Financial Market Update

IDR10 : 6,93% - 6,99% (cl: 6,93%)
IDR5 : 6,79% - 6,82% (cl: 6,81%)
UST10 : 4,68% - 4,71% (last: 4,71%)

IDR : 17.692 - 17.752 (cl: 17.693)
DXY : 98,56 - 98,84 (last: 98,77)
JCI : 6.507,43 - 6.551,96 (cl: 6.525,69)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 6,81%
FR0108 (10yr) : -4bps to 6,93%
FR0106 (15yr) : -4bps to 7,06%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,11%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark mayoritas bergerak menguat dengan kisaran pergerakan yield sebesar 0-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 4 bps ke level 6,93% (ytd: +88 bps), sejalan dengan kebijakan BI mengurangi frekuensi lelang SRBI yang mengurangi supply instrumen jangka pendek dan akan memaksa investor mengalihkan dananya pada SBN tenor pendek-menengah (2-5 tahun). Pengurangan tsb dipersepsikan pelaku pasar sebagai pergeseran arah kebijakan BI bahwa kenaikan suku bunga saat ini belum menjadi prioritas dan implementasi konkret atas arahan agar suku bunga SRBI tidak terus meningkat.

Rupiah menguat 0,30% ke level 17.693 dari 17.746, sejalan dengan penguatan mata uang di kawasan EM, yg masih disebabkan oleh pelemahan USD secara luas akibat dampak dari “Bessent Put” melalui rencana buyback UST tenor panjang.

IHSG menguat 0,37% ke level 6.525,69, yang terutama ditopang oleh saham perbankan, dengan emiten BNI naik 4,5% ke level tertinggi sejak 17 Juni dan BRI menguat 2,9% sebagai kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks. Sebanyak 319 dari 918 saham menguat, sementara 294 saham melemah, menunjukkan reli yang lebih selektif dan terkonsentrasi pada sektor tertentu.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tw II-2026 mencatat defisit sebesar $0,9 miliar, sedangkan Current Account Deficit (CAD) melebar tajam menjadi $12,5 miliar atau 3,3% dari PDB. Kenaikan defisit CA terutama disebabkan oleh lonjakan defisit migas dan menyempitnya surplus nonmigas seiring tingginya impor. Namun, tekanan tersebut sebagian tertahan oleh surplus transaksi modal dan finansial yang ditopang arus masuk FDI dan portofolio asing, sehingga defisit NPI secara keseluruhan tetap relatif terbatas.

Defisit CA Indonesia sebesar $12,5 miliar menunjukkan pelemahan signifikan pada posisi eksternal dan meningkatkan kebutuhan pembiayaan melalui arus modal masuk. Meski dampaknya saat ini masih tertahan oleh pelemahan USD dan membaiknya sentimen terhadap tata kelola BI, tercermin dari penguatan Rupiah dan penurunan yield SBN, defisit tersebut tetap menjadi risiko utama jangka menengah. Jika USD kembali menguat atau harga minyak bertahan di atas $90/barel, tekanan terhadap Rupiah berpotensi meningkat kembali dan menguji level Rp18.000/USD.

Bank Indonesia (BI) mengurangi frekuensi lelang SRBI dari mingguan menjadi dua minggu sekali, dengan lelang berikutnya dijadwalkan pada 28 Agustus. Kebijakan ini mengindikasikan pergeseran stance pengelolaan likuiditas BI melalui pengurangan pasokan instrumen sterilisasi berimbal hasil tinggi, yang turut mendorong reli pada SBN tenor pendek dengan penurunan yield SBN 2 tahun sebesar 12,6 bps menurut data Bloomberg.

BI merilis data uang beredar dalam arti luas (M2) Juli yang tumbuh 8,3% YoY. Capaian tersebut konsisten dengan target pertumbuhan kredit BI dan mengindikasikan bahwa kondisi moneter masih cukup akomodatif untuk mendukung aktivitas ekonomi tanpa memicu tekanan inflasi.

Fitch Ratings menerbitkan laporan yang menanggapi RAPBN Indonesia 2027, dan menilai bahwa usulan anggaran 2027 menunjukkan kesinambungan kebijakan dan menurunkan risiko peningkatan belanja pemerintah dalam jangka pendek. Target defisit fiskal sebesar 2,4% terhadap PDB yang diajukan Presiden Prabowo mengindikasikan konsolidasi moderat dibandingkan target revisi 2026, yang dinilai positif bagi profil kredit sovereign Indonesia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan AS berencana menerapkan sanksi terberat dalam sejarah, disertai dengan blokade untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Selanjutnya, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa konflik dengan Iran telah memasuki fase baru di mana tekanan ekonomi kini menjadi instrumen utama untuk menghancurkan Iran.

Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin berat setelah UEA mengumumkan penghentian total seluruh transaksi perdagangan dengan Iran. Gubernur Bank Sentral Iran mengonfirmasi bahwa ekspor minyak telah terhenti sepenuhnya, dengan laporan kerugian Iran mencapai $400–500 juta/hari. IMF memproyeksikan PDB riil Iran akan terkontraksi sebesar 6,1% YoY, sementara inflasi diproyeksikan mencapai 68,9% YoY pada 2026.

People’s Bank of China (PBoC) kembali mempertahankan suku bunga LPR tenor 1 dan 5 tahun di level 3,0% dan 3,5%, sejalan dengan perkiraan konsensus. Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati terhadap dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah, meskipun tren ekspor masih kuat dari permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).

China mengumumkan rencana kebijakan fiskal dan keuangan terkoordinasi pada Semester II-2026 untuk menopang pertumbuhan ekonomi, yang mencakup perluasan subsidi bunga bagi usaha kecil dan konsumen, penyesuaian tarif impor serta penyempurnaan skema subsidi daerah, dan percepatan reformasi perpajakan untuk memperkuat belanja publik. Hal ini mendorong peningkatan risk appetite di pasar Asia dan turut mendukung aset EM berbasis komoditas, termasuk Indonesia.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP