Financial Market Update
POI - Point of Interest:
Indeks dolar masih berada
di bawah tekanan di sekitar level 106 karena investor tampaknya masih cenderung
kurang agresif menjelang rilis data inflasi AS. Para ekonom memperkirakan
tingkat inflasi tahunan akan turun menjadi 8,7% YoY dari 9,1% YoY pada Juni
2022, dan kejutan penurunan inflasi yang signifikan dapat mengurangi beberapa
tekanan moneter oleh The Fed dan mendorong indeks dolar lebih rendah lagi.
Biaya tenaga kerja di
sektor bisnis non-pertanian AS melonjak 10,8% QoQ di 2Q22, di atas perkiraan
pasar sebesar 9,5% QoQ dan melanjutkan kenaikan 12,7% QoQ di 1Q22. Ini
mencerminkan peningkatan 5,7% QoQ dalam kompensasi upah per jam dan penurunan
produktivitas sebesar 4,6% QoQ.
Stok minyak mentah di AS
naik 2,156 juta barel pada minggu lalu, di atas ekspektasi pasar yang meningkat
0,073 juta barel dan melanjutkan kenaikan inventori sebesar 2,165 juta barel
pada pekan sebelumnya.
Presiden menginginkan
defisit APBN harus di bawah 3,0% dari PDB pada 2023. Pemerintah terus berupaya
menekan defisit APBN seperti defisit APBN sebesar 6,14% dari PDB pada 2020,
defisit APBN 4,65% dari PDB pada tahun 2021, dan pemerintah optimistis total
defisit APBN dapat dipertahankan sebesar 3,92% dari PDB pada tahun 2022.
IHSG ditutup melemah 0,23%
atau 16bps ke level 7.086,24. IHSG menghentikan kenaikan tujuh hari berturut-turut,
tetapi arus beli MOC membantu IHSG ditutup hanya 0,2% lebih rendah setelah
sebelumnya jatuh lebih dari 1%. Transaksi pasar tercatat moderat dengan emiten
penambang logam dan saham infrastruktur menekan pasar sementara saham teknologi
melawan arah pergerakan pasar.
Rupiah ditutup melemah 19bps atau 0,13% ke level Rp14.872/USD, dibandingkan
dengan penutupan sebelumnya di level Rp14.853/USD.
Demikian disampaikan, terima kasih.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP