Financial Market Update

IDR10 : 7,39% - 7,42% (cl: 7,42%)
IDR5: 7,20% - 7,24% (cl: 7,24%)
UST10: 4,95% - 5,00% (last: 4,99%)

IDR : 18.045 - 18.083 (cl: 18.057)
DXY : 101,49 - 101,85 (last: 101,78)
JCI : 5.366,29 - 5.455,21 (cl: 5.439,26)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +3bps to 7,24%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,42%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,36%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,41%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark ditutup melemah, dengan kenaikan yield pada kisaran 1-3 bps. Pelemahan SBN terjadi di tengah penurunan yield UST yang ditopang oleh permintaan terhadap aset safe haven seiring sentimen risk-off global. Divergensi SBN tersebut sejalan dengan tekanan domestik yang masih tinggi, antara lain dari nilai tukar Rupiah yang bertahan di atas 18.000 disertai pernyataan Bank Indonesia yang mengonfirmasi bahwa tekanan outflow pasca pengumuman konsultasi MSCI tidak hanya terjadi di pasar saham, namun juga SBN dan SRBI. Harga Brent yang hampir menyentuh $115/barel pada perdagangan Asia turut menjadi sentimen negatif yang menekan pasar SBN domestik.

• Rupiah ditutup melemah 0,04% ke level 18.057 terhadap USD, dari sebelumnya 18.050, dan berada di atas level psikologis 18.000 untuk hari ketiga. Rupiah bergerak di kisaran 18.045–18.083, dengan pelemahan yang menyempit menjelang penutupan perdagangan. Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, sementara CNY menjadi satu-satunya mata uang kawasan yang menguat. Tekanan terhadap Rupiah juga berasal dari sentimen risk-off global akibat kekhawatiran terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan memburuknya kondisi fiskal Prancis, serta aksi jual bersih investor asing di pasar saham.

• IHSG ditutup menguat 0,95% ke level 5.439,26, seiring berlanjutnya technical rebound di tengah risiko struktural MSCI dan tekanan outflow asing. Seluruh indeks sektoral ditutup menguat, dipimpin sektor barang konsumen siklikal (+3,13%), perindustrian (+3,12%), dan energi (+2,48%). Kenaikan IHSG masih ditopang oleh langkah Danantara yang mengakumulasi saham BUMN, buyback sejumlah emiten, dan perubahan metodologi BEI yang akan mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November. Penguatan IHSG tersebut berlawanan arah dengan mayoritas bursa regional, setelah Wall Street tertekan oleh aksi jual saham teknologi serta kenaikan kembali harga minyak dunia.

Point of Interest:

• Harga minyak Brent melonjak ke sekitar $115/barel di tengah eskalasi risiko Timur Tengah. Reuters melaporkan eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi serta laporan mengenai kemungkinan aksi militer baru AS–Israel terhadap Iran. Saudi Aramco mengevakuasi kantor pusatnya di Dhahran setelah rangkaian serangan Houthi, sementara kelompok tersebut juga mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu dan Kementerian Pertahanan Saudi di Riyadh, meski klaim tersebut belum dikonfirmasi otoritas Saudi. Kekhawatiran pasokan diperkuat penghentian sebagian aliran minyak Libya, sehingga Brent naik ke sekitar $114/barel pada perdagangan waktu Asia hari ini.

• Trump menggunakan Defense Production Act untuk memperkuat kapasitas energi domestik AS. Pemerintah AS menetapkan produksi, pengilangan, dan logistik petroleum sebagai sektor penting bagi pertahanan nasional serta menyiapkan pendanaan hingga $150 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar. Kebijakan tersebut merupakan respons terhadap tingginya harga energi menjelang midterm elections, dengan harga bensin AS melampaui $4 per galon dan harga solar berada di atas $6. Namun demikian, peningkatan kapasitas refining diperkirakan lebih berdampak pada pasokan jangka menengah dibandingkan harga dalam waktu dekat.

• UST menguat tajam seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Yield UST 10 tahun turun sekitar 19 bps ke bawah 5%, yang merupakan penurunan harian terbesar sejak Maret 2023. Peningkatan permintaan aset safe haven tsb didorong oleh pelemahan saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap pendanaan investasi AI, kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Prancis, dan meningkatnya risiko pertumbuhan global akibat mahalnya harga energi. Pasar juga memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober menjadi sekitar 7% dibandingkan 27,7% sepekan sebelumnya, meski kenaikan pada Desember masih menjadi skenario utama.

• Wall Street dan bursa Asia melemah akibat aksi jual saham AI dan semikonduktor. Nasdaq turun 2,60% dan S&P 500 melemah 1,21% pada Kamis (22/10) malam, dengan penurunan tajam indeks semikonduktor sebesar 6,7% akibat kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan investasi AI. Tekanan sempat meluas ke Asia pada Jumat, namun sebagian indeks berhasil pulih menjelang penutupan, dengan Nikkei turun terbatas 0,3%, KOSPI naik 0,3%, dan CSI300 rebound 1,7%.

• Tekanan MSCI meluas dari saham ke SBN dan SRBI. Bank Indonesia pada Jumat mengonfirmasi bahwa tekanan outflow setelah pengumuman konsultasi MSCI tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga pada SBN dan SRBI, meskipun volatilitas Rupiah sejauh ini dinilai masih dapat dikelola. MSCI sebelumnya membuka konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027, terutama terkait transparansi kepemilikan dan investability. Perkembangan ini material karena menunjukkan bahwa isu MSCI telah berkembang dari risiko pasar saham menjadi potensi tekanan lintas aset terhadap Rupiah dan premi risiko SBN.

• Pertumbuhan likuiditas perekonomian meningkat pada September 2026. Bank Indonesia mencatat M2 tumbuh 8,3% YoY menjadi Rp10.587,9 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 sebesar 8,2%. Pertumbuhan M2 didukung antara lain peningkatan uang kuasi (+7,3%) dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat (+24,4%). Di sisi lain, penyaluran kredit tumbuh melambat menjadi 12,7% YoY dari 13,3% pada bulan sebelumnya.

• Survei Perbankan BI: penyaluran kredit baru diprakirakan meningkat pada Q4-2026. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru diprakirakan naik menjadi 91,31% dari 90,08% pada Q3-2026, sejalan dengan standar penyaluran kredit yang lebih longgar. Responden juga menaikkan proyeksi pertumbuhan outstanding kredit 2026 menjadi 8,20% YoY dari estimasi sebelumnya 7,51%, tetapi masih di bawah realisasi 2025 sebesar 9,69%.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP