Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        Mandiri Sekuritas (Mansek): Probabilitas penurunan peringkat kredit sovereign Indonesia masih relatif rendah. Hal tsb disampaikan Mansek menyikapi langkah Fitch yang menurunkan outlook rating Indonesia menjadi "negative". Mansek menilai bahwa penurunan penerimaan negara pada tahun lalu lebih dipengaruhi oleh faktor sementara dan fase transisi kebijakan, termasuk penyesuaian administrasi perpajakan serta normalisasi kebijakan fiskal. Ke depan, kinerja penerimaan pemerintah diperkirakan membaik pada 2026, seiring komitmen otoritas untuk menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah batas 3% PDB.

 

·        Mansek mempertahankan proyeksi yield SUN tenor 10 tahun turun menuju kisaran 6,0% pada akhir 2026. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi penurunan suku bunga kebijakan kumulatif sekitar 50 bps oleh The Fed dan Bank Indonesia pada paruh kedua 2026, tidak adanya penurunan peringkat kredit sovereign, serta stabilitas nilai tukar rupiah di bawah Rp17.000 per dolar AS.

 

·        CIMB: Pasca keputusan Fitch, sentimen pasar domestik berpotensi melemah dalam jangka pendek seiring masih tingginya ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah yang berpotensi menahan harga minyak mentah di atas $80/barel, sehingga meningkatkan tekanan terhadap posisi fiskal Indonesia. Selain itu, terdapat risiko bahwa S&P Global Ratings akan mengambil langkah serupa setelah menyoroti tekanan fiskal dan rasio pembayaran utang sebagai potensi katalis negatif bagi profil kredit Indonesia. Pasar obligasi domestik berpotensi mengalami repricing lanjutan, dengan yield SBN 2 tahun dan 10 tahun diperkirakan meningkat menuju 5,45% dan 6,80%.

 

·        Menko Perekonomian Airlangga menyatakan belum terdapat keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak mentah akibat perang AS-Iran. Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono menambahkan bahwa untuk setiap kenaikan $1 pada ICP (Indonesia's crude oil price), terdapat penambahan beban subsidi sebesar Rp10,3 triliun dan penambahan penerimaan migas sebesar Rp3,6 triliun, atau setara dengan penambahan defisit anggaran sebesar Rp6,7 triliun.

 

·        Menkeu AS Scott Bessent menyatakan bahwa kenaikan tarif global AS menjadi 15% kemungkinan akan berlaku pada minggu ini. Bessent tidak merincikan lebih lanjut mitra dagang mana saja yang akan terkena dampak kenaikan tarif tsb, namun memahami bahwa kewenangan pemerintah thd masa berlaku tarif tsb hanya 150 hari tanpa persetujuan Kongres.

 

·        Presiden Trump mengisyaratkan AS akan menyediakan jaminan asuransi dan pengawalan militer untuk kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yg melalui jalur laut strategis tsb. AS akan menawarkan asuransi risiko politik melalui U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menjaga kelancaran arus energi dan perdagangan di kawasan Teluk.

 

·        Ketegangan militer AS-Iran memasuki fase kritis setelah pemerintahan Trump meluncurkan "Operasi Epic Fury". Serangan udara dan laut besar-besaran yang menyasar objek-objek di wilayah Iran tersebut kini memicu spekulasi global mengenai kemungkinan adanya pengiriman pasukan darat atau boots on the ground oleh AS.

 

·        Rilis data AS semalam: ADP Employment Chg bulan Februari naik ke 63ribu (Jan: 11ribu; surv: 50ribu). Data tsb menunjukkan kenaikan perekrutan tenaga kerja oleh sektor swasta yang terutama disebabkan oleh lonjakan perekrutan di bidang edukasi dan jasa kesehatan. PMI jasa AS menurut ISM bulan Februari meningkat ke 56,1 (Jan: 53,8; surv: 53,5). Pertumbuhan tsb ditopang oleh percepatan aktivitas usaha (59,9 vs 57,4), pesanan baru (58,6 vs 53,1), dan ketenagakerjaan (51,8 vs 50,3). Di sisi lain, pengiriman pasokan melambat ke 53,9 dari 54,2, beriringan dengan indeks harga yang jatuh ke 63.

 

·        Rilis data China: RatingDog PMI Mfg naik ke angka 52,1 di bulan Februari (Jan: 50,3; surv: 50,1). Di samping itu, *China juga menetapkan target PDB tahun ini antara 4,5% hingga 5%*, menunjukkan model yang mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut dalam 4 dekade terakhir mulai menunjukkan penurunan efektivitasnya. 

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak mixed, dimana yield SUN tenor pendek turun 2-4bps sedangkan tenor panjang naik 1-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 6,58%. Volume transaksi outright SBN hari ini tercatat sebesar Rp23,2 triliun, turun dari Rp32,4 triliun pada hari sebelumnya.

 

·        IHSG ditutup menguat sebesar 1,76% ke level 7.710,54 dengan penguatan terbesar dikontribusikan oleh sektor barang konsumsi non-primer (+3,40%) dan industri (+2,80%).


·        Rupiah ditutup menguat tipis 0,01% ke level 16.883, dari penutupan sebelumnya 16.885.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP