Financial Market Update
IDR10 : 7,19% - 7,21% (cl: 7,21%) IDR5 : 7,12% - 7,22% (cl: 7,17%) UST10 : 4,67% - 4,73% (last: 4,68%)
IDR : 17.782 - 17.849 (cl: 17.840) DXY : 99,73 - 99,90 (last: 99,85) JCI : 6.230,10 - 6.388,58 (cl: 6.267,88)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +5bps to 7,17% FR0108 (10yr) : +1bps to 7,21% FR0106 (15yr) : +1bps to 7,24% FR0107 (20yr) : +1bps to 7,22%%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-5 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,21% (ytd: +116bps). Pelemahan SBN terutama disebabkan oleh sentimen negatif dari kembali naiknya harga minyak akibat negosiasi AS-Iran yang mengalami stagnasi. Hal ini kembali meningkatkan kekhawatiran terkait beban fiskal dan current account deficit Indonesia sehingga memicu pelemahan SBN.
• IHSG ditutup melemah 1,53% ke level 6.267,88 seiring sentimen negatif dari lonjakan harga minyak, pelemahan Rupiah, dan aksi jual bersih investor asing. Pelemahan Rupiah terutama menekan saham-saham sektor industri, barang konsumen non-primer, dan teknologi yang sensitif terhadap lonjakan biaya impor modal dan bahan baku. Investor asing mencatatkan total net sell senilai Rp687,8 miliar di seluruh pasar (termasuk net outflow Rp279,9 miliar di pasar reguler).
• Rupiah melemah 0,44% ke level 17.840 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.762, sejalan dengan pelemahan mata uang regional Asia seiring ketidakpastian situasi di Selat Hormuz yang kembali meningkatkan harga minyak dan menimbulkan kekhawatiran terkait berlanjutnya kondisi twin deficit Indonesia.
• Harga minyak jenis Brent sempat menguat ke level $90/barel akibat proses negosiasi AS-Iran terkait navigasi di Selat Hormuz yang dikabarkan kembali terhambat. Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS sebelum sanksi dicabut, sementara Presiden Trump mengklaim kendali penuh atas jalur perairan tersebut dan menuntut kompensasi finansial. Harga minyak kemudian sedikit mereda ke kisaran $87/barel setelah adanya laporan kemajuan negosiasi melalui perantara Qatar dan Oman.
• Artikel Bloomberg menyoroti pergeseran fokus utama pasar kepada tantangan bagi Gubernur BI nantinya utk dapat menjaga independensi bank sentral, sekaligus berkoordinasi erat dgn pemerintahan Prabowo dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejauh ini, para ekonom dan analis merespons positif pencalonan Destry Damayanti, dgn ekspektasi kesinambungan kebijakan BI tetap terjaga dan stabilitas rupiah menjadi fokus utama. Hubungan Destry yang baik dengan Menkeu Purbaya juga dinilai dapat memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, sekaligus membuka peluang bagi stance kebijakan moneter yang lebih dovish.
• Menkeu Purbaya menyambut positif pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif, dengan menilai pengalaman kerja sama keduanya saat Purbaya menjabat Ketua Dewan Komisioner LPS berlangsung profesional dan konstruktif.
• Capital Economics menilai pencalonan Destry Damayanti dapat meredakan kekhawatiran terhadap independensi BI sekaligus menjaga kesinambungan kebijakan. Kredibilitas Destry akan mulai diuji pada saat memimpin RDG BI pekan depan, dimana pelaku pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan.
• Citigroup memperkirakan BI akan cenderung lebih dovish secara bertahap selama beberapa waktu setelah pergantian kepemimpinan. Hal ini seiring meredanya tekanan domestik dan eksternal yang membuka ruang bagi pemulihan arus modal asing ke pasar obligasi. Citi juga melihat peluang penurunan lanjutan suku bunga SRBI, didukung turunnya yield UST, yang dapat mendorong peralihan likuiditas perbankan ke kredit. Namun, BI-Rate diperkirakan belum turun dalam waktu dekat, dengan Citi memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga pada RDG pekan depan.
• Survei Penjualan Eceran BI menunjukkan kinerja konsumsi domestik pada Juli 2026 masih relatif terjaga, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) diprakirakan tumbuh 0,9% YoY menjadi 224,4, membaik dibandingkan Juni yang direvisi menjadi -3,0% YoY. Perbaikan IPR terutama ditopang kelompok makanan, minuman dan tembakau, suku cadang dan aksesori, serta perlengkapan rumah tangga. Namun, secara bulanan IPR terkoreksi tipis (-0,3% vs Juni +0,7%) seiring normalisasi konsumsi pasca-momentum hari besar keagamaan dan libur sekolah. Sementara itu, penurunan ekspektasi harga pada September mengindikasikan tekanan inflasi ke depan cenderung mereda.
• Pemerintah menerbitkan sukuk sebesar Rp12,0 triliun, melampaui target indikatif Rp10,0 triliun, dengan total penawaran masuk meningkat menjadi Rp39,1 triliun dan rasio bid-to-cover naik menjadi 3,26x. Permintaan terkonsentrasi pada tenor pendek hingga menengah, terutama seri PBS030, yang mencerminkan minat investor yang tetap solid terhadap sukuk pemerintah. Total penerbitan SBN sepanjang tahun 2026 telah mencapai Rp1.051,0 triliun setelah memperhitungkan hasil lelang tsb.
• Rencana Danantara Investment Management untuk kembali menerbitkan obligasi berdenominasi USD telah terkonfirmasi dalam pipeline Bloomberg. Sejumlah bank telah ditunjuk meski nilai, tenor, dan indikasi harga belum diumumkan. Rencana ini kembali dibuka setelah penerbitan sebelumnya ditunda pada 30 Juli, didukung oleh penguatan Rupiah, penurunan yield UST, dan meningkatnya kepastian arah kebijakan Bank Indonesia pasca konfirmasi Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP*