Financial Market Update
Point of Interest:
·
Harga
minyak jenis Brent kembali naik menembus $100/barel seiring meningkatnya ketidakpastian situasi di Timur
Tengah yang menyebabkan volatilitas harga minyak. Sentimen pasar kembali
menurun pasca pemberitaan Irak akan kembali menutup operasional di sejumlah
terminal minyak setelah dua kapal Irak menjadi target penyerangan Iran, disusul
oleh langkah Oman mengevakuasi seluruh kapal (vessels) dari terminal
ekspor minyak utamanya. Hal ini mengindikasikan meningkatnya ketegangan
keamanan di kawasan Teluk.
·
AS meluncurkan
investigasi perdagangan besar-besaran terhadap mitra dagang utamanya, termasuk
China, Meksiko, Uni Eropa, dan banyak negara lain di Asia. Investigasi tsb dilakukan berdasarkan aturan Section 31
of the Trade Act of 1974 dgn kemungkinan perluasan negara-negara yg menjadi
target investigasi dan bertujuan utama untuk menggantikan tarif resiprokal
Trump yang telah dibatalkan oleh Supreme Court AS.
·
Treasury
Secretary AS Scott Bessent memperkirakan pada bulan Agustus tingkat tarif
dagang AS dengan negara-negara mitranya akan kembali ke level sebelum
pembatalan oleh Supreme Court. AS
menargetkan investigasi akan selesai dalam waktu 5 bulan, lebih cepat dari
prosedur standar, dengan cakupan penyelidikan berupa trade fairness
hingga potensi penggunaan tenaga kerja paksa dalam produksi ekspor. Hasil
investigasi akan menjadi landasan hukum baru bagi pengenaan tarif baru yang
berpotensi berlaku mulai musim panas mendatang.
·
Tingkat
inflasi headline AS tercatat stabil di angka 2,4% YoY pada Feb-2026, tidak berubah dari Jan-2026, sejalan dengan ekspektasi
konsensus dan berada pada level terendahnya sejak Mei-2025. Secara bulanan,
inflasi AS naik 0,3% MoM pada Feb-2026, sedikit lebih tinggi dari 0,2% MoM pada
Jan-2026 dan sejalan dengan perkiraan konsensus. Sementara itu, inflasi inti AS
tercatat sebesar 2,5% YoY pada Feb-2026.
·
Pengumuman
pelepasan cadangan minyak strategis oleh IEA dan negara-negara anggota belum
berhasil meredakan kekhawatiran dan volatilitas harga minyak. Sebanyak 400 juta barel cadangan minyak strategis akan
dilepaskan oleh 32 negara anggota IEA. Perdana Menteri Jepang Takaichi
menyatakan bahwa negaranya dapat melepaskan minyak dari cadangan nasionalnya
paling cepat pekan depan. Sementara itu, OPEC mempertahankan perkiraan
pertumbuhan permintaan minyak global pada tahun 2026 dan 2027 tidak berubah.
·
Iran
membombardir infrastruktur data center di Teluk Persia untuk menghancurkan simbol aliansi teknologi
negara-negara Timur Tengah dengan AS. Sebuah drone Shahed 136 Iran
menyerang data center Amazon Web Services di Uni Emirat Arab.
Selanjutnya, perusahaan teknologi termasuk Google, Microsoft, dan Palantir
masuk dalam daftar target Iran seiring konflik dengan Israel dan AS yang meluas
ke infrastruktur digital.
·
Mega
Capital Sekuritas: Investor masih menyoroti pelebaran defisit fiskal Indonesia terutama pasca rilis APBN Feb-2026 yang
menunjukkan pelebaran defisit. Menurut Mega Capital, apabila pemerintah tidak
mampu menurunkan defisit pada kuartal II dan III tahun ini maka risiko
penurunan peringkat kredit di masa depan akan semakin meningkat. Hal ini
dikombinasikan dengan kondisi risk-off global akibat perang Iran
diperkirakan masih akan menekan kinerja pasar domestik.
·
Bloomberg:
Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan relatif terhadap mata uang
regional dalam jangka pendek
akibat kekhawatiran fiskal, risiko penurunan rating, serta berkurangnya daya
tarik carry di tengah siklus pelonggaran BI. Meski demikian, cadangan
devisa yang kuat dan kebijakan stabilisasi aktif diperkirakan dapat menjaga
pelemahan berlangsung secara terkendali. Dalam jangka lebih panjang, potensi
peningkatan ekspor nikel dan penguatan fundamental eksternal berpeluang menjadi
faktor penopang bagi stabilitas rupiah.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri _benchmark_ bergerak melemah dengan kenaikan yield pada kisaran 0-6bps. _Yield_
SUN 10 tahun ditutup naik 2 bps ke level 6,71%. Volume transaksi outright
SBN hari ini tercatat sebesar Rp29,5 triliun, turun dari Rp31,4 triliun pada perdagangan
hari sebelumnya.
·
IHSG
ditutup melemah sebesar 0,37% ke level 7.362,12 sejalan dengan sentimen risk-off global akibat
tensi geopolitik di Timur Tengah serta volatilitas harga minyak mentah. Pelemahan
IHSG terutama dikontribusikan oleh penurunan pada sektor barang konsumen
non-primer (-2,04%), bahan baku (-1,41%) dan properti & real estate (-1,38%).
·
Rupiah ditutup
melemah 0,14% ke level 16.893, dari
penutupan sebelumnya 16.870.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP