militer di Pulau Kharg (lokasi fasilitas ekspor utama Iran) yg memicu balasan Iran ke Israel dan negara-negara Teluk
Persia terus berlanjut. Presiden Trump menyatakan Iran siap membuat kesepakatan
untuk mengakhiri perang, tetapi AS menilai syarat yang diajukan belum cukup
baik sehingga kesepakatan belum tercapai.
·
Presiden
Trump mengancam menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping jika
Beijing tidak berkontribusi dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Pernyataan tsb muncul di tengah pertemuan negosiator
perdagangan AS–China di Paris yang mempersiapkan agenda pertemuan bilateral
pada akhir Maret mendatang. AS juga berupaya menggandeng sekutu untuk ikut
menempatkan kapal/armada laut mereka guna membantu mengamankan jalur distribusi
energi global. Namun, Jepang dan Australia dikabarkan telah menolak permintaan
tsb. Ancaman Trump berpotensi menjaga tensi geopolitik tetap tinggi, di tengah upaya
negosiasi perdagangan dengan China yg masih berlangsung.
·
Pasar
menantikan keputusan FOMC meeting pekan ini, dengan ekspektasi konsensus
bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan. Pelaku pasar akan sangat mencermati sinyal pandangan dari
pejabat The Fed terhadap prospek inflasi ke depan, khususnya di tengah kenaikan
harga energi (akibat konflik Iran) yang berpotensi meningkatkan tekanan
inflasi. Sejalan dengan perkembangan tersebut, ekspektasi pasar saat ini hanya
mengarah pada satu kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2026.
·
Ekonomi
China menunjukkan pemulihan pada awal 2026 yang tercermin dari penguatan
aktivitas domestik serta investasi aset tetap. Industrial production tercatat naik 6,3% pada Jan–Feb
2026 dibandingkan tahun sebelumnya, sementara retail sales meningkat
2,8% dan investasi aset tetap tumbuh 1,8% terutama disebabkan oleh lonjakan investasi
infrastruktur sebesar 11,4%.
·
Rilis
data AS akhir pekan lalu: Personal Consumption Expenditures (PCE) price
index naik 0.40% pada Jan-2026
seiring kenaikan harga dan Core PCE Inflation meningkat menjadi 3.10%
YoY, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan belum akan memangkas
suku bunga. Hal ini didukung juga dengan ekspektasi ekonom dari Oxford
Economics yang memperkirakan kenaikan 0.30% inflasi pada Maret sebagai akibat
konflik Iran.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah tajam, dimana yield curve bergerak bearish
flattening dengan kisaran kenaikan yield sebesar 7-24bps. Yield
SUN 10 tahun ditutup naik 11 bps ke level 6,78%. Volume transaksi outright
SBN hari ini tercatat sebesar Rp23,6 triliun, turun tipis dari Rp23,7 triliun
pada perdagangan Jumat lalu.
·
IHSG
ditutup melemah sebesar 1,61% ke level 7.022,29 seiring meningkatnya kecemasan pelaku pasar terhadap
stabilitas fiskal nasional dan potensi defisit anggaran yang melampaui batas
aman 3% persen thd PDB. Pelemahan IHSG terutama dikontribusikan oleh penurunan
pada sektor properti (-2,33%), energi (-2,29%), dan bahan baku (-1,66%).
·
Rupiah ditutup
melemah 0,27% ke level 16.990, dari
penutupan sebelumnya 16.944.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP