Financial Market Update

IDR10 : 7,62% - 7,70% (cl: 7,63%)
IDR5: 7,35% - 7,52% (cl: 7,37%)
UST10: 4,84% - 4,88% (last: 4,87%)

IDR : 18.069 - 18.099 (cl: 18.082)
DXY : 101,20 - 101,47 (last: 101,43)
JCI : 5.005,14 – 5.070,13 (cl: 5.030,26)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -15bps to 7,37%
FR0108 (10yr) : -7bps to 7,63%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,72%
FR0107 (20yr) : -5bps to 7,67%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark menguat dengan penurunan yield pada kisaran 0-15 bps. Yield SBN 10 tahun turun 7 bps dan ditutup di 7,63% (+158 bps YTD), dengan selisih terhadap UST 10 tahun sekitar 276 bps. Penguatan harga SBN didorong oleh rilis data PDB Q3-2026 di atas ekspektasi pasardi atas proyeksi, penguatan Rupiah, serta penurunan harga minyak mentah dunia.

• Rupiah ditutup menguat 0,46% ke level 18.082 terhadap USD dari sebelumnya 18.165. Penguatan Rupiah sejalan dengan sebagian besar mata uang Asia yang menguat terhadap USD, seiring penurunan DXY ke level terendahnya dalam lima pekan pasca kepastian hasil pemilu sela ASPenguatan Rupiah didorong sentimen positif pasca BPS merilis data PDB Q3-2026 yang melampaui ekspektasi pasar, menunjukkan ekonomi domestik tetap mampu tumbuh solid di tengah tekanan eksternal. . Penguatan Rupiah juga sejalan dengan sebagian besar mata uang Asia yang menguat terhadap USD, seiring penurunan DXY ke level terendahnya dalam lima pekan pasca kepastian hasil pemilu sela AS.

• IHSG ditutup menguat 2,25% ke level 5.030,26, dan kembali berada di atasberhasil rebound ke atas level 5.000. IHSG bergerak di zona positif sepanjang perdagangan dengan kisaran 5.005,14 – 5.070,13. Penguatan IHSG hari ini didukung oleh kombinasi katalis positif dari domestik dan global setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan jual. Penguatan IHSG terbesar hari ini didorong oleh sektor barang baku +3,78%, sektor perindustrian +2,81%, dan sektor barang konsumen non-siklikal +2,43%. Pemicu utama penguatan IHSG hari ini disebabkan oleh sentimen global dan hasil pemilu AS, penurunan harga minyak mentah dunia, pertumbuhan ekonomi domestik yang menguat, respons positif kebijakan pasar dan reformasi pasar oleh regulator pasca pengumuman sanksi baru atas dugaan pelanggaran pasar saham, serta aksi technical rebound.,
• dengan level terendah harian 5.005,14 yang masih berada di atas penutupan sebelumnya, serta sempat mencapai level tertinggi di 5.070,13. Penguatan terdorong kenaikan seluruh sektor saham, khususnya saham berkapitalisasi besar seperti emiten emas, dengan MDKA, AMMN, dan AMRT menjadi top gainers LQ45. Penutupan hari ini menjadi hari kedua berturut-turut IHSG menguat, meskipun secara mingguan IHSG masih terkoreksi.

Point of Interest:

• Wall Street melonjak setelah kemenangan Partai Demokrat di DPR dan Senat AS. Dow Jones naik 1.569 poin atau 3,03% ke 53.356,12, kenaikan harian terbesar sejak April 2025, sementara S&P 500 naik 1,58% ke 7.688,62 dan Nasdaq naik 1,44% ke 25.736,51. Penguatan didorong oleh hilangnya ketidakpastian politik pascasetelah Presiden Trump menyatakan menerima hasil pemilu, serta diperkuat oleh penurunan harga minyak lebih dari 8%. SNamun, saham operator pusat data dan infrastruktur AI melemah seiring ekspektasi regulasi AI yang lebih ketat oleh Partai Demokrat; Nvidia turun 3,17%. Yield UST 10 tahun turun 5 bps ke 4,9087%.

• Harga minyak teranjlok koreksi lebih dari 8% seiring berkurangnya premi risiko perang Iran. Pada perdagangan Rabu (4/11), Brent ditutup turun 8,69% ke $94,60/barel dan WTI turun 8,29% ke $88,12/barel. Brent berada di bawah $100 untuk pertama kalinya sejak awal Oktober dan mencatat penurunan harian ketiga berturut-turut. Penurunan tersebut terjadi meskipun persediaan crude AS turun 865 ribu barel, berlawanan dengan perkiraan kenaikan 877 ribu barel. Wakil Presiden JD Vance menyebut perang Iran, yang mendorong kenaikan inflasi, sebagai penyebab kekalahan Partai Republik. Pada Kamis (5/11) pukul 13.58 WIB, Brent kembali turun sekitar 0,71% ke $93,95/barel.

• Harga emas naikmelonjak dan kembali di atas $4.000/ons. Harga emas spot naik 3,4% ke $4.061,30/ons pasca pemilu sela AS. Di dalam negeriPada pasar domestik, harga emas Antam naik Rp3.000 menjadi Rp2.557.000 per gram, sementara harga buyback naik Rp13.000 menjadi Rp2.357.000 per gram.

• BoE menaikan suku bunga 25 bps ke level 4,00%, menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun. Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee / MPC) BoE mengambil keputusan dengan suara mayoritas 8–1. Sebanyak 8 anggota menyetujui kenaikan ke 4%, sementara 1 anggota (Catherine Mann) mengusulkan kenaikan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%. Kebijakan pengetatan ini diambil karena inflasi IHK Inggris naik ke level 3,5% (Sept) dan diproyeksikan ke level 5% - 6,2% akibat tekanan harga energi serta dampak konflik geopolitik yang berkepanjangan. Gubernur BoE Andrew Bailey mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan mungkin masih diperlukan jika risiko inflasi tidak mereda.
• diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 4,00% pada malam ini, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Jajak pendapat Reuters memperkirakan MPC BoE akan memberikan suara 7-2 untuk menaikkan Bank Rate dari 3,75%; perubahan suku bunga terakhir berupa pemangkasan pada Desember 2025. Keputusan dan Laporan Kebijakan Moneter dijadwalkan pada pukul 19.00 WIB, diikuti pernyataan Gubernur Bailey pada pukul 19.30 WIB. Kenaikan tersebut telah sepenuhnya diperhitungkan, sehingga perhatian investor tertuju pada pandangan BoE mengenai inflasi, pertumbuhan, dan arah kebijakan berikutnya.

• Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tumbuh menguat 5,47%yoy (yoy) pada Q3-2026 (Q2-2026: 5,29%yoy), melampaui ekspektasi pasar dan pertumbuhan kuartal sebelumnyaperkiraan.. Hal ini menunjukkan aktivitas perekonomian masih cukup solid di tengah berbagai tantangan, dari sisi demand maupun tekanan eksternal. BPS merilis data PDB pada Q3-2026 tumbuh 5,47%yoy, lebih tinggi dari 5,29% pada Q2-2026. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 1,59%, sedangkan YtD sebesar 5,45%. Berdasarkan sumber pertumbuhannya, terdapat perubahan komposisi penopang pertumbuhan, a.l. Investasi dan aktivitas produksi tercatat menjadi penopang penting, sementara konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah kehilangan momentum secara kuartalan. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat ke 5,04%yoy (prior: 5,06%yoy), dengan kontribusi terhadap pertumbuhan PDB menjadi 2,62% (prior: 2,68%), hal ini mencerminkan adanya pelemahan daya beli masyarakat di tengah tren inflasi. Akan tetapi, dampak tersebut masih tertahan stimulus kebijakan pemerintah yang membantu menyerap gejolak eksternal melalui skema subsidi terutama pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
BPS mencatat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Q2-2026 sebesar 5,29% dan Q3-2025 sebesar 5,04%. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 1,59%, sedangkan secara kumulatif hingga Q3-2026 tumbuh 5,45%. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% (yoy) dan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB sebesar 51,97%, sehingga konsumsi rumah tangga dan PMTB secara bersama-sama mencakup 82,78% PDB. Dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari industri pengolahan (1,20%), perdagangan (0,94%), konstruksi (0,62%), serta informasi dan komunikasi (0,49%). Sebelumnya, sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan melambat, antara lain Bank Permata pada 5,23% dan Bank Danamon sekitar 5%. Data tersebut memperkuat sentimen terhadap fundamental domestik di tengah tekanan Rupiah dan isu reklasifikasi MSCI.

• Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2026 turun menjadi 4,75%. BPS mencatat jumlah pengangguran sebanyak 7,38 juta orang, turun tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, TPT Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85%. Namun demikian, jumlah pekerja paruh waktu mencapai 35,295 juta orang dan setengah pengangguran sebanyak 12,844 juta orang, sementara pekerja penuh tercatat 99,847 juta orang.

• Penerbitan obligasi dan sukuk korporasi masih menjadi alternatif pendanaan bagi perusahaan di tengah kondisi pasar saham yang belum kondusif. Menurut Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan penerbitan obligasi dan sukuk relatif menarik bagi banyak korporasi dalam kondisi pasar saat ini dibandingkan penawaran umum perdana saham atau IPO, namun bukan berarti menawarkan biaya pendanaan yang lebih murah karena yield obligasi yang masih tinggi membuat biaya penerbitan surat utang meningkat. Penerbitan obligasi dan sukuk korporasi masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026, terutama didorong oleh kebutuhan refinancing utang yang jatuh tempo namun semakin selektif seiring tingginya yield obligasi dan kondisi likuiditas domestik yang masih relatif ketat.

• Penerbitan surat utang dan sukuk korporasi mendominasi penghimpunan dana di pasar modal Indonesia sepanjang 2026, melampaui penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana saham (atau IPO). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 30 Oktober 2026, terdapat 156 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 67 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp157,73 triliun. Sementara itu, hanya ada tujuh perusahaan yang melantai di bursa melalui IPO hingga 30 Oktober 2026. Itu pun total nilai emisinya jika dihitung-hitung hanya mengumpulkan sekitar Rp2,16 triliun.

• Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah masih akan menerapkan insentif tax holiday meskipun beleid Global Minumum Tax (GMT) sudah berlaku. Tax holiday tersebut diharapkan menjadi tools penting untuk menarik investasi sebagai motor penggerak pertumbuhan nasional. Pemerintah ingin mempertahankan porsi investasi sebesar 30% dari pertumbuhan ekonomi, dan sedang berusaha untuk menurunkan beban logistik supaya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dapat ditekan.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP*