Financial Market Update
IDR10 : 7,46% - 7,52% (cl: 7,52%) IDR5: 7,30% - 7,40% (cl: 7,39%) UST10: 4,96% - 5,00% (last: 4,98%)
IDR : 18.125 - 18.155 (cl: 18.153) DXY : 101,99 - 102,29 (last: 102,25) JCI : 5.182,37 - 5.418,14 (cl: 5.266,13)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +9bps to 7,39% FR0108 (10yr) : +7bps to 7,52% FR0106 (15yr) : +11bps to 7,50% FR0107 (20yr) : +6bps to 7,49%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark ditutup melemah, dengan kenaikan yield pada kisaran 6-11 bps. Pelemahan SBN terjadi ketika yield UST10 relatif stabil di kisaran 4,96%-5,00% (terakhir 4,98%), mengindikasikan tekanan yang lebih banyak bersumber dari faktor domestik, antara lain dari pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Kenaikan harga minyak dunia yg bertahan di atas level $110/barel selama seminggu terakhir berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak serta beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina.
• Rupiah ditutup melemah 0,16% ke level 18.153 terhadap USD, dari sebelumnya 18.124. Pelemahan Rupiah berlangsung seiring penguatan USD menjelang keputusan FOMC 27–28 Oktober, di tengah ekspektasi kebijakan The Fed yang tetap ketat dan harga minyak dunia yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah setelah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran konflik meluas. Dari domestik, tekanan outflow asing dari pasar saham turut menjadi sentimen pelemahan Rupiah lebih lanjut.
• IHSG ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13. Tekanan jual berlangsung luas, dengan 10 dari 11 sektor saham melemah, sementara nilai transaksi mencapai sekitar Rp17,57 triliun. Pelemahan dipengaruhi berlanjutnya kekhawatiran investor terhadap evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, pelemahan Rupiah, serta kenaikan premi risiko domestik yang tercermin dari yield SBN dan CDS Indonesia. Antisipasi keputusan FOMC dan tingginya harga minyak turut membebani sentimen, sehingga IHSG kembali melemah di tengah mayoritas bursa saham Asia yang relatif membaik.
Point of Interest:
• Harga minyak bertahan tinggi dan hampir menyentuh $117/barel pada perdagangan Asia, seiring berlanjutnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik AS–Israel dengan Iran dan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Upaya diplomasi untuk meredakan konflik memberikan sentimen positif sementara, tetapi risiko terhadap jalur distribusi minyak di Selat Hormuz masih menjadi perhatian investor.
• Diplomasi kawasan Timur Tengah berlanjut, namun risiko eskalasi konflik Iran tetap tinggi. Pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu pemerintah Iran di Teheran dan sepakat melanjutkan pembahasan untuk meredakan ketegangan regional, meski Washington masih membuka kemungkinan aksi militer lanjutan dan Tehran mensyaratkan penghentian blokade serta pencabutan sanksi ekspor minyak. Ketidakpastian tersebut mempertahankan premi risiko energi, dengan Brent bergerak di sekitar $116/barel di tengah berlanjutnya serangan Houthi dan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz.
• Pelaku pasar mencermati pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober 2026, dengan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Fokus investor terutama tertuju pada sinyal kebijakan berikutnya, mengingat inflasi AS yang masih tinggi dan peluang pengetatan moneter lebih lanjut. Indeks USD menguat menjelang keputusan tersebut, sementara yield UST 10 tahun bergerak di sekitar 4,98%. Perkembangan ini berpotensi mempertahankan tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk Rupiah, serta membatasi ruang penurunan yield SBN.
• Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun pada lelang SUN 27 Oktober, di bawah target Rp30 triliun dengan bid-to-cover/btc agregat sekitar 1,51x. Total penawaran masuk turun sebesar 52% menjadi Rp31,09 triliun dari Rp64,86 triliun pada lelang sebelumnya. Penyerapan terbesar pada seri SPN 12 bulan sebesar Rp6,86 triliun, FR0110 sebesar Rp6,75 triliun (yield rata-rata tertimbang 7,3799%; cut-off 7,43%) dan FR0111 sebesar Rp5,10 triliun (yield rata-rata 7,5497%; cut-off 7,60%). Adapun alokasi pada SUN tenor panjang relatif terbatas. Penurunan incoming bids mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati dan selektif dalam menambah eksposur ke SUN pada level yield saat ini, dengan preferensi tetap ke tenor pendek-menengah.
• Risiko reklasifikasi MSCI tetap membayangi pasar saham Indonesia. Reuters pada 27 Oktober menyoroti penurunan IHSG sekitar 40% sepanjang 2026, dengan kapitalisasi pasar yang telah menyusut lebih dari Rp6.000 triliun di tengah kekhawatiran terhadap potensi penghapusan Indonesia dari indeks pasar berkembang MSCI. Meskipun keputusan belum final, tekanan pasar yang berlanjut berpotensi meningkatkan risiko outflow dan menekan sentimen terhadap Rupiah maupun SBN.
• Wacana pemeringkatan pasar modal secara mandiri muncul di tengah evaluasi MSCI terhadap Indonesia. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengusulkan Indonesia dapat menentukan rating pasar modal sendiri, sementara OJK dan BEI menyatakan akan mengoordinasikan usulan tersebut lebih lanjut.
• Indonesia memangkas ekspor gas pipa ke Singapura untuk memprioritaskan kebutuhan domestik. Sejak 24 Oktober, pasokan dikurangi 31 MMscfd atau sekitar 8% dari ekspor gas pipa ke Singapura dan dialihkan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra. Pemerintah menegaskan volume yang tersisa masih memenuhi batas minimum kontrak, sementara Singapura meminta seluruh pihak tetap menghormati komitmen kontrak komersial.
• Fokus pasar pekan ini: Keputusan bank sentral global, data inflasi AS, dan laporan keuangan emiten teknologi besar. Bank of Canada menetapkan suku bunga pada Rabu, disusul ECB pada Kamis dan Bank of Japan pada Jumat. Pelaku pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Canada dari 2,25% ke 2,50%. Pada Kamis, AS akan merilis estimasi awal PDB Q3-2026 (konsensus 3,2% dibandingkan 2,2% periode sebelumnya) dan indeks harga PCE September. Microsoft dan Alphabet akan melaporkan kinerja keuangan setelah penutupan Rabu, disusul Amazon pada Kamis.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP