Financial Market Update

Point of Interest:

 

      Yield SBN tenor pendek dan menengah kembali terkoreksi naik sejalan dengan imbal hasil pada lelang SRBI hari ini yang kembali naik 10bps ke 4,94% dari RRT lelang sebelumnya sebesar 4,84%. Investor asing terpantau masih melakukan outflows dari bond market Indonesia, dengan artikel Bloomberg memberitakan bahwa perkiraan outflows selama bulan November mencapai $341,5 juta dan terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

 

      Analis Maybank Indonesia memandang bahwa aksi jual investor asing dan imbal hasil SRBI yang lebih tinggi menyebabkan harga obligasi pemerintah Indonesia tertekan. Permintaan terhadap dolar disinyalir meningkat untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri rutin dan impor menjelang akhir bulan. Maybank juga menilai bahwa imbal hasil obligasi Indonesia berpotensi untuk kembali menarik inflows asing, jika BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di Desember dan The Fed jadi menurunkan suku bunga acuan pada FOMC Desember nanti. 

 

      Danantara memastikan rencana penerbitan tambahan Patriot Bond tetap berjalan sebelum akhir tahun, meski jadwal 28 November ditunda ke waktu yang belum ditetapkan. Manajemen menyebut adanya reverse inquiry dari calon investor, mengindikasikan minat pasar tetap ada. Penjadwalan ulang ini diperkirakan bersifat teknis dan tidak mengubah rencana pendanaan sovereign wealth fund tersebut untuk 2025.

 

      Indonesia mempercepat pembentukan Sustainable Finance Committee untuk menyatukan regulasi keuangan hijau dan menarik lebih banyak modal asing ke proyek penurunan emisi, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan iklim yang diperkirakan mencapai $472,6 miliar. Komite yang dikoordinasikan Kemenkeu ini akan diresmikan pada awal 2026 dan dirancang untuk meningkatkan transparansi, kejelasan insentif, serta pipeline proyek bagi investor.

 

      Financial Times: Indonesia menolak klausul “poison pill” dalam pembahasan perjanjian tarif timbal balik dengan AS, karena dinilai dapat membatasi otonomi kebijakan dan mengikat Indonesia pada persyaratan yang terlalu dominan dari AS. Penolakan ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam menjaga ruang manuver diplomasi dagang, meskipun belum terdapat tanggapan resmi dari pihak Istana dan Kemenko Perekonomian.

 

      Danantara bersiap memperluas akses pendanaan dengan melakukan pre-rating work tahun depan sebagai langkah awal menuju penerbitan global bond. SWF tersebut menargetkan diversifikasi pendanaan dengan fokus awal pada surat berharga dolar AS sembari menjajaki opsi penerbitan yuan, serta peluang ekspansi ke pasar saham luar negeri.

 

      Global: Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan proposal perdamaian Donald Trump dapat dijadikan landasan negosiasi masa depan. Namun Putin menyatakan belum ada kesepakatan final terkait perang dengan Ukraina hingga saat ini dan mensinyalkan bahwa dirinya terbuka untuk melanjutkan pembicaraan.

 

      Global: Presiden Trump mendorong kebijakan “reverse migration”, dengan menyerukan penghentian migrasi dari negara-negara “dunia ketiga” dan kemungkinan mencabut kewarganegaraan bagi sebagian imigran naturalisasi. Pernyataan keras ini menambah ketidakpastian pada arah kebijakan imigrasi AS, yang dapat berdampak pada sentimen pasar terutama terkait tenaga kerja, konsumsi, dan dinamika politik domestik.

 

      Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak variatif dimana yield SBN 5 tahun terpantau naik signifikan sebesar 10bps ke 5,83%. Adapun yield SBN 10 tahun naik 3bps ke 6,30% (level yang terakhir kali terlihat pada awal Oktober lalu).

 

      IHSG ditutup melemah sebesar -0,43% ke level 8.508,71 terutama disebabkan oleh sikap berhati-hati pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi Indonesia yakni inflasi dan data perdagangan pada pekan depan.

 

      Rupiah ditutup melemah -0,10% ke level 16.660, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.643.

 


Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP