Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        Hasil survei Bloomberg periode Oktober 2025: Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 4,9% YoY pada 2025, dan meningkat ke 5,0% pada 2026–2027. Secara kuartalan, pertumbuhan PDB Q3-2025 diperkirakan naik 1,1% q/q, sementara Q4-2025 melambat ke 0,75% q/q. Inflasi tahun 2025 diproyeksikan sebesar 1,9% YoY, naik tipis dari survei sebelumnya, dan inflasi 2026 diperkirakan tetap di 2,6% YoY. Suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini berada di 4,75%, dengan ekspektasi turun ke 4,50% pada akhir 2025 dan 4,25% pada awal 2026.

 

·        S&P Global Market Intelligence mencatat bahwa defisit fiskal Indonesia diperkirakan melebar akibat stimulus berkelanjutan, meski tetap di bawah batas 3% terhadap PDB. Namun, penggunaan skema pembiayaan di luar neraca melalui Danantara berpotensi menyamarkan kenaikan riil rasio utang pemerintah.

 

·        Harga minyak kelapa sawit turun ke level terendah selama tiga bulan terakhir, didorong oleh ekspektasi peningkatan produksi di negara penghasil utama, yakni Indonesia dan Malaysia. BMI-Fitch Solutions memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia naik 3,3% YoY menjadi 47,5 juta ton pada tahun 2026, sementara produksi Malaysia meningkat 0,5% YoY menjadi 19,5 juta ton. Kenaikan suplai ini berpotensi menekan harga sawit dalam jangka pendek, meski prospek jangka menengah masih ditopang oleh permintaan ekspor dan konsumsi domestik yang kuat.

 

·        BI memperkuat komitmen pengembangan Rupiah Digital berbasis SBN sebagai bentuk stablecoin nasional yang sah. Langkah ini menandai fase lanjutan dalam inisiatif digitalisasi sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan domestik, dengan tujuan menjaga kedaulatan moneter di era ekonomi digital.

 

·        Inflasi Eropa bulan Oktober turun tipis ke 2,1% namun tetap di atas target, menegaskan sikap hati-hati ECB yang menahan suku bunga di 2%. Meski tekanan harga berbeda antarnegara, stabilnya inflasi inti di 2,4% menandakan proses disinflasi belum sepenuhnya tuntas, sehingga ruang pelonggaran kebijakan masih terbatas dalam waktu dekat.

 

·        Keputusan The Fed untuk menghentikan kebijakan quantitative tightening (QT) membuka peluang bagi berbaliknya yield curve obligasi AS ke depan menjadi steepening. Yield jangka panjang berpotensi naik akibat peningkatan supply dan normalisasi term premium, sementara yield jangka pendek sudah sepenuhnya mencerminkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah bergerak melemah dengan kenaikan yield pada kisaran 0-3bps, yang masih dipengaruhi sentimen pasca keputusan FOMC meeting yang dinilai less dovish. Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp42,3 triliun, naik dari volume transaksi kemarin sebesar Rp28,4 triliun.

 

·        IHSG ditutup melemah sebesar -0,25% ke level 8.163,88, meskipun investor asing tercatat net beli sebesar Rp 1,13 triliun. Pelemahan terutama dipengaruhi oleh sektor perindustrian serta properti dan real estat serta sentimen negatif regional akibat rilis data PMI Manufacturing China periode Oktober yang terkontraksi ke level terendah sepanjang tahun 2025.  

 

·        Rupiah ditutup menguat tipis sebesar 0,06% ke level 16.630, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.640.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP