Financial Market Update

IDR10 : 7,41% - 7,46% (cl: 7,45%)
IDR5: 7,24% - 7,30% (cl: 7,30%)
UST10: 4,96% - 5,00% (last: 4,99%)

IDR : 18.074 - 18.130 (cl: 18.124)
DXY : 101,59 - 101,87 (last: 101,87)
JCI : 5.349,75 - 5.453,65 (cl: 5.373,09)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +6bps to 7,30%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,45%
FR0106 (15yr) : +3bps to 7,39%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,43%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark ditutup melemah, dengan kenaikan yield pada kisaran 2-6 bps dan terkonsentrasi pada tenor pendek. Hal ini membuat yield curve SBN cenderung mendatar (bear flattening). Pelemahan SBN terjadi ketika yield UST10 relatif stabil di kisaran 4,96%-5,00%, sehingga tekanan lebih banyak bersumber dari faktor domestik. Tekanan tersebut antara lain berasal dari pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, mengingat kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak serta beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina. Pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi global yang padat pada pekan ini, termasuk keputusan kebijakan moneter dari tujuh bank sentral dunia.

• Rupiah ditutup melemah 0,37% ke level 18.124 terhadap USD, dari sebelumnya 18.057, dan mencatat penutupan terlemah sejak awal Juni 2026. Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks USD dan yield UST cenderung menurun, yang mengindikasikan bahwa peningkatan premi risiko khusus Indonesia akibat tingginya harga minyak dan tekanan capital outflow dari pasar domestik menjadi faktor yang lebih dominan. Dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran konflik meluas, sehingga mata uang yang sensitif terhadap harga minyak dunia, seperti INR dan PHP, juga melemah cukup tajam terhadap USD.

• IHSG ditutup melemah 1,22% ke level 5.373,09, setelah mencatat penguatan 4,90% secara mingguan pada pekan sebelumnya. Seluruh 11 sektor ditutup melemah, dipimpin sektor infrastruktur (-2,47%), energi (-2,36%), dan teknologi (-2,06%). Pelemahan terjadi setelah rebound selama beberapa sesi sebelumnya, di tengah tekanan Rupiah dan berlanjutnya aksi jual asing (pada sesi I hari ini tercatat sebesar Rp1,14 triliun di pasar reguler), serta kehati-hatian investor terhadap harga minyak dan risiko MSCI. Kebijakan reformasi pasar modal dan perpanjangan periode buyback tanpa persetujuan RUPS oleh OJK hingga Juni 2027, belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan jual pada perdagangan hari ini.

Point of Interest:

• Harga minyak terkoreksi dari level tertinggi dalam hampir enam bulan, namun Brent masih berada di atas $114/barel. Pada perdagangan Jumat (23/10), Brent ditutup di $116,72/barel atau naik 3,14%, dan merupakan level tertinggi sejak April. Pada perdagangan hari ini, harga minyak turun di tengah harapan meredanya ketegangan antara AS dan Iran, meskipun serangan yang berlanjut terhadap Arab Saudi tetap membuat investor berhati-hati. Risiko pasokan masih tinggi seiring klaim kelompok Houthi yg telah menyerang stasiun pompa minyak East–West Arab Saudi dan Bandara King Khalid di Riyadh, meskipun belum terdapat konfirmasi Saudi atas serangan tersebut. Sementara itu, pihak Saudi sebelumnya menyatakan telah mencegat rudal menuju Riyadh.

• Risiko aksi militer AS terhadap Iran pasca midterm elections belum mereda. Analis Vanda Insights menilai Presiden Trump belum menepis ekspektasi bahwa serangan terhadap Iran masih dapat terjadi setelah pemilu sela 3 November. Kepala IEA Fatih Birol juga menyatakan tidak memperkirakan pasar energi pada 2027 akan kembali ke kondisi sebelum perang Iran. Di sisi lain, sejumlah analis memperingatkan bahwa serangan besar terhadap jaringan pipa East-West Arab Saudi atau infrastruktur kilang dapat mendorong harga melonjak tajam, yang pada akhirnya dapat berisiko menekan konsumsi global.

• Yield UST bergerak terbatas menjelang keputusan FOMC. Yield UST 10 tahun bergerak terbatas pada kisaran 4,96%-5,00%%, sementara yield 2 tahun nyaris tidak berubah di 4,67%. Pelaku pasar memperhitungkan peluang lebih dari 90% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4% pada FOMC meeting 27–28 Oktober. Namun demikian, Deutsche Bank memperkirakan bahwa The Fed akan menjaga tone tetap hawkish, seiring data inflasi terkini yang mendukung argumen pengetatan kebijakan ke depan.

• Agenda pekan ini padat dengan keputusan bank sentral global dan rilis kinerja emiten teknologi besar AS. The Fed, ECB, BoJ, dan Bank of Canada dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada pekan ini, di tengah tingginya harga minyak yang menjaga kekhawatiran inflasi. Selain itu, sekitar sepertiga emiten S&P 500 akan merilis laporan kuartalan, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon, dengan proyeksi belanja modal akan menjadi fokus utama investor, seiring masih tingginya kekhawatiran terhadap pendanaan investasi AI.

• BI menegaskan tetap berada di pasar di tengah pelemahan Rupiah di atas level 18.100. Gubernur BI Destry Damayanti menilai volatilitas Rupiah masih dalam kategori normal, namun BI terus memantau dinamika supply-demand dan tetap hadir di pasar. Pernyataan tersebut menarik perhatian pasar seiring pelemahan Rupiah pada hari ini meskipun DXY dan yield UST tidak mengalami penguatan berarti.

• OJK memperpanjang kebijakan buyback saham tanpa RUPS hingga Juni 2027. Sementara itu, BEI memperluas Komite HSC menjadi sembilan anggota dengan lima anggota eksternal independen dari pelaku industri, akademisi, ahli tata kelola, dan investor asing. BEI juga menyiapkan pendekatan pengawasan yang lebih terarah melalui investigasi dan suspensi rekening efek yang terindikasi melakukan manipulasi, sedangkan pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tetap dijadwalkan mulai 2 November.

• Danantara mendorong investasi teknologi global melalui Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Forum yang berlangsung pada 26–28 Oktober di Jakarta tsb mempertemukan lebih dari 1.500 peserta, termasuk 131 CEO perusahaan teknologi global, 67 pusat riset dan lebih dari 50 BUMN, dengan fokus kolaborasi pada enam sektor strategis nasional. Pemerintah menargetkan penandatanganan 54 MoU selama forum, sementara keberhasilannya akan bergantung pada tindak lanjut kerja sama tersebut menjadi investasi dan proyek industri yang terealisasi.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP