Financial Market Update

IDR10 : 7,06% - 7,13% (cl: 7,06%)
IDR5 : 6,87% - 6,94% (cl: 6,88%)
UST10 : 4,63% - 4,71% (last: 4,67%)

IDR : 17.833 - 17.863 (cl: 17.833)
DXY : 99,34 - 99,69 (last: 99,46)
JCI : 6.373,81 - 6.490,91 (cl: 6.394,13)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -6bps to 6,88%
FR0108 (10yr) : -5bps to 7,06%
FR0106 (15yr) : -2bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : -3bps to 7,20%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 2-6 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 5 bps ke level 7,06% (ytd: +102 bps), terutama didorong keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% yang mengurangi risiko pengetatan lanjutan dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga telah mendekati puncak siklus. Sentimen turut ditopang oleh sinyal kesinambungan kebijakan di bawah Plt. Gubernur Destry Damayanti, arahan BI agar yield SRBI tidak terus meningkat, serta kembalinya arus masuk asing ke pasar obligasi, sehingga menurunkan premi risiko dan memperkuat permintaan SUN.

Rupiah menguat 0,13% ke level 17.833 dari 17.857, di tengah pelemahan USD (DXY) yang terjadi seiring berlanjutnya repricing ekspektasi suku bunga The Fed setelah data inflasi produsen dan konsumen AS diumumkan lebih rendah pada pekan sebelumnya. Indikasi berlanjutnya flow asing yg masuk ke pasar obligasi menjelang pengumuman BI Rate ($95,9 juta pada 14 Agustus menurut data Kemenkeu) turut menopang penguatan Rupiah.

IHSG melemah 0,86% ke level 6.394,13, menghapus sebagian kenaikan pada 18’Ags, seiring aksi jual saham teknologi global yang ikut menekan pasar saham di kawasan emerging secara luas. Bayan Resources (BYAN) menjadi emiten yang berkontribusi pada penurunan indeks dgn pelemahan sebesar 9,4%.

Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di 5,75% (sesuai ekspektasi konsensus) dan merupakan keputusan kebijakan pertama di bawah Plt. Gubernur Destry Damayanti. Suku bunga Deposit dan Lending Facility masing-masing tetap di 4,75% dan 6,50%. Keputusan tsb memberikan sinyal kesinambungan yang jelas, seiring penegasan kembali fokus BI pada stabilitas Rupiah dan inflasi dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. BI juga melanjutkan penggunaan instrumen non-suku bunga melalui intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF serta optimalisasi SRBI untuk mendukung arus modal masuk dan stabilitas pasar keuangan.

Plt. Gubernur Destry menyatakan BI tidak menginginkan suku bunga SRBI terus meningkat dan bahwa penurunan yield SRBI dalam dua pekan terakhir merupakan bagian dari arah kebijakan yang disengaja. BI juga telah meluncurkan berbagai insentif untuk mendukung arus modal masuk ke Indonesia, antara lain memberikan insentif untuk menanggung biaya lindung nilai bagi investor asing yang masuk ke pasar, sehingga dapat menjaga spread tetap menarik dan mendorong mereka berinvestasi pada instrumen keuangan domestik.

BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB 2026 sebesar 4,9%–5,7%, konsisten dengan pertumbuhan Tw II sebesar 5,29% YoY. Pertumbuhan kredit Juli juga tetap kuat sebesar 13,58% YoY, dengan kredit investasi tumbuh 25,13% YoY. Kombinasi pertumbuhan yang solid dan inflasi yang tetap dalam sasaran 1,5%–3,5% mengonfirmasi bahwa BI tidak perlu melakukan pengetatan lebih lanjut, sehingga mendukung pandangan bahwa yield saat ini berada di atau mendekati puncak siklus.

FTSE Russell menunda seluruh penambahan saham Indonesia hingga review Desember 2026. Hal ini dilakukan guna memberikan waktu tambahan untuk menilai efektivitas reformasi pasar yang dilakukan otoritas Indonesia. Namun demikian, FTSE Russell menyatakan tetap akan melaksanakan perubahan pada review September 2026 yang bersifat mengurangi bobot atau menghapus saham, khususnya saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi pada review September, berlaku sejak pembukaan pasar pada 21 September. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan MSCI yang membatasi penambahan saham baru sambil menindak isu likuiditas dan konsentrasi kepemilikan.

Selat Hormuz masih secara efektif tertutup, dengan Presiden Trump dilaporkan menyatakan tidak ada perundingan yang berlangsung dengan Iran dan kedua negara masih berselisih mengenai pengelolaan jalur tersebut. Konsultan energi FGE NexantECA melaporkan bahwa ekspor produk bahan bakar olahan melalui Hormuz telah turun hingga hampir nol, berbeda dengan arus minyak mentah yang relatif lebih bertahan. Kondisi tsb memperketat pasokan produk olahan dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Survei Fund Manager BofA bulan Agustus menunjukkan perbaikan sentimen relatif terhadap saham Indonesia, setelah India menggantikan Indonesia sebagai pasar saham paling tidak disukai di Asia. Sebanyak 32% responden tercatat net underweight terhadap India, terutama karena minimnya eksposur terhadap tema AI, sementara persepsi investor terhadap Indonesia membaik dibandingkan survei sebelumnya.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP