Financial Market Update

IDR10 : 7,11% - 7,19% (cl: 7,11%)
IDR5 : 6,98% - 7,10% (cl: 6,99%)
UST10 : 4,63% - 4,70% (last: 4,69%)

IDR : 17.824 - 17.890 (cl: 17.825)
DXY : 99,48 - 99,94 (last: 99,67)
JCI : 6.267,41 - 6.401,89 (cl: 6.401,89)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -10bps to 6,99%
FR0108 (10yr) : -6bps to 7,11%
FR0106 (15yr) : -2bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : -3bps to 7,18%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 2-10 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 6 bps ke level 7,11% (ytd: +107 bps). Penguatan ditopang meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta sentimen positif atas kesinambungan kebijakan BI seiring proses konfirmasi jajaran Dewan Gubernur oleh DPR. Kurva SBN bergerak bull steepening, mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa BI memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan atau menurunkan suku bunga acuan.

Rupiah menguat 0,25% ke level 17.825 dari 17.870, sejalan dengan penguatan mata uang Asia setelah inflasi produsen AS yang lebih rendah dari ekspektasi meredakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September. Penguatan juga didukung pidato anggaran Presiden Prabowo yang menetapkan asumsi nilai tukar Rupiah 2027 sebesar Rp17.500/USD, sehingga memberikan jangkar positif bagi ekspektasi pasar valas.

IHSG menguat 1,59% dan ditutup pada level tertinggi intrahari di 6.401,89, sejalan dengan penguatan bursa saham regional setelah inflasi AS yang lebih rendah meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Bayan Resources (+20%) dan Dana Brata Luhur (+25%) menjadi dua kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks, yg merupakan emiten terkait pertambangan yang selaras langsung dengan agenda bursa komoditas dan sumber daya Prabowo. Data menunjukkan net sell asing sekitar Rp1,03 triliun, sehingga penguatan indeks lebih mencerminkan relief rally/short-covering dan permintaan domestik dibandingkan risk-on penuh.

Presiden Prabowo menyampaikan arah kebijakan fiskal 2027 yang menekankan konsolidasi fiskal dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, dengan target defisit APBN sebesar 2,40% PDB, pertumbuhan ekonomi 6%, asumsi Rupiah Rp17.500/USD, dan ICP $70/barel. Pemerintah menetapkan pendapatan Rp3.426 triliun, belanja Rp4.097,2 triliun, pembiayaan/defisit Rp671,2 triliun (2,40% PDB). Pemerintah juga akan meluncurkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis pada Januari 2027 serta memperkuat agenda antikorupsi dan efisiensi pengelolaan negara.

CEO Danantara menegaskan bahwa unit komoditasnya tidak akan menjadi eksportir tunggal sumber daya alam Indonesia, memberikan kejelasan atas kebijakan ekspor yang sebelumnya menjadi perhatian pasar.

Lelang SRBI 14’Agustus mencatat permintaan yang kuat, dengan total penawaran mencapai Rp80,7 triliun atau sekitar 4 kali dari nominal yang dimenangkan sebesar Rp20,0 triliun. Weighted average yield yang dimenangkan tercatat sebesar 7,06% untuk tenor 6 bulan, 7,21% di 9 bulan, dan 7,37% di 12 bulan, menunjukkan permintaan investor tetap solid terhadap instrumen SRBI di seluruh tenor.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah dua kapal ADNOC dilaporkan terkena serangan drone Iran, memperkuat kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan gangguan pasokan energi. Perkembangan tersebut, disertai tersendatnya negosiasi pembukaan kembali Hormuz, mendorong Brent naik 1,67% ke $88,52/barel dan mencatat kenaikan mingguan 5,95%. Pelaku pasar menilai risiko geopolitik terhadap rantai pasok minyak masih tinggi, bahkan apabila kesepakatan pembukaan kembali selat nantinya tercapai. Perkembangan tsb menahan optimisme yang terjadi di domestik, meskipun secara keseluruhan aset domestik tetap berhasil ditutup menguat.

Producer Price Index (PPI) US tidak mengalami perubahan atau tercatat 0,0% pada Juli, mengindikasikan meredanya tekanan inflasi. Secara tahunan, inflasi di tingkat produsen tercatat 4,7% YoY, lebih rendah dari ekspektasi, sementara PPI inti, yang mengecualikan komponen makanan dan energi, meningkat 0,2%, juga di bawah perkiraan. Data tersebut menunjukkan perlambatan kenaikan biaya input bagi produsen. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas hold FFR meningkat menjadi 69,6%, sementara peluang kenaikan 25 bps berada di 30,4%.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP