Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        Rilis data inflasi Indonesia pada November tercatat sebesar 0,17% MoM dan 2,72% YoY, sedikit di bawah konsensus Bloomberg yang memperkirakan 0,20% MoM dan 2,74% YoY. Kenaikan inflasi secara bulanan dikontribusikan oleh kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren penguatan harga emas global. Selain itu, kelompok transportasi serta makanan, minuman, dan tembakau turut berkontribusi pada inflasi November.

 

·        Data PMI Manufaktur Indonesia bulan November menunjukkan kinerja ekspansif ke level 53,3 (prev. 51,2), atau level tertinggi sejak Februari 2025. Kinerja tsb ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik di tengah permintaan ekspor yang terus turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir. Hasil survei November tsb menunjukkan momentum positif dari sektor manufaktur.

 

·        Surplus neraca perdagangan Indonesia periode Oktober 2025 menyempit menjadi sebesar $2,4 miliar (prev. $4,34 miliar). Menkeu Purbaya menyatakan bahwa penyempitan surplus mengindikasikan bahwa permintaan domestik mulai pulih (normalisasi) setelah periode lesunya konsumsi rumah tangga.

 

·        Ekonom Bank Mandiri menilai penyempitan surplus perdagangan sejalan dengan melemahnya ekspor komoditas utama di tengah penurunan harga global, sementara impor meningkat menjelang akhir tahun/nataru karena kebutuhan restocking industri dan kenaikan permintaan energi.

 

·        BI menegaskan prioritas stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. GBI, Perry Warjiyo, menyatakan lebih lanjut bahwa intervensi onshore–offshore akan terus diperkuat sepanjang 2026. Sikap tsb menunjukkan bahwa BI kini memberi bobot lebih besar pada stabilitas mata uang dan akan menjadi prasyarat utama sebelum ruang penurunan suku bunga direalisasikan. Analis memperkirakan outflow tetap berlanjut meski mulai diimbangi inflow pada ekuitas, dengan rupiah diperkirakan melemah ringan ke sekitar 16.700 pada akhir tahun.

 

·        Credit Agricole menilai pernyataan BI mengindikasikan siklus pelonggaran belum berakhir, namun cut rate berikutnya sangat ditentukan oleh stabilitas rupiah. Laju easing diperkirakan berlangsung bertahap dengan kemungkinan jeda jika ketidakpastian eksternal atau volatilitas nilai tukar meningkat. Namun, pelonggaran berkelanjutan berpotensi mengurangi daya tarik carry rupiah dan menahan penguatan rupiah terhadap dolar AS hingga 2026.

 

·        S&P menilai strategi pendanaan Danantara meningkatkan fleksibilitas fiskal pemerintah, melalui penerbitan Patriot Bond berkupon 2% yang membantu menekan biaya pembiayaan sekaligus mendukung konsolidasi BUMN dan proyek strategis. Namun, S&P menyatakan tetap memantau hubungan Danantara dengan pemerintah untuk menilai potensi liabilitas kontinjensi bagi negara ke depan.

 

·        OPEC+ menegaskan penghentian penambahan produksi pada Q1-2026 sebagai respons terhadap prospek surplus minyak global. Langkah tsb menekankan fokus pada stabilitas pasar di tengah pelemahan permintaan dan potensi surplus besar di awal 2026 yang dapat menekan harga minyak lebih jauh. Aliansi juga menyetujui mekanisme baru untuk meninjau kapasitas produksi anggota menjelang penetapan kuota 2027.

 

·        Presiden AS mengonfirmasi telah menentukan kandidat Fed Chairman berikutnya dan akan mengumumkannya sebelum libur natal. Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih sekaligus penasihat ekonomi utama Presiden Trump, Kevin Hassett, dipandang sebagai kandidat terkuat dan sejalan dengan keinginan Trump untuk penurunan suku bunga yang lebih agresif. Spekulasi pencalonannya sempat menekan yield UST 10 tahun turun di bawah 4%, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan yang lebih dovish. Namun, sejumlah analis menilai Hassett dapat menghadapi tantangan dalam menjaga independensi The Fed dan menyatukan komite FOMC.

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark mayoritas menguat dengan penurunan yield pada kisaran 0-4bps. Yield SBN 10 tahun turun 4bps ke level 6,26% sejalan dengan rilis data inflasi Indonesia hari ini yang lebih rendah dari ekspektasi dan mendukung peluang penurunan BI rate lebih lanjut. Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp14,0 triliun, turun dari Rp20,1 triliun pada hari Jumat.   

 

·        IHSG ditutup menguat sebesar 0,47% ke level 8.548,79 sejalan dengan rilis PMI Manufaktur Indonesia periode November yang membaik di area ekspansi.

 

·        Rupiah ditutup menguat tipis 0,01% ke level 16.659, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.660.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP