Financial Market Update
Point
of Interest:
§
Rilis
data ketenagakerjaan AS bulan September semalam (sempat tertunda akibat
shutdown) menunjukkan sinyal yang beragam. Laporan nonfarm payrolls September
naik 119K menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang meningkat, sementara tingkat
pengangguran meningkat menjadi 4,40%, level tertinggi dalam empat tahun
terakhir. Rilis laporan tersebut merupakan data ketenagakerjaan terakhir
sebelum pertemuan FOMC Desember, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed
akan mempertahankan suku bunganya di tengah ketidakpastian ekonomi.
§
Komentar
terbaru pejabat The Fed kembali menegaskan meningkatnya kehati-hatian terhadap
pemangkasan suku bunga. Gubernur Michael Barr menilai inflasi yang masih
bertahan di sekitar 3% membatasi ruang pelonggaran dan menuntut pendekatan yang
lebih hati-hati. Nada serupa dari sejumlah pejabat lainnya menandakan
ketidaknyamanan terhadap inflasi yang belum kembali ke target 2%, sehingga
memperumit prospek kebijakan dan langkah Fed Chairman Jerome Powell dalam
menentukan arah moneter ke depan.
§
Pelaku
pasar akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting di AS pekan depan,
termasuk inflasi PCE bulan September dan GDP AS Q3-2025, yang akan memberikan
petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
§
Sanksi
terbaru AS terhadap Rosneft dan Lukoil membuat sekitar 48 juta barel minyak
Rusia berpotensi terlantar di laut, dengan banyak kapal tanker belum menemukan
pembeli akibat kekhawatiran sanksi sekunder, termasuk dari China dan India.
India mulai mengalihkan permintaan ke pemasok Timur Tengah, sementara Rusia
tetap mengekspor ±3,4 juta bph via jalur laut. Ketidakpastian tujuan pembeli
ini meningkatkan risiko gangguan pasokan global dalam beberapa bulan mendatang.
§
PM
Jepang Takaichi mengesahkan paket stimulus sebesar ¥21,3 triliun, termasuk
¥17,7 triliun belanja akun umum yang berfokus pada langkah-langkah pengendalian
harga dan perlindungan daya beli masyarakat. Skala belanja tambahan ini
merupakan kenaikan terbesar sejak pandemi dan menandai respons agresif
pemerintah terhadap inflasi, namun juga berpotensi meningkatkan risiko
keberlanjutan fiskal Jepang ke depan.
§
BPJS
Ketenagakerjaan mendapat persetujuan awal dari Kemenkeu untuk mulai
berinvestasi di pasar offshore hingga 5% dari total AUM saat ini senilai $52
miliar. Rencana ini didorong oleh pertumbuhan aset BPJS TK yang mencapai 13%
per tahun mulai melampaui kedalaman pasar domestik. Dana investasi ke luar
negeri kemungkinan dikelola melalui manajer investasi pihak ketiga seiring
kapasitas internal yang belum siap untuk pengelolaan secara langsung.
§
Pertumbuhan
kredit Oktober 2025 melemah ke 7,36% YoY dari 7,7% di September, meski
pemerintah telah mengucurkan lebih dari Rp200 triliun SAL ke Himbara dan BPD.
Penyebab utama adalah lemahnya permintaan di tengah daya beli yang belum pulih
dan pelaku usaha yang wait-and-see serta preferensi menjaga kualitas aset.
Tingginya undisbursed loan mencapai Rp2.450,7 triliun turut menunjukkan
penyerapan kredit yang masih rendah.
§
Kemenperin
mencatat 7 produsen kendaran listrik telah memenuhi TKDN 40–80%, menandai
pendalaman rantai pasok lokal. Melalui program Low Carbon Emission Vehicle
(LCEV), sudah terdapat 15 perusahaan yang memproduksi berbagai kendaraan rendah
emisi, dengan total investasi tambahan sebesar Rp22,37 triliun, mencerminkan
kemajuan signifikan dalam percepatan elektrifikasi nasional.
§
Harga
obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran
kenaikan yield sebesar 2-10bps. Volume transaksi SBN secara outright hari ini
tercatat sebesar Rp23,7 triliun, naik dari Rp15,3 triliun pada perdagangan
kemarin.
§
IHSG
ditutup melemah sebesar -0,07% ke level 8.414,35 yang terutama disebabkan oleh
pelemahan sektor finansial (-0,61%), transportasi dan logistik (-0,60%), dan
infrastruktur (-0,58%).
§
Rupiah
ditutup menguat sebesar 0,19% ke level 16.700, dari penutupan sebelumnya di
level Rp16.732.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP