Financial Market Update

 

Point of Interest:

·        Kemenkeu memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar hingga 3,6% PDB dalam skenario ekstrem apabila harga minyak rata-rata mencapai $92/barel. Menkeu Purbaya menegaskan kembali komitmen pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas legal 3% melalui penyesuaian belanja/pemangkasan di pos lain. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah memahami kekhawatiran lembaga pemeringkat terhadap sejumlah aspek kebijakan fiskal, namun pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal dalam batasan legal.

 

·        Pemerintah mulai kembali mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dari AS sebagai bagian kesepakatan energi senilai $15 miliar dengan pemerintahan Trump, sekaligus mitigasi risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Meski harga minyak global naik akibat konflik Iran–AS, pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi. APBN akan digunakan sebagai shock absorber, yaitu menahan dampak kenaikan harga energi melalui subsidi agar tidak langsung menekan inflasi domestik.

 

·        Data cadangan devisa Indonesia per Februari 2026 turun menjadi $151,9 miliar (Jan: $154,6 miliar), dengan sebagian besar penurunan mencerminkan dampak dari upaya stabilisasi Rupiah dan pembayaran utang luar negeri. Meskipun mengalami penurunan secara moderat, level cadev tsb dinilai masih memadai untuk mendukung stabilitas makro dan kapasitas Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar dan stabilisasi Rupiah di tengah meningkatnya risiko ekonomi global.

 

·        IMF menilai konflik perang berkepanjangan di Timur Tengah akan menguji ketahanan ekonomi global, terutama melalui transmisi harga energi, sentimen pasar, pertumbuhan, dan inflasi. Perang yang berkepanjangan berpotensi menambah tantangan kebijakan bagi otoritas global. Direktur IMF Georgieva menyatakan bahwa IMF memantau secara ketat perkembangan konflik di Timur Tengah dan akan memasukkan evaluasinya dalam laporan World Economic Outlook yang dijadwalkan rilis pada April mendatang.

 

·        Gubernur The Fed Bank of Richmond Tom Barkin menyatakan bahwa respons The Fed terhadap perang antara AS-Israel dengan Iran akan sangat bergantung pada seberapa lama dampak konflik tersebut membebani ekonomi AS. Pejabat The Fed dijadwalkan bertemu pada 17-18 Maret mendatang dan telah memberi sinyal akan mempertahankan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Langkah ini diambil seiring upaya The Fed dalam menekan laju inflasi, dimana indikator inflasi menunjukkan harga naik 2.9% pada Desember, hampir satu poin persentase penuh di atas target 2%.

 

·        Departemen Pertahanan AS meningkatkan operasi intelijennya untuk mempersiapkan perang yang berkepanjangan melawan Iran dengan perencanaan operasi militer yang kini meluas hingga musim gugur. AS akan mengerahkan pasukan militer tambahan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi melawan Iran setidaknya selama 100 hari ke depan dan berpotensi hingga September 2026.

 

·        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak meminta gencatan senjata dan menolak untuk bernegosiasi dengan AS. Sementara itu, Iran telah siap untuk menghadapi potensi invasi militer darat oleh AS. Presiden Trump tidak mengesampingkan opsi untuk mengerahkan pasukan darat AS ke Iran jika diperlukan.

 

·        Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak ketika ladang minyak Sarsang di Kurdistan, Irak diserang dua buah drone yang diduga diluncurkan oleh milisi pro-Iran. Serangan tersebut menghantam unit daya utama fasilitas milik perusahaan AS, HKN Energy, yang mengakibatkan kebakaran hebat dan memaksa penghentian total produksi minyak sebesar 30.000 barel per hari.

 

·        Kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat seiring konflik yang kini memasuki hari ketujuh. Kondisi ini mendorong kekhawatiran potensi tekanan inflasi di tengah gangguan pasokan minyak mentah, sehingga berpotensi menunda pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Menurut Bank Mandiri, saat ini pasar hanya memperkirakan kemungkinan satu kali penurunan Fed Funds Rate (FFR), yaitu pada September 2026.

 

·        Goldman Sachs memperingatkan risiko harga minyak mencapai $100/barel jika situasi perang terus berlanjut dan lalu lintas minyak di Selat Hormuz semakin terblokade. Selain itu, Menteri Energi Qatar menyatakan harga minyak dapat naik hingga $150/barel dalam 2-3 minggu ke depan jika kapal pengangkut minyak dan fasilitas lainnya tetap tidak dapat melewati Selat Hormuz.  

 

·        AS memberikan waiver sementara bagi India untuk membeli minyak Rusia guna mengatasi kendala pasokan, namun hanya untuk kargo yang sudah berada di laut. India dikabarkan telah membeli lebih dari 10 juta barel minyak mentah dari Rusia.

 

·        China sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengizinkan kapal minyak mentah dan kapal LNG Qatar melewati Selat Hormuz dengan aman. Sementara itu, data MarineTraffic menunjukkan bahwa sebuah kapal pengangkut minyak mentah yang berkaitan dengan China keluar dari Selat Hormuz tanpa insiden penyerangan.

 

·        Rilis data AS semalam: Initial jobless claims pada pekan terakhir Februari tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya, yaitu 213.000 (survei: 215.000)* dan tetap jauh di bawah rata-rata dalam dua tahun terakhir. Di sisi lain, perusahaan di AS mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 48.307 pekerja pada Februari 2026, lebih rendah dibandingkan 108.435 pada Januari dan jauh di bawah 172.017 pada periode yang sama tahun lalu. Data tsb memberikan sinyal yang lebih kuat bahwa pasar tenaga kerja AS terus beroperasi dalam kondisi PHK yang rendah.

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri _benchmark_ bergerak melemah terbatas dengan kenaikan yield pada kisaran 0-1bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 6,59%. Volume transaksi outright SBN hari ini tercatat sebesar Rp15,8 triliun, turun dari Rp23,2 triliun pada hari sebelumnya.

 

·        IHSG ditutup melemah sebesar 1,62% ke level 7.585,69 dengan pelemahan terbesar dikontribusikan oleh sektor industri (-3,37%), siklikal (-3,34%) dan energi (-2,86%).


·        Rupiah ditutup melemah 0,14% ke level 16.906, dari penutupan sebelumnya 16.883.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP