Financial Market Update
IDR10 : 6,95% - 7,05% (cl: 6,97%) IDR5 : 6,68% - 6,88% (cl: 6,81%) UST10 : 4,63% - 4,68% (last: 4,68%)
IDR : 17.745 - 17.817 (cl: 17.746) DXY : 98,56 - 98,90 (last: 98,68) JCI : 6.444,40 - 6.514,68 (cl: 6.501,59)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -7bps to 6,81% FR0108 (10yr) : -9bps to 6,97% FR0106 (15yr) : -10bps to 7,10% FR0107 (20yr) : -10bps to 7,10%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 7-10 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 9 bps ke level 6,97% (ytd: +92 bps), yang dipengaruhi oleh keputusan Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan jumlah buyback pada UST tenor panjang sehingga menurunkan yield UST, di tengah berlanjutnya sentimen positif di sisi domestik dari keputusan BI kemarin yang dipersepsikan konstruktif bagi pasar obligasi domestik (no surprises).
• Rupiah menguat 0,49% ke level 17.746 dari 17.833, sejalan dengan penguatan mata uang di kawasan EM, yg terutama disebabkan oleh pelemahan USD secara luas dipicu oleh pengumuman rencana utk menggandakan buyback UST tenor panjang. Bloomberg menuliskan bahwa kondisi ini menyebabkan USD menjadi lebih murah sebagai mata uang pendanaan dan meningkatkan strategi carry trade ke mata uang EM dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk ke Rupiah.
• IHSG menguat 1,68% ke level 6.501,59, sejalan dengan penguatan bursa saham regional Asia yg turut didukung sentimen domestik dari rencana BEI untuk menghapus aturan batas bawah harga saham, yang terjadi di tengah berlanjutnya sentimen positif dari keputusan BI kemarin yg mengurangi risiko premium tata kelola dan stabilitas kebijakan bank sentral. Sebanyak 452 saham menguat dan 190 saham melemah, dengan emiten Amman Mineral Internasional menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks (+8,0%), sementara Raja Roti Cemerlang mencatat kenaikan individu tertinggi (+31,3%).
• Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan signifikan program buyback guna mendukung likuiditas pada surat utang berjangka panjang. Nilai buyback untuk tenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun akan dinaikkan menjadi setidaknya $4 miliar per operasi dari sebelumnya $2 miliar, yg berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026. Pengumuman tersebut mendorong yield UST 30 tahun turun ke sekitar 5,19% dari level tertinggi 5,34% pada awal pekan, sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap aksi jual global pada obligasi berdurasi panjang.
• Risalah FOMC Juli masih menunjukkan bias relatif hawkish, dengan sebagian anggota mendukung kenaikan 25 bps dan banyak peserta menilai pengetatan tambahan tetap diperlukan jika inflasi tidak mereda. Namun, pelemahan data ekonomi AS belakangan ini mendorong pasar menunda ekspektasi kenaikan suku bunga. Pasar saat ini hanya memperkirakan sekitar 31% peluang kenaikan suku bunga pada September, dibandingkan sekitar 65% peluang setidaknya satu kali kenaikan hingga Desember.
• Tempo melaporkan bahwa Kemenkeu Indonesia menyatakan sedang “mengikuti langkah AS” terkait buyback obligasi, merujuk langsung pada pengumuman AS. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menkeu Purbaya dan mengindikasikan bahwa Indonesia berpotensi mempercepat program buyback SBN untuk mendukung pasar obligasi.
• Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menghapus batas bawah harga saham Rp50 untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi proses pembentuan harga. Ketentuan yang telah berlaku lebih dari satu dekade ini dinilai sebagian investor institusi asing sebagai distorsi struktur pasar karena membatasi penyesuaian harga saham berharga rendah. Rencana penghapusan ini merupakan bagian dari agenda reformasi struktural BEI, yang akan menghadapi evaluasi MSCI pada November 2026.
• Jakarta Futures Exchange (JFX) membidik peran utama dalam pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang ditargetkan mulai beroperasi 1 Januari 2027. JFX menilai target tersebut realistis apabila pemerintah memanfaatkan platform dan infrastruktur yang sudah tersedia, mengingat bursa tersebut telah memiliki pengalaman perdagangan kontrak berjangka untuk CPO, emas, dan komoditas lainnya.
• Bank Indonesia memperluas kerangka Kartu Kredit Indonesia (KKI) Segmen Ritel kepada seluruh Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) berizin, termasuk fintech dan penyelenggara non-bank. Kebijakan ini memperluas ekosistem pembayaran domestik, mempercepat pengembangan infrastruktur pembayaran nasional, serta mengurangi ketergantungan transaksi domestik pada jaringan internasional seperti Visa dan Mastercard.
• Bank Indonesia secara terpisah memperingatkan bahwa kondisi El Niño berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan inflasi dalam beberapa bulan ke depan, sebagaimana dilaporkan Jakarta Globe. Risiko tersebut menjadi salah satu faktor ketidakpastian utama yang dapat mendorong inflasi 2026 lebih tinggi, meskipun CPI Juli tercatat 2,88% atau masih dalam sasaran target 2,5% ± 1%.
• Ketegangan AS–Iran kembali meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan “ECONOMIC D-DAY” dan mengancam sanksi ekonomi terhadap negara yang mendukung Iran. Eskalasi tersebut mendorong Brent mendekati $94/barel, diikuti penguatan harga gas Eropa dan LNG Asia. Risiko gangguan pasokan energi global tetap tinggi seiring belum adanya kemajuan perundingan dan arus minyak Selat Hormuz yang masih jauh di bawah level pra-konflik. Kekhawatiran juga meluas ke jalur pelayaran lain setelah muncul ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb, sehingga premi risiko geopolitik diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP