Financial Market Update
IDR10 : 7,24% - 7,26% (cl: 7,26%) IDR5 : 7,23% - 7,26% (cl: 7,24%) UST10 : 4,66% - 4,68% (last: 4,66%)
IDR : 17.882 - 17.941 (cl: 17.890) DXY : 99,89 - 99,99 (last: 99,90) JCI : 6.347,43 - 6.409,65 (cl: 6.409,65)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +1bps to 7,24% FR0108 (10yr) : +1bps to 7,26% FR0106 (15yr) : 0bps to 7,29% FR0107 (20yr) : 0bps to 7,27%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak sideways cenderung melemah dengan kisaran pergerakan yield sebesar 0-1 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,26% (ytd: +121bps). Pergerakan SBN pada kisaran yang sempit terutama dipengaruhi oleh wait and see pelaku pasar menjelang rilis data NFP malam ini.
• IHSG menguat 1,04% ke level 6.409,65, merupakan level tertinggi selama tiga bulan terakhir. Penguatan IHSG sejalan dengan sentimen positif regional dari penguatan bursa saham di kawasan Asia, yang dipimpin oleh pemulihan indeks saham Korea Selatan dari tekanan aksi jual masif emiten semikonduktor pada hari sebelumnya. Saham BBRI menjadi kontributor terbesar penguatan IHSG dengan kenaikan sebesar 3,0%, mencerminkan rotasi investor ke saham perbankan BUMN yang didukung ekspektasi kesinambungan kebijakan BI di bawah kepemimpinan Destry Damayanti.
• Rupiah menguat 0,16% ke level 17.890 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.918. Kinerja Rupiah diuntungkan dari pergerakan sideways/terbatas pada USD yang mengantisipasi rilis data sektor ketenagakerjaan AS pada Jumat malam, ditengah persepsi positif dari konfirmasi pencalonan Destry sebagai Gubernur BI definitif oleh pernyataan Mensesneg.
• Ketidakpastian kesepakatan Selat Hormuz kembali meningkat dan mendorong harga Brent ke atas $82/barel, setelah Iran dilaporkan mempertimbangkan larangan bagi kapal AS dan Israel untuk melintasi selat tsb serta kembali menyerang target di sekitar kawasan. Aktivitas pelayaran yang terus menurun dan belum adanya kepastian hasil negosiasi Iran–Oman turut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, sehingga membatasi penguatan aset berisiko.
• JPMorgan memperkirakan persediaan minyak global turun sebesar 5,2 juta barel per hari sepanjang Juli. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sekalipun kesepakatan Hormuz tercapai, fundamental pasar minyak masih ketat dan berpotensi membatasi ruang penurunan harga.
• Pasar swap memperkirakan peluang lebih dari 50% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada FOMC meeting 16 September. Probabilitas tersebut kembali meningkat khususnya setelah Financial Times melaporkan bahwa Fed Chairman Warsh siap menaikkan suku bunga apabila data inflasi dalam beberapa pekan ke depan kembali menunjukkan tekanan yang tinggi.
• Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi Plt. Gubernur BI Destry sebagai salah satu nama yg dibahas untuk calon Gubernur BI. Bloomberg News mengutip sejumlah sumber anonim yg menginformasikan bahwa Presiden Prabowo berupaya mempercepat finalisasi daftar kandidat, dengan Destry Damayanti sebagai kandidat terdepan. Namun, hingga Jumat, pemerintah dikabarkan belum menyampaikan surat kepada DPR.
• Data cadangan devisa periode Juli 2026 turun menjadi $145,34 miliar (Juni: $145,59 miliar), atau turun terbatas sebesar $250 juta. Posisi cadangan devisa tersebut masih berada di atas ambang kecukupan IMF sebesar tiga bulan impor, sehingga tidak menjadi katalis negatif bagi pasar. Namun, tren penurunan cadev dari level tertinggi $148,7 miliar pada awal 2026 tetap menjadi Risiko kerentanan dalam jangka menengah karena dapat membatasi ruang Bank Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar.
• HSBC menilai arus masuk asing ke pasar SBN belum cukup kuat untuk menopang pemulihan Rupiah pasca pengunduran diri Gubernur BI Perry. Meskipun penurunan harga minyak dan pelemahan USD memberikan dukungan terhadap Rupiah, momentum arus masuk asing cenderung melambat dan kembali diwarnai aksi jual. Kondisi tersebut membuat pemulihan Rupiah masih rapuh dan sangat bergantung pada faktor eksternal, terutama pergerakan harga minyak dan USD.
• Analisis dari The Business Times (Singapura) menyoroti pelemahan Rupiah sebagai salah satu faktor utama yang menekan kinerja earnings sektor konsumsi Indonesia pada Semester I-2026, terutama melalui kenaikan biaya pendanaan dan impor. Tekanan terhadap laba sektor konsumsi diperkirakan masih berlanjut pada Semester II-2026, seiring daya beli konsumen yang rapuh dan tingginya ketergantungan sektor terhadap bahan baku impor.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP