Financial Market Update
IDR10 : 7,15% - 7,21% (cl: 7,19%) IDR5: 6,96% - 6,99% (cl: 6,98%) UST10: 5,19% - 5,22% (last: 5,19%)
IDR : 17.885 - 17.925 (cl: 17.900) DXY : 102,08 - 102,24 (last: 102,24) JCI : 5.906,74 - 6.009,96 (cl: 5.943,02)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -1bps to 6,98% FR0108 (10yr) : +1bps to 7,19% FR0106 (15yr) : 0bps to 7,20% FR0107 (20yr) : +1bps to 7,23%
Market Recap:
• Pasar SBN ditutup bervariasi pada kisaran pergerakan yang cenderung terbatas sebesar 0-1 bps. Sentimen pasar obligasi secara umum relatif konstruktif, terutama pada tenor pendek seiring stabilisasi Rupiah dan melandainya yield UST ke sekitar 5,19% pada waktu Asia. Hasil lelang SUN kemarin yang cukup diminati turut memberikan dukungan stabilisasi lanjutan pada pasar SBN hari ini, meskipun secara terbatas. Sementara itu, pelaku pasar nampaknya masih enggan menambah durasi di tengah harga minyak yang masih bertahan di level tinggi sekitar $105-$107/barel serta antisipasi rilis data inflasi AS malam ini.
• Rupiah ditutup melemah tipis 0,02% ke level 17.900, dari sebelumnya 17.896. Pada awal perdagangan, Rupiah sempat tertekan ke 17.918 akibat eskalasi ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga minyak bertahan di level tinggi, serta sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi AS yang akan menentukan sinyal kebijakan moneter The Fed ke depan. Sementara itu dari domestik, sikap hati-hati pelaku pasar cenderung berlanjut seiring ketidakpastian terkait hasil peninjauan MSCI yang dijadwalkan rilis pada November 2026.
• IHSG ditutup menguat 0,29% ke level 5.943,02, atau rebound dari pelemahan tajam pada hari sebelumnya. IHSG sempat menembus 6.000 namun gagal bertahan di atas level psikologis tsb di tengah sentimen pelemahan bursa saham regional yang menahan penguatan lebih lanjut pada indeks saham domestik. Investor asing masih wait and see menjelang hasil peninjauan MSCI (Nov’26) terkait risiko penurunan klasifikasi Indonesia ke frontier market.
Point of Interest:
• Harga minyak naik ke sekitar $105-$107/barel seiring eskalasi konflik Timur Tengah. Kenaikan harga terjadi setelah milisi Houthi melancarkan serangan rudal yang mengenai gedung administrasi kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran serta adanya peningkatan ancaman proyektil terhadap kapal-kapal komersial di wilayah strategis Selat Hormuz.
• Persiapan Pertemuan Trump-Xi di APEC Shenzhen. Menkeu AS Bessent dikabarkan akan melewatkan pertemuan menteri keuangan APEC di Hong Kong untuk fokus mempersiapkan kunjungan Trump ke Shenzhen (18-19 Nov). Gencatan perdagangan AS-China yang sebelumnya telah diperpanjang hingga 10 Januari 2027 dinilai masih rapuh karena isu teknologi, keamanan, dan Taiwan yang belum terselesaikan.
• Dalam publikasi laporan WEO Oktober 2026 IMF merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,1% dari sebelumnya 5,0% dan mempertahankan asumsi pertumbuhan 5,1% pada 2027. Proyeksi tsb didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan investasi pada infrastruktur digital. Proyeksi inflasi Indonesia tahun 2026 juga direvisi naik ke 3,3% dari 3,0% akibat lonjakan harga energi dan pangan global, yang kemudian melandai ke 2,8% pada tahun 2027. Sementara itu, defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan melebar ke -1,6% terhadap PDB, dibandingkan proyeksi April defisit -1,1% terhadap PDB, seiring lonjakan impor migas di tengah masih tingginya harga minyak.
• Bank Indonesia melanjutkan stabilisasi Rupiah melalui transaksi DNDF jual melalui Dealer Utama sebesar $166 juta (tenor 1 bulan: $26 juta, tenor 3 bulan: $140 juta), serta menerima rollover DNDF tenor 1 bulan sebesar $60 juta. Operasi tersebut mencerminkan berlanjutnya penggunaan instrumen valas BI untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global.
• Survei Bloomberg terbaru menaikkan estimasi pertumbuhan Indonesia 2026 menjadi 5,2% dari 5,11%, dengan pertumbuhan Q4-2026 diperkirakan 4,9%. Dorongan pertumbuhan terutama berasal dari belanja pemerintah serta membaiknya indikator produksi dan perdagangan.
• Wakil Menkeu Juda Agung menyampaikan bahwa arus modal asing ke SBN dan SRBI secara kumulatif melampaui Rp200 triliun hingga awal Oktober 2026, meskipun pasar saham mengalami arus keluar modal asing. Dalam acara UOB Indonesia Economic Outlook 2027 tsb, Wamen Juda juga menekankan lebih lanjut bahwa perkembangan tersebut mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
• Menkeu Suahasil memperkuat komunikasi kredibilitas fiskal kepada investor internasional. Penegasan komitmen menjaga keberlanjutan fiskal dan mendorong investasi produktif Indonesia tersebut disampaikan Menkeu dalam Investor Meeting bersama Bank Indonesia dan Danantara melalui siaran pers yang diterbitkan pada 14 Oktober. Menkeu menekankan bahwa fundamental Indonesia tetap didukung oleh kredibilitas APBN, stabilitas makroekonomi, dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter.
• Wakil Menko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyampaikan empat prasyarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 dan menuju 8% dalam jangka menengah, yaitu peningkatan investasi yang melampaui pertumbuhan PDB, kenaikan produktivitas, penguatan ekspor bernilai tambah melalui efisiensi logistik, serta pengembangan ekonomi syariah. Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi sektor swasta dan pemerintah untuk mencapai target tersebut.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP