Financial Market Update
Point
of Interest:
·
Risalah
FOMC meeting Oktober 2025 menunjukkan nuansa yang lebih hati-hati, dengan mayoritas
anggota Fed memandang bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember belum tepat di
tengah inflasi yang masih di atas target. Proyeksi The Fed yang lebih
optimistis terhadap pertumbuhan PDB hingga 2028 memberi sinyal kondisi ekonomi
yang lebih kuat. Namun perbedaan pandangan internal semakin melebar yang
berpotensi mendorong preferensi menuju laju penurunan suku bunga acuan yang
lebih gradual, seiring tingkat suku bunga yang semakin mendekati area netral.
·
AS
menunda rilis data tenaga kerja Oktober-November hingga setelah FOMC meeting
Desember. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengumumkan tidak akan merilis data
tingkat pengangguran Oktober dan menunda rilis data payrolls Oktober dan
November hingga setelah FOMC meeting Desember. Pengumuman tersebut yang
dikombinasikan dengan nuansa hawkish dalam risalah FOMC meeting, semakin
memperbesar kemungkinan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada
pertemuan Desember.
·
Pelaku
pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 33,7% untuk penurunan FFR pada
bulan Desember, atau turun dari 50,1% pada hari sebelumnya. Pelaku pasar juga
cenderung berhati-hati dan mencermati lebih lanjut dinamika pasar menjelang
rilis data NFP September hari ini.
·
Defisit
APBN Indonesia periode Oktober melebar ke 2,02% terhadap PDB, didorong oleh
penurunan pendapatan negara sebesar 6% YoY, terutama dari pajak dan PNBP. Sementara
itu, belanja negara tumbuh moderat 1,4% YoY. Penerimaan bea-cukai menjadi
satu-satunya komponen yang tumbuh positif (+7,6% YoY). Pemerintah juga telah
merealisasikan Rp41,3 triliun untuk program makan gratis yang menjangkau 41,9
juta penerima. Pelebaran defisit ini menandai meningkatnya tekanan fiskal
menjelang akhir tahun di tengah pendapatan yang melemah dan belanja sosial yang
terus berjalan.
·
Current
account Indonesia periode Q3-2025 mencatat surplus $4 miliar (1,1% to GDP),
jauh di atas ekspektasi pasar sebesar $2 miliar. Hal ini didorong oleh lonjakan
surplus perdagangan barang dan membaiknya sektor jasa berkat peningkatan
wisatawan asing. Namun, neraca pembayaran keseluruhan tetap tertekan dengan
defisit $6,4 miliar, seiring defisit transaksi modal dan finansial yang melebar
ke $8,1 miliar akibat arus keluar asing dari surat utang dan pembayaran utang
swasta.
·
Pemerintah
mempercepat pencairan kompensasi kepada Pertamina dan PLN dengan skema
pembayaran bulanan sebesar 70% dari nilai kompensasi yang jatuh tempo. Langkah
ini bertujuan memperbaiki arus kas BUMN energi dan memastikan stabilitas
pasokan energi nasional, sejalan dengan komitmen Menkeu untuk memperlancar
proses pembayaran kompensasi.
·
MUFG memiliki
stance bearish terhadap rupiah, seiring penyempitan spread yield SBN-UST ke
sekitar 200bps (area terendah historis), yang meningkatkan kerentanan rupiah
terhadap guncangan global. Risiko fiskal turut membebani Indonesia, terutama terkait
wacana pemerintah meninjau ulang batas defisit 3% to GDP pada 2026. Meski BI
menahan suku bunga kemarin sempat menstabilkan rupiah, MUFG memproyeksikan
USD/IDR menuju 16.900 di akhir 2025 sebelum terkoreksi ringan ke sekitar 16.700.
·
Inggris
diperkirakan meningkatkan penerbitan surat utang pemerintah sekitar £9 miliar,
dengan total penerbitan tahun fiskal berpotensi mencapai £308,1 miliar atau
tertinggi sejak 2021.
·
Jepang
tengah memfinalisasi paket stimulus besar senilai ¥21,3 triliun, menegaskan
stance fiskal agresif pemerintahan Takaichi untuk mendorong pertumbuhan. Hal
ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal Jepang, mengingat
utang yang sudah sangat tinggi dan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah terbatas pada kisaran yield sebesar 1-2bps. Volume transaksi
SBN secara outright hari ini tercatat sebesar Rp15,3 triliun, turun dari Rp20,7
triliun pada perdagangan kemarin.
·
IHSG
ditutup menguat sebesar 0,16% ke level 8.419,92 yang ditopang oleh penguatan sektor barang konsumen
siklikal (+2,50%), infrastruktur (+0,52%), dan energi (+0,44%).
·
Rupiah
ditutup melemah sebesar -0,17% ke level 16.732, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.703.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP