Financial Market Update

IDR10 : 7,29% - 7,32% (cl: 7,32%)
IDR5 : 7,27% - 7,31% (cl: 7,31%)
UST10 : 4,66% - 4,71% (last: 4,68%)

IDR : 18.055 - 18.094 (cl: 18.085)
DXY : 100,60 - 101,07 (last: 100,70)
JCI : 6.106,55 - 6.186,36 (cl: 6.186,36)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -2bps to 7,31%
FR0108 (10yr) : +2bps to 7,32%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,32%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,28%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 2 bps ke level 7,32% (ytd: +127bps). Pelemahan SBN terjadi seiring berlanjutnya tekanan terhadap Rupiah pasca keputusan hawkish hold pada FOMC meeting, yg juga memicu tekanan pelemahan thd aset-aset negara berkembang secara global.

IHSG menguat 1,56% ke level 6.186,36, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 21 Juli sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama enam hari berturut-turut. Penguatan didorong oleh aksi beli pada saham-saham blue chips dan sentimen positif musim rilis laporan keuangan emiten, yang mampu mengimbangi kekhawatiran terkait proses suksesi kepemimpinan BI. Saham BCA menjadi kontributor utama penguatan indeks, sementara 495 dari 919 saham yang diperdagangkan ditutup menguat, mencerminkan perbaikan sentimen pasar yang lebih luas.

Rupiah melemah 0,17% ke level 18.085 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.055. Bagi Indonesia, hasil pertemuan The Fed semakin memperberat tantangan yang dihadapi pasar domestik. Rupiah masih berada di dekat level terendah sepanjang sejarah, imbal hasil SBN seri benchmark telah meningkat selama sembilan hari berturut-turut, di tengah proses transisi kepemimpinan BI pasca pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak.

The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% sesuai ekspektasi pasar, dengan hasil pemungutan suara 9-3 dan pernyataan kebijakan yang relatif tidak berubah dibandingkan pertemuan Juni. Namun, munculnya tiga dissenting vote yang mengusulkan kenaikan suku bunga 25 bps mencerminkan meningkatnya kekhawatiran sebagian pejabat The Fed terhadap tekanan inflasi yang masih bertahan. Kekhawatiran tsb didukung oleh kenaikan harga minyak akibat kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah, sementara risalah FOMC Juni sebelumnya juga menunjukkan sebagian pejabat telah mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan mayoritas masih menilai risiko inflasi tetap tinggi, termasuk dari potensi meningkatnya permintaan terkait AI.

Komunikasi Fed Chairman Kevin Warsh dinilai belum sepenuhnya meyakinkan pasar mengenai komitmennya dalam mengendalikan inflasi, sehingga memicu spekulasi bahwa sikap hawkish perlu didukung oleh langkah nyata melalui kenaikan suku bunga. Analis menilai penampilan Warsh dalam konferensi pers telah melemahkan kredibilitasnya, sementara gaya komunikasinya justru dinilai kontraproduktif. Perhatian investor kini beralih ke Simposium Jackson Hole sebagai kesempatan bagi Warsh untuk memberikan panduan lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter.

JPMorgan memajukan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dari H2-2027 menjadi Desember 2026. Menurut ekonom JPMorgan, Fed Chairman kembali gagal memberikan penjelasan yang meyakinkan mengenai strategi pengendalian inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa anggota FOMC lainnya akan mendorong kebijakan moneter yang lebih tegas untuk menjaga kredibilitas The Fed.

Harga minyak Brent sempat naik hingga $93/barel yg lebih didorong oleh fear premium dan faktor teknis dibandingkan perubahan fundamental pasar. Kekhawatiran atas eskalasi konflik AS-Iran dan potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz sempat mendorong harga melonjak, yang diperparah oleh tipisnya likuiditas, mendekati jatuh tempo kontrak berjangka, dan aksi stop-loss. Harga kemudian terkoreksi ke $89,03/barel setelah data menunjukkan arus pasokan melalui Selat Hormuz masih berjalan, sehingga pasar menilai risiko gangguan pasokan global belum terealisasi. Namun demikian, Brent masih mencatat kenaikan sekitar 21% sepanjang Juli, mencerminkan premi risiko geopolitik yang tetap tinggi.

Survei Bloomberg yang dipublikasikan pada 30 Juli menunjukkan para ekonom kini memperkirakan BI-Rate akan naik menjadi 6,00% pada Q3-2026 (current: 5,75%), sebelum kembali turun ke 5,75% pada Q1-2027. Pada saat yang sama, proyeksi inflasi (CPI) Indonesia tahun 2026 direvisi naik menjadi 3,40% YoY dari 3,30% YoY, sedangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dinaikkan tipis menjadi 5,10% YoY dari 5,07% YoY.

Mahkamah Konstitusi memutuskan pendanaan Program Makan Bergizi Gratis harus dipisahkan dari anggaran pendidikan mulai APBN 2028, dengan alasan alokasi dana pendidikan perlu diprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti perbaikan infrastruktur sekolah dan peningkatan kesejahteraan guru. Meski skema pendanaan saat ini tetap berlaku karena program telah berjalan, pemerintah diwajibkan menyesuaikan sumber pembiayaannya paling lambat pada penyusunan APBN 2028.

Danantara menunda penerbitan obligasi denominasi USD tenor panjang seiring memburuknya kondisi pasar obligasi global yang mengurangi minat investor terhadap penerbitan surat utang baru. Meskipun Danantara telah menunjuk sejumlah bank untuk mempersiapkan penerbitan tersebut, imbal hasil UST yang semakin meningkat setelah The Fed mempertahankan suku bunga dengan nada kebijakan yang lebih hawkish, membuat timing penerbitan dinilai kurang kondusif.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperingatkan kenaikan BI-Rate berpotensi menekan investasi dan konsumsi. Menurut CORE, meski pengetatan moneter yang agresif diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah, hal ini dapat memperdalam perlambatan ekonomi di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas dan meningkatnya tekanan terhadap pembiayaan Program Makan Bergizi Gratis.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat sekitar 126.000 pekerja mengalami PHK sepanjang Januari–Mei 2026 (data BPJS Ketenagakerjaan). Serikat pekerja menilai pelemahan permintaan akibat perlambatan ekonomi global di tengah birokrasi regulasi, lemahnya iklim investasi, serta hambatan industri, menjadi penyebab utama meningkatnya PHK.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP*