Financial Market Update
IDR10 : 7,58% - 7,63% (cl: 7,60%) IDR5: 7,45% - 7,50% (cl: 7,48%) UST10: 4,97% - 5,04% (last: 5,00%)
IDR : 18.103 - 18.145 (cl: 18.132) DXY : 102,07 - 102,32 (last: 102,16) JCI : 5.098,06 - 5.320,90 (cl: 5.098,06)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -2bps to 7,48% FR0108 (10yr) : -3bps to 7,60% FR0106 (15yr) : +5bps to 7,65% FR0107 (20yr) : +6bps to 7,66%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak bervariasi, tenor 5 dan 10 tahun menguat terbatas sedangkan tenor 15 tahun ke atas melemah. Yield UST10 relatif stabil di kisaran 4,97%–5,04% (terakhir 5,00%) setelah The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75%–4,00% dengan komposisi suara 10 berbanding 2, di mana dua anggota FOMC menghendaki kenaikan 25 bps. Penurunan yield hanya terbatas pada tenor menengah, sehingga tekanan pada tenor panjang mengindikasikan premi risiko domestik, antara lain kekhawatiran fiskal akibat tingginya harga minyak. Pelaku pasar masih mencermati tingginya yield SBN, perkembangan Rupiah, serta permintaan investor setelah lelang SUN pada Selasa lalu menunjukkan pelemahan minat dibandingkan lelang sebelumnya.
• Rupiah ditutup menguat 0,28% ke level 18.132 terhadap USD, dari sebelumnya 18.183, setelah bergerak di kisaran 18.104–18.145. Penguatan ini sejalan dengan DXY yang turun ke 102,16 (kisaran 102,07–102,32) dari sekitar 102,4 sebelumnya, serta keputusan The Fed yang sesuai ekspektasi. Penguatan terbatas hari ini mendorong rupiah menjauh dari penutupan terlemah sepanjang sejarah pada 28 Oktober, meskipun tekanan belum sepenuhnya reda. Arus keluar modal asing dilaporkan meningkat di tengah pelemahan rupiah, dan kekhawatiran terhadap MSCI serta harga minyak yang tinggi akibat konflik Timur Tengah masih menjadi faktor risiko.
• IHSG ditutup melemah 3,49% ke level 5.098,06. Seluruh sebelas sektor bergerak melemah dengan penurunan terbesar pada sektor barang baku (-4,44%), sementara 653 saham menurun dan 104 saham naik dengan nilai transaksi Rp11,28 triliun. Analis mengaitkan koreksi tersebut dengan meningkatnya risiko politik akibat unjuk rasa mahasiswa di sejumlah kota besar, harga minyak di atas $100 per barel, serta sikap risk off investor di bursa Asia. Secara YTD, IHSG terkoreksi sekitar 41,0%, melebar dari sekitar 38,9% pada penutupan sebelumnya. Perkembangan situasi politik domestik, isu MSCI, dan pelemahan rupiah masih perlu dicermati karena dapat memengaruhi persepsi risiko investor.
Point of Interest:
• The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75%-4,00% melalui keputusan voting 10–2 dan menilai ekonomi AS tumbuh kuat. Dua anggota FOMC mendukung kenaikan sebesar 25 bps, mencerminkan adanya perhatian terhadap tekanan inflasi di tengah aktivitas ekonomi AS yang tetap kuat. Keputusan tsb meredakan risiko kenaikan suku bunga dalam waktu dekat dan mendukung penguatan mata uang Asia, termasuk Rupiah, meskipun arah kebijakan selanjutnya masih bergantung pada perkembangan inflasi dan aktivitas ekonomi AS. Fed Chairman Kevin Warsh menyatakan bahwa PDB Q3-2026 diperkirakan menunjukkan investasi dan belanja konsumen yang kuat serta percepatan pertumbuhan dibandingkan paruh pertama.
• Eskalasi konflik Yaman–Saudi memperpanjang risiko pasokan energi. Houthi menyerang Bandara Aden pada Rabu setelah sehari sebelumnya mengklaim serangan rudal terhadap kilang Ras Tanura. Sementara itu, koalisi Saudi kembali mencegat rudal balistik yang diarahkan ke wilayah timur kerajaan. Ketegangan tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi di tengah kekhawatiran potensi eskalasi AS–Iran setelah pemilu sela 3 November, meski upaya diplomasi kedua pihak masih berlanjut.
• Unjuk rasa yang dipimpin generasi muda meluas di berbagai negara Eropa, seperti Italia, Spanyol, Portugal, dan Belgia. Tuntutan para demonstran beragam tetapi saling beririsan, mencakup fasilitas sekolah yang buruk, minimnya peluang ekonomi, biaya hidup, korupsi, perumahan, dan perasaan tidak didengar.
• Bank Indonesia tetap aktif menggunakan instrumen stabilisasi valas. Pada 29 Oktober, BI menerima rollover DNDF jual tenor 1 bulan sebesar $35 juta, sementara transaksi DNDF jual sesi sore untuk tenor tiga bulan mencapai $80 juta.
• Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan potensi berkurangnya investasi asing, apabila persoalan tata kelola pasar modal dan evaluasi MSCI tidak segera ditangani. Hashim menyebut skenario pelemahan Rupiah hingga kisaran Rp20.000–Rp22.000/USD apabila terjadi arus modal keluar yang signifikan.
• Pemerintah percepat reformasi pasar modal untuk merespons evaluasi MSCI. Pemerintah dan otoritas pasar modal menegaskan komitmen mempercepat reformasi melalui peningkatan minimum free float menjadi 15%, penguatan transparansi beneficial ownership, serta pembentukan Joint Task Force penegakan hukum. Langkah tersebut diarahkan untuk menjawab perhatian MSCI terhadap integritas dan aksesibilitas pasar Indonesia menjelang batas penyampaian masukan pada 30 April 2027.
• Gelombang demonstrasi lanjutan di Indonesia menambah political risk premium. Polda Metro Jaya mencatat terdapat 61 titik aksi penyampaian pendapat di Jakarta pada 29’Okt, termasuk aksi mahasiswa Trisakti yang diarahkan ke kawasan Istana Negara. Tuntutan antara lain menyangkut pemulihan kondisi ekonomi, ekologi, politik, pendidikan dan kesehatan, pemberantasan inkompetensi/rangkap jabatan pejabat publik, serta supremasi sipil.
• Rilis kinerja Q3-2026 mendorong investor lebih selektif di pasar saham domestik. ANTM membukukan laba 9M26 sebesar Rp9,66 triliun (+46% yoy) dengan emas menyumbang 77% penjualan, sementara laba ELSA tumbuh 29,4% menjadi Rp681,55 miliar dan UNTR menetapkan dividen interim maksimal Rp1,47 triliun. Di tengah tekanan oversupply nikel dan volatilitas pasar, kinerja saham komoditas cenderung terdiferensiasi berdasarkan eksposur komoditas, kualitas fundamental, arus kas, dan kemampuan memberikan dividen.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP