Financial Market Update
IDR10 : 7,70% - 7,77% (cl: 7,71%) IDR5: 7,51% - 7,65% (cl: 7,58%) UST10: 4,91% - 4,95% (last: 4,91%)
IDR : 18.130 - 18.170 (cl: 18.150) DXY : 101,43 - 101,99 (last: 101,59) JCI : 4.981,52 - 5.125,74 (cl: 5.096,83)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +4bps to 7,58% FR0108 (10yr) : +2bps to 7,71% FR0106 (15yr) : +6bps to 7,75% FR0107 (20yr) : +4bps to 7,73%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark kembali melemah di seluruh tenor dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2–6 bps. Yield SBN 10 tahun ditutup di level 7,71% (+166 bps YTD), dengan selisih terhadap UST 10 tahun berada di sekitar 280 bps. Tekanan tersebut terutama berasal dari faktor global, seiring sinyal kebijakan yang lebih ketat dari pejabat The Fed. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan menyatakan bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi, masing-masing 25 bps, sebelum berhenti untuk mengevaluasi kondisi ekonomi. Di sisi domestik, inflasi Oktober sebesar 3,23% YoY yang lebih rendah daripada konsensus 3,25% belum cukup untuk meredam kenaikan yield. Investor juga mencermati pasokan SBN menjelang tujuh jadwal lelang pada November–Desember 2026, dengan target perolehan Rp240 triliun pada Q4-2026.
• Rupiah ditutup melemah 0,13% ke level 18.150 terhadap USD dari sebelumnya 18.127. Pelemahan Rupiah terjadi meskipun DXY turun tipis ke 101,59 (kisaran 101,43–101,99) dari 101,63 pada penutupan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap aset Rupiah belum sepenuhnya mereda di tengah kekhawatiran terhadap arus modal keluar, meningkatnya premi risiko domestik, serta kehati-hatian investor menjelang midterm elections AS. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan September sebesar $3,36 miliar, yang melampaui perkiraan ekonom sebesar $1,82 miliar, serta penurunan harga minyak lebih dari 3% seiring berlanjutnya perundingan Iran–Qatar, menahan pelemahan yang lebih dalam.
• IHSG ditutup menguat 0,79% ke level 5.096,83, pada hari pertama pengecualian saham HSC dari perhitungan indeks. Sebanyak 81 saham HSC dengan bobot sekitar 18% dikeluarkan dari perhitungan IHSG, tetapi tetap dapat diperdagangkan. Penguatan terutama ditopang oleh sektor bahan baku, sementara sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 0,64%. Sebanyak 315 saham menguat, 285 saham melemah, dan 118 saham tidak berubah dengan nilai transaksi Rp12,38 triliun. Sentimen positif juga datang dari PMI Manufaktur Oktober yang naik ke 54,0, tertinggi sejak Maret 2024, serta inflasi bulanan yang melandai ke 0,22% MoM. Penguatan IHSG terjadi di saat bursa kawasan Asia bergerak beragam di tengah tekanan pada sektor teknologi.
Point of Interest:
• Pejabat The Fed kembali memberikan sinyal pengetatan lanjutan pasca-FOMC. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan menilai suku bunga masih perlu dinaikkan setidaknya dua kali masing-masing 25 bps sebelum dilakukan evaluasi, sementara Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem juga menyatakan pengetatan tambahan masih diperlukan. Pernyataan tersebut mempertahankan bias kebijakan The Fed yang hawkish dan membatasi ruang penurunan yield UST, meski pada perdagangan Senin yield tenor panjang turun seiring meredanya tekanan harga minyak.
• Harga minyak terkoreksi tajam seiring berlanjutnya perundingan Iran–Qatar, sementara OPEC+ mempertahankan target produksi Desember. Brent turun sekitar 3,2% ke $109,75 per barel pada perdagangan Asia setelah perundingan memasuki hari ketiga dan tidak terjadi eskalasi militer signifikan sepanjang akhir pekan. Sementara itu, tujuh anggota inti OPEC+ mempertahankan target produksi Desember di level September sekitar 31 juta bph, sehingga arah harga tetap sensitif terhadap perkembangan konflik Timur Tengah menjelang pemilu sela AS 3 November. Analis KCM Trade mengingatkan Brent berpotensi kembali menuju $120 apabila retorika terhadap Iran meningkat setelah pemilu sela.
• Inflasi Indonesia Oktober 2026 melandai ke 3,23% YoY, sedikit di bawah konsensus sebesar 3,25% YoY dan realisasi September sebesar 3,28% YoY. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,22% MoM, dengan inflasi tahun kalender mencapai 2,40%. Inflasi bulanan terutama didorong oleh komponen harga bergejolak, dengan cabai merah sebagai penyumbang terbesar sebesar 0,13%. Komponen inti mencatat inflasi tahunan 2,56% dan memberikan andil terbesar, yaitu 1,64%. Meskipun inflasi umum masih berada dalam kisaran sasaran, BPS mengingatkan bahwa secara historis inflasi November dan Desember cenderung meningkat seiring konsumsi menjelang Natal dan Tahun Baru.
• Neraca perdagangan September 2026 mencatat surplus $3,36 miliar, melampaui perkiraan ekonom sebesar $1,82 miliar, namun lebih rendah dari surplus Agustus sebesar $3,55 miliar. Neraca nonmigas mencatat surplus $5,67 miliar, sedangkan neraca migas defisit $2,31 miliar dengan penyumbang utama hasil minyak dan minyak mentah. Ekspor September mencapai $27,59 miliar atau naik 11,87% YoY, sementara impor tumbuh lebih tinggi sebesar 18,41% YoY menjadi $24,23 miliar. Secara kumulatif Januari–September 2026, surplus mencapai $10,61 miliar, dengan defisit migas sebesar $23,60 miliar. Tingginya harga minyak tetap menjadi faktor yang membatasi besaran surplus perdagangan.
• PMI Manufaktur Indonesia Oktober meningkat ke 54,0 dari 52,4 di bulan September. Kenaikan tersebut mencerminkan percepatan ekspansi aktivitas industri sejak Maret 2024, didukung oleh pertumbuhan pesanan baru serta penguatan pesanan ekspor baru yang mencapai laju tertinggi sejak survei dimulai pada 2011. Namun, kenaikan biaya bahan baku dan energi serta tekanan nilai tukar turut mendorong produsen menyesuaikan harga jual, sementara pertumbuhan tenaga kerja masih terbatas. Perkembangan ini memberikan sinyal positif bagi aktivitas ekonomi awal Q4-2026, meskipun keberlanjutan ekspansi dan dampaknya terhadap inflasi masih perlu dicermati.
• BEI resmi mengecualikan 81 saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026, sehingga jumlah saham yang diperhitungkan menjadi 837 emiten, setelah memperhitungkan pengecualian saham pada Papan Akselerasi. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengonfirmasi bahwa penyesuaian teknis telah dilakukan setelah penutupan perdagangan Jumat (30/10), meskipun sebagian penyedia data pasar masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan perhitungan indeks. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan kualitas dan transparansi indeks di tengah perhatian investor terhadap konsultasi MSCI mengenai potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP