Financial Market Update
IDR10 : 7,52% - 7,63% (cl: 7,63%) IDR5: 7,40% - 7,51% (cl: 7,50%) UST10: 4,99% - 5,03% (last: 5,00%)
IDR : 18.165 - 18.189 (cl: 18.183) DXY : 102,32 - 102,49 (last: 102,37) JCI : 5.167,34 - 5.282,31 (cl: 5.282,31)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +11bps to 7,50% FR0108 (10yr) : +11bps to 7,63% FR0106 (15yr) : +10bps to 7,60% FR0107 (20yr) : +11bps to 7,60%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark ditutup melemah, dengan kenaikan yield sebesar 10-11 bps. Yield FR0108 (10 tahun) ditutup pada level 7,63% (tertinggi dalam empat tahun) atau naik 158 bps YTD, meski yield UST10 relatif stabil di kisaran 4,99%-5,03% (terakhir 5,00%). Pelemahan SBN mengindikasikan tekanan masih bersumber dari faktor domestik, antara lain pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal akibat tingginya harga minyak, di tengah wait and see pelaku pasar menjelang FOMC meeting. Hasil lelang SUN 27 Oktober yang menunjukkan penurunan permintaan investor turut menekan sentimen pasar SBN domestik. Harga minyak Brent bertahan di atas $110/barel berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak serta beban subsidi dan kompensasi energi.
• Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level 18.183 terhadap USD, dari sebelumnya 18.153, seiring dengan DXY yang bertahan tinggi di kisaran 102,4 menjelang pengumuman keputusan FOMC Oktober, serta masih tingginya harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Tekanan juga masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap MSCI dan arus modal asing secara kumulatif, meski investor asing mencatat net buy saham pada perdagangan hari ini.
• IHSG ditutup menguat 0,31% ke level 5.282,31. Indeks sempat turun sekitar 1,9% pada perdagangan intrahari sebelum berbalik menguat hingga ditutup pada level tertinggi harian. Penguatan didukung rebound saham berkapitalisasi besar dan net buy asing sebesar Rp665 miliar. Namun secara YTD, IHSG masih terkoreksi sekitar 38,9% di tengah berlanjutnya kekhawatiran investor terhadap isu MSCI, pelemahan Rupiah, dan premi risiko domestik.
Point of Interest:
• Pelaku pasar menantikan keputusan FOMC dengan ekspektasi suku bunga tetap dipertahankan pada 3,75%–4,00%. Fokus investor terutama pada sinyal peluang kenaikan lanjutan pada Desember mengingat inflasi AS yang masih tinggi. Menjelang keputusan, DXY menguat dan bertahan di sekitar level tertinggi selama dua pekan terakhir dengan yield UST10Y bergerak di sekitar 5%.
• Harga minyak bertahan tinggi dan hampir menyentuh $117/barel pada perdagangan Asia, seiring berlanjutnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Houthi mengklaim serangan terhadap kilang terbesar Arab Saudi, sementara pasar tetap mencermati kemungkinan eskalasi kembali konflik AS–Israel dengan Iran. Risiko gangguan terhadap produksi dan jalur pelayaran kawasan mempertahankan premi risiko energi global.
• Upaya diplomasi Timur Tengah berlanjut, namun prospek perdamaian masih belum pasti. Qatar mengajukan kerangka baru kepada Iran dengan timeline tujuh hari untuk meredakan konflik dengan AS dan Israel, tetapi pejabat Iran menilai gagasan yang diajukan belum dapat diterima.
• Bank Indonesia menyoroti tekanan lintas aset dan kebutuhan valas akhir bulan di tengah pelemahan Rupiah ke rekor terendah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pergerakan Rupiah dipengaruhi risiko konflik Timur Tengah, harga minyak di atas $115/barel, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap reklasifikasi MSCI dan kebutuhan valas menjelang akhir bulan turut membebani nilai tukar.
• Risiko reklasifikasi MSCI masih membayangi pasar Indonesia meskipun FTSE Russell mempertahankan status Emerging Market. FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya dalam daftar pengawasan reklasifikasi. Perbedaan penilaian kedua penyedia indeks tersebut menunjukkan bahwa risiko MSCI tetap berpotensi memengaruhi alokasi portofolio asing, likuiditas saham, serta persepsi risiko aset domestik secara lebih luas.
• Unjuk rasa mahasiswa digelar di Bundaran HI dan Gedung DPR pada 28 Oktober 2026. Komite Sadar bersama sejumlah BEM menggelar demo bertajuk “Indonesia Sadar” di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. BEM UI membawa lima tuntutan yang mencakup bencana nasional, pendidikan, layanan dasar, dan kebebasan bersuara. Belasan ribu petugas gabungan TNI-Polri mengamankan aksi ribuan mahasiswa di Gedung DPR dan Bundaran HI. Polda Metro Jaya menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar DPR RI, Bundaran HI, Monas, dan Tugu Tani. Perkembangan situasi politik domestik perlu dicermati karena dapat memengaruhi persepsi risiko investor.
• Pemerintah menyiapkan sentralisasi perizinan hulu migas melalui Badan Usaha Khusus (BUK), yang akan diatur dalam revisi UU Migas. BUK dirancang memiliki kewenangan perizinan satu pintu untuk memangkas birokrasi dan mempercepat eksplorasi serta investasi. Saat ini, penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) oleh pemerintah telah mencapai sekitar 90%, dan diharapkan melalui reformasi dapat memperbaiki kepastian berusaha dan mendukung peningkatan produksi migas nasional.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP