Financial Market Update

IDR10 : 7,18% - 7,22% (cl: 7,22%)
IDR5: 6,98% - 7,04% (cl: 7,03%)
UST10: 5,08% - 5,15% (last: 5,08%)

IDR : 17.935 - 17.956 (cl: 17.938)
DXY : 101,88 - 102,39 (last: 102,05)
JCI : 5.807,47 - 5.904,82 (cl: 5.863,78)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +5bps to 7,03%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,22%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,22%
FR0107 (20yr) : +5bps to 7,28%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark ditutup melemah dengan kenaikan yield sebesar 2-5 bps di seluruh tenor. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke 7,22%. Pelemahan SBN terutama dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakanThe Fed setelah data inflasi AS semalam yang lebih tinggi dari perkiraan. Menjelang penutupan pasar, sentimen pelemahan berlanjut di pasar SBN sejalan dengan tekanan jual pada IHSG dan pelemahan Rupiah.

• Rupiah ditutup melemah 0,21% ke level 17.938, dari sebelumnya 17.900, terutama disebabkan oleh kombinasi tekanan eksternal yang menekan pasar keuangan emerging markets. Tekanan utama berasal dari rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, yang kembali memunculkan kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan. Kondisi ini mendorong penguatan DXY dan memicu kenaikan yield UST 2 tahun ke level 4,90% (+12bps) overnight sehingga menekan aset lebih berisiko, termasuk Indonesia. Harga minyak yang masih tinggi di kisaran $104-$105/barel juga memberikan sentimen pelemahan lanjutan terhadap Rupiah.

• IHSG ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 sejalan dengan koreksi bursa saham Asia setelah rilis inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Tekanan lebih lanjut turut disebabkan oleh aksi jual saham teknologi dan AI di kawasan, serta pelemahan sejumlah saham big caps domestik, terutama BREN dan saham konglomerasi lainnya. Sementara dari domestik, sikap wait and see pelaku pasar menjelang hasil peninjauan MSCI (Nov'26) terhadap status pasar modal Indonesia masih membayangi pelemahan IHSG.

Point of Interest:

• Inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan Fed Funds Rate meningkat. CPI AS Sep'26 naik ke 3,7% YoY (konsensus 3,6%), dan inflasi inti naik ke 2,6% (konsensus 2,5%), terutama disebabkan kenaikan harga bensin 9,1%. Pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada FOMC Oktober. Namun peluang kenaikan suku bunga pada Desember naik cukup signifikan hingga mencapai sekitar 90%.

• Pejabat Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan pasca rilis inflasi AS yang menunjukkan persistensi tekanan inflasi. Mary Daly menilai pengetatan tambahan kemungkinan masih diperlukan meski tidak mendesak pada Oktober, sementara Austan Goolsbee menyoroti inflasi jasa yang masih tinggi dan risiko overheating dari ekspansi investasi AI. Kondisi tersebut menjaga ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi dan berpotensi mempertahankan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Rupiah dan SBN.

• Brent tetap berada di atas $100/barel seiring risiko pasokan energi kembali meningkat setelah serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz bertambah, di tengah perubahan taktik Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap pelayaran. Sementara aktivitas shipping melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal. Gangguan juga mulai memengaruhi pasokan urea dan sulfur untuk pupuk, sehingga memperbesar risiko tekanan harga energi dan pangan global.

• Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas Rupiah di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global. Menyusul rilis inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi, BI menyatakan terus melakukan intervensi melalui transaksi NDF di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah tersebut ditempuh untuk meredam volatilitas Rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah penguatan USD serta meningkatnya tekanan arus modal keluar dari negara berkembang.

• BI melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 mencapai $459,3 miliar (+5,6% YoY). Peningkatan terutama bersumber dari ULN pemerintah yang mencapai $220,9 miliar (+3,3% YoY) yang berkaitan dengan aliran masuk ke SBN, serta peningkatan ULN bank sentral dari kenaikan kepemilikan nonresiden di SRBI. Meski meningkat, struktur ULN Indonesia tetap dinilai terkendali, dengan rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,9% dan masih didominasi utang berjangka panjang. Bank Indonesia menilai struktur ULN tetap sehat dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

• Pemerintah memperkuat kerja sama pembiayaan pembangunan dan investasi dengan World Bank, IFC, dan JBIC di Bangkok. Menkeu Suahasil membahas terkait upaya menjaga kredibilitas fiskal melalui pendanaan jangka panjang untuk infrastruktur dan transisi energi. Langkah ini diarahkan untuk memperluas sumber pembiayaan dan mendorong investasi swasta, sekaligus mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pendanaan APBN dalam jangka menengah.

• Danantara bersama Kemenkeu, BI, OJK, dan BEI memperkuat komunikasi reformasi pasar keuangan dengan investor global, termasuk MSCI dan lembaga pemeringkat internasional. Fokusnya mencakup peningkatan transparansi dan tata kelola pasar modal, serta rencana demutualisasi BEI yang membuka peluang keterlibatan Danantara sebagai pemegang saham. Perkembangan tsb diharapkan dapat memperbaiki kepercayaan investor, meskipun efektivitas implementasi reformasi tetap menjadi perhatian menjelang evaluasi MSCI pada November 2026.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP