Financial Market Update

IDR10 : 7,38% - 7,39% (cl: 7,39%)
IDR5: 7,18% - 7,21% (cl: 7,21%)
UST10: 5,04% - 5,11% (last: 5,04%)

IDR : 18.030 - 18.050 (cl: 18.050)
DXY : 101,46 - 101,77 (last: 101,76)
JCI : 5.185,53 - 5.422,59 (cl: 5.387,91)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +2bps to 7,21%
FR0108 (10yr) : 0bps to 7,39%
FR0106 (15yr) : -3bps to 7,36%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,40%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark ditutup bervariasi, dengan pergerakan yield dalam kisaran -3 bps hingga +2 bps. Pada awal perdagangan, yield tenor pendek turun paling tajam sekitar 4-5bps menjadi 7,04%, ditopang oleh turunnya yield UST dan keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan kemarin. Namun, penurunan yield SBN seri benchmark relatif terbatas dan tidak merata di sepanjang kurva, seiring kenaikan harga minyak dunia akibat kekhawatiran eskalasi geopolitik serta pelemahan Rupiah, meskipun yield UST 10 tahun turun ke 5,04% dari kisaran 5,11%–5,13% pada hari sebelumnya.

• Rupiah ditutup melemah 0,25% ke level 18.050 terhadap USD, dari sebelumnya 18.005, dan bertahan di atas level psikologis 18.000 untuk hari kedua. Rupiah bergerak di kisaran 18.030–18.050 dan ditutup pada level terlemahnya hari ini, meskipun DXY relatif stabil di 101,76. Pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh aksi jual bersih investor asing, kenaikan harga minyak dunia, serta laporan mengenai persiapan serangan militer AS dan Israel terhadap Iran. Selain itu, kekhawatiran terhadap usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI masih berlanjut. Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober.

• IHSG ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,91, melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut. Sepuluh sektor ditutup menguat, dipimpin sektor energi (+1,88%), transportasi (+1,64%), dan infrastruktur (+1,28%), sementara sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah (-0,66%). Sebanyak 467 saham naik, 204 saham turun, dan 123 saham stagnan, dengan nilai transaksi Rp15,74 triliun, lebih rendah dari Rp17,1 triliun pada hari sebelumnya. Kenaikan IHSG didorong oleh aksi beli investor terhadap saham-saham yang harganya telah terkoreksi tajam, di tengah langkah Danantara yang mulai mengakumulasi saham setelah koreksi IHSG akibat sentimen MSCI. Penguatan IHSG tersebut terjadi di tengah pelemahan sejumlah bursa Asia. Dengan penguatan hari ini, pelemahan IHSG sejak awal tahun menyempit menjadi sekitar 38,6%.

Point of Interest:

• Serangan di Arab Saudi mendorong harga minyak ke atas $110 per barel. Serangan drone terjadi di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam, meskipun operasi minyak dilaporkan tidak terganggu. AS turut memerintahkan pegawai non-esensial dan keluarganya meninggalkan misi diplomatik di Arab Saudi, sementara laporan mengenai potensi serangan lanjutan AS–Israel terhadap Iran pasca midterm elections menambah kekhawatiran pasar. Sentimen tersebut mendorong Brent naik ke kisaran $111-$112/barel (waktu Asia), seiring meningkatnya kembali premi risiko geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah.

• The Fed diperkirakan menahan suku bunga pekan depan, tetapi peluang kenaikan pada Desember tetap tinggi. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas 84% bahwa The Fed mempertahankan suku bunga pada FOMC meeting pekan depan, dengan peluang kenaikan pada Desember sebesar 90%. Pernyataan kebijakan akan diumumkan pada 28 Oktober, diikuti konferensi pers Fed Chairman Kevin Warsh. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan, meskipun timing-nya untuk saat ini bergeser menjadi ke FOMC Desember.

• Bursa Asia melemah tajam akibat penurunan saham teknologi dan semikonduktor, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI serta eskalasi geopolitik yang mendorong harga minyak naik. Kospi turun 3,52%, Hang Seng 3,03%, dan Nikkei 225 melemah 2,65%, dengan SK Hynix dan Samsung Electronics menjadi salah satu penekan utama. Sentimen risk-off turut diperkuat kenaikan harga Brent di atas $110/barel, sementara Bank of Korea mempertahankan suku bunga di 3,00% dan tetap membuka ruang pengetatan lanjutan.

• Harga UST menguat seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Meningkatnya penghindaran risiko mendorong kenaikan harga UST, dengan yield tenor 30 tahun turun 3 bps ke 5,38%. Sehari sebelumnya, Departemen Keuangan AS melelang obligasi tenor 20 tahun senilai $13 miliar dengan yield tertinggi 5,469% dan bid-to-cover 2,73 kali.

• Realisasi investasi KEK mencapai Rp46 triliun hingga September 2026. Pemerintah mencatat realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebesar Rp46 triliun pada Januari–September 2026, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 53.190 orang. Realisasi tersebut setara sekitar 67% dari target investasi KEK tahun 2026 sebesar Rp69,1 triliun. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan KEK merupakan instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

• Pemerintah menyiapkan Rp1,28 triliun untuk program satu orang satu rekening. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk membuka rekening bagi 25 juta warga, dengan setoran awal Rp50.000 per rekening. Program ini ditargetkan meningkatkan inklusi keuangan dari 93% menjadi 99%. Rekening tersebut direncanakan digunakan untuk penyaluran bantuan pemerintah mulai kuartal IV/2026, termasuk bantuan beras senilai Rp17,55 triliun bagi 33,2 juta keluarga dan bantuan subsidi upah Rp300.000 per bulan bagi 13,3 juta pekerja.

• Sumur gas Jangkrik North East-6 mulai beroperasi dan menambah pasokan gas nasional. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan operasional sumur gas Jangkrik North East-6 (JNE-6) dan fasilitas produksi Lapangan Maha South Hub di lepas pantai Kalimantan Timur. Kedua fasilitas tersebut diperkirakan menambah produksi gas sekitar 290 MMSCFD. Maha South Hub ditargetkan mengalirkan gas secara penuh pada akhir Oktober 2026. Pemerintah juga menargetkan produksi gas dari blok-blok baru di kawasan tersebut mencapai 3.000 MMSCFD pada 2028–2029.

• Fitch: Usulan reklasifikasi MSCI tidak berdampak langsung terhadap peringkat utang Indonesia. Fitch Ratings menilai usulan MSCI untuk menurunkan status Indonesia dari emerging market ke standalone market tidak akan berdampak material secara langsung terhadap profil kredit Indonesia. Fitch mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB (investment grade), tetapi telah merevisi outlook dari stabil menjadi negatif pada Maret 2026. Meskipun demikian, Fitch mengingatkan bahwa reklasifikasi tersebut dapat semakin membebani sentimen investor yang saat ini masih rapuh. Fitch juga menilai bahwa penurunan kepercayaan investor yang signifikan dapat menghambat arus masuk FDI dan berdampak negatif terhadap prospek pertumbuhan jangka menengah.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP