Financial Market Update
Point of Interest:
·
Bloomberg: Danantara memperoleh komitmen senilai
Rp50 triliun (USD3 miliar) untuk pembelian obligasi “patriot”. Komitmen
tersebut berasal dari sekitar 40-50 taipan besar dimana sebagian investor
berkomitmen hingga Rp3 triliun masing-masing. Namun, uniknya obligasi bertenor 5–7
tahun hanya menawarkan kupon 2%, jauh di bawah imbal hasil SBN yang di atas 5%
untuk tenor serupa, sehingga pembelian lebih bernuansa “legacy” dibandingkan
keuntungan investasi jangka pendek. Sejumlah investor diberitakan akan
menggunakan dana sendiri, namun ada juga yang menjajaki pinjaman dari Bank
Mandiri dan BNI meski bunga bisa di atas 6%. Target penerbitan 1 Oktober berpotensi
mundur karena masih menunggu persetujuan OJK.
·
Pemerintah berencana menggelontorkan stimulus
tambahan senilai USD2 miliar untuk mendorong konsumsi pada musim liburan Natal,
di luar paket USD4,5 miliar yang sudah diumumkan sejak Desember 2024. Menurut
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto program ini mencakup diskon transportasi,
kebutuhan pokok, belanja ritel, serta pembebasan pajak tiket pesawat. Airlangga
menilai stimulus diperlukan karena sebagian konsumen masih menahan belanja dan
investor cenderung berhati-hati di tengah tensi dagang dengan AS. Ia menegaskan
pemerintah tetap optimistis mencapai target pertumbuhan PDB 5,2% tahun ini.
·
Pemerintah memperkirakan realisasi belanja
subsidi dan kompensasi tahun fiskal 2025 mencapai Rp479 triliun, atau lebih
rendah dari alokasi Rp498,8 triliun dalam APBN. Hal tersebut disampaikan oleh
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat DPR yang menjelaskan lebih lanjut bahwa
dari perkiraan realisasi tersebut, subsidi energi dan non-energi diperkirakan
Rp288,2 triliun, sementara kompensasi Rp190,9 triliun. Hingga akhir Agustus,
realisasi subsidi dan kompensasi tercatat Rp218 triliun. Menkeu juga menyampaikan
pemerintah akan mempercepat proses pembayaran kompensasi ke BUMN, dari setiap
tiga bulan menjadi bulanan.
·
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan
pemerintah AS berada di jalur menuju shutdown. Presiden AS Donald Trump bertemu
pimpinan Demokrat dan Republik kurang dari 36 jam sebelum tenggat 1 Oktober,
namun kedua pihak belum mencapai kesepakatan terkait tuntutan Demokrat untuk
memperpanjang subsidi kesehatan dan membatalkan pemotongan dana Medicaid yang
menjadi bagian dari legislasi pajak utama Trump yang telah disetujui awal tahun
ini.
·
Reserve Bank of Australia menahan suku bunga
acuan di 3,6% setelah tiga kali pemangkasan tahun ini, sambil menegaskan sikap
hati-hati dan “data dependent” untuk langkah selanjutnya. Pelaku pasar
mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat setelah pernyataan
RBA bahwa inflasi Q3-2025 berpotensi lebih tinggi dari perkiraan dan
mensinyalkan tidak akan terburu-buru untuk pemangkasan lebih lanjut.
·
Presiden AS Donald Trump kembali memberikan
ultimatum bagi Hamas untuk mengakhiri perang Gaza, dengan segera membebaskan
sandera, menyerahkan senjata, dan menyerah atau menghadapi kekuatan penuh
militer Israel. Trump menegaskan Israel mendapat “dukungan penuh” untuk
menuntaskan operasi jika Hamas menolak tawaran tersebut. Namun, seruan ini
bukan hal baru dan telah berulang kali ditolak Hamas sepanjang konflik.
·
Lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 2 tahun
mencatat permintaan terendah sejak 2009, di tengah spekulasi bahwa BOJ berpotensi
menaikkan suku bunga secepatnya pada bulan Oktober. Bid-to-cover ratio turun ke
2,81 yang jauh di bawah rata-rata 12 bulan sebesar 3,79, sehingga mendorong
yield naik ke 0,935%. Pasar tengah mencermati pemilihan pimpinan Partai
Demokrat Liberal pada 4 Oktober untuk melihat dampaknya terhadap ekspektasi
kebijakan BOJ selanjutnya.
·
Harga obligasi domestik pemerintah bergerak
mixed, dimana _yield_ SBN tenor 10 tahun ke atas turun terbatas sekitar
0-1bps sedangkan yield tenor di bawah 10 tahun naik 1-4bps. Volume
transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp50,5 triliun, naik dari
volume transaksi kemarin sebesar Rp29,5 triliun.
·
IHSG ditutup melemah sebesar -0,77% ke
level 8,061.06.
·
Rupiah ditutup menguat tipis sebesar 0,09%
ke level 16,665, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.680.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP